Sampeyan Muslim?: Perbedaan revisi

1.464 bita ditambahkan ,  8 tahun yang lalu
k (Robot: Perubahan kosmetika)
 
Memang, sesat ilmu dan pengetahuan bisa berbahaya, tapi akan lebih berbahaya bila manusia sesat akhlak. Seperti '''Lukman''' ([[Ida Bagus Oka]]) yang saat menjadi kaya tega mempekerjakan ibunya sendiri sebagai pembantu, hanya karena menuruti istrinya yang lebih kaya. Sekalipun sang ibu, Emak, ikhlas menerima perlakuan itu asalkan anaknya bahagia.
 
Bang Ma'ruf (Khairul), seorang yang kaya raya namun tidak pernah ikhlas menolong orang. Karena merasa uangnya didapat dari hasil jerih payahnya, Ma'ruf selalu ngomel setiap menolong orang. Makanya dia belum juga dapat jodoh, karena perempuan tidak kuat dengan mulutnya yang pedas.
Jejen (Jejen) beda lagi. Kerjaannya sehari-hari hanya menghitung dosa orang lain. Bagi Jejen, dosa dan pahala tidak ada bedanya selama anak dan istrinya (Rita Hamzah dan Tebe) bisa makan.
Dua pemuda bernama Ali dan Umar (Attar Syah dan Ferdiyan) yang menghabiskan waktu dengan nongkrong. Mereka yang awalnya musuh bebuyutan menjadi kompak setelah mendapat pelajaran agama Islam dari Bang Abu (David Chalik).
Bang Abu, mantan preman yang kini menjadi ustad disegani di desanya. Dia memiliki adik perempuan cantik bernama Sifa (Indah Permatasari) yang ditaksir oleh Hasan (Adly Fairus).
Hasan seorang mualaf yang diusir ayahnya karena masuk Islam. Hasan lalu tinggal di rumah kontrakan bersama Umar. Hasan sering minta diajari mengaji, meski Umar juga sebenarnya belum paham betul agama.
Ada lagi Ki Tejo (Willy Siung), senang bermain ilmu kebatinan tanpa didasari agama. Perkataannya sering menyesatkan warga sekitar.
Kalau Ki Kejo cenderung menganut ilmu sesat, maka Lukman (Ida Bagus Oka) sesat akhlak. Dia tega mempekerjakan ibu kandungnya layaknya pembantu karena dihasut istrinya yang lebih kaya. Meski Emak, ibu Lukman, tidak masalah diperlakukan begitu asal putranya bahagia.
 
Inilah fenomena kehidupan, kebahagian tidak bisa diukur dengan uang, dosa dan pahala tak lagi jelas bedanya. Seperti orang yang membuat gambar tato dengan dalih ‘nyeni’, tapi ada juga yang menganggap berdosa karena telah merusak kulit pemberian Allah. Ada yang bilang “Dosa enggak bejendol. Kalo bejendol, penuh tuh badan sama dosa!”. Sekarang kita yang harus menentukan dan jujur pada diri sendiri bila ada yang bertanya, '''“SAMPEYAN MUSLIM?”'''
Pengguna anonim