Buka menu utama

Perubahan

36 bita ditambahkan ,  7 tahun yang lalu
c.e.
Soedjatmoko dilahirkan dalam keluarga bangsawan di [[Kota Sawahlunto]], [[Sumatera Barat]], [[Hindia Belanda]]. Setelah menjalani pendidikan dasarnya di [[Belanda]] dan [[Manado]], [[Sulawesi Utara]], ia belajar ilmu kedokteran di Batavia (sekarang [[Jakarta]]). Selama di Batavia, Soedjatmoko melihat bahwa ada banyak kemiskinan; topik tersebut menjadi bidang penelitiannya di kemudian hari. Setelah dikeluarkan dari sekolah kedokteran oleh [[Sejarah Nusantara (1942–1945)|orang-orang Jepang]] pada tahun 1943 karena kegiatan politiknya, ia pindah ke [[Surakarta]] dan membuka praktik pengobatan bersama ayahnya. Pada tahun 1947, setelah [[Proklamasi Kemerdekaan Indonesia|kemerdekaan Indonesia]], Soedjatmoko dan dua pemuda lain dikirimkan ke [[Lake Success, New York]], Amerika Serikat, untuk mewakili Indonesia di [[Perserikatan Bangsa-Bangsa]] (PBB). Mereka berusaha agar kedaulatan Indonesia diakui secara internasional.
 
Setelah bekerja di PBB, Soedjatmoko mendapatkan kesempatan belajar di Littauer Center, di [[Harvard]]; namun, ia terpaksa mengundurkan diri karena kesibukannya dalam pekerjaan lain, yaitu menjadi ''chargé d'affaires'' Indonesia pertama di [[London]], [[Inggris]], selama tiga bulan dan mendirikan bagianseksi politik di Kedutaan Besar Indonesia di [[Washington, D.C.]] Pada tahun 1952 ia sudah kembali ke Indonesia. Ia bergabung dengan pers beraliran [[sosialis]] dan [[Partai Sosialis Indonesia]], lalu terpilih sebagai anggota [[Konstituante]] dan berdinas dari tahun 1955 hingga 1959. Pada tahun 1958 ia menikah dengan Ratmini Gandasubrata. Namun, karena pemerintahan Presiden [[Soekarno]] menjadi semakin otoriter, Soedjatmoko mulai mengkritik pemerintah. Untuk menghindari penyensoransensor pemerintah, Soedjatmoko bekerjapergi ke luar negeri danbekerja sebagai dosen tamu di [[Cornell University]] di [[Ithaca]], [[New York]], selama dua tahun; selama tiga tahun setelah itu iadia tidak bekerja, biarpun menetapsudah dikembali ke Indonesia.
 
Setelah gagalnya [[Gerakan 30 September]] dan Soekarno digantikan [[Soeharto]] sebagai presiden Indonesia, Soedjatmoko kembali bekerja untuk pemerintah. Pada tahun 1966 ia dikirim sebagai salah satu wakil Indonesia di PBB, dan pada tahun 1968 ia menjadi [[Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat]]; pada waktu yang sama ia mendapatkan beberapa gelar doktor ''[[honoris causa]]'' (honorer). Ia juga menjadi penasihat untuk menteri luar negeri [[Adam Malik]]. Setelah kembali ke Indonesia pada tahun 1971, Soedjatmoko menjadi anggota beberapa [[wadah pemikir]]. Saat terjadi [[peristiwa Malari]] pada Januari 1974, Soedjatmoko ditangkap dan diinterogasi selama dua minggu setengah karena disangka telah merencanakan protes itu. Biarpun ia dibebaskan, selama dua tahun setengah ia tidak dapat keluar negeri. Pada tahun 1978 Soedjatmoko menerima [[Ramon Magsaysay Award|Penghargaan Ramon Masaysay]] untuk Hubungan Internasional, dan pada tahun 1980 ia diangkat sebagai rektor [[Universitas Persatuan Bangsa-Bangsa]] di [[Tokyo]], [[Jepang]]. Dua tahun setelah kembali dari Jepang, Soedjatmoko meninggal akibat [[serangan jantung]] di [[Yogyakarta]].
2.156

suntingan