Parahyangan: Perbedaan revisi

13 bita ditambahkan ,  9 tahun yang lalu
Sepeninggal Sultan Agung ([[1645]]), Mataram dipimpin oleh anaknya, Sunan Amangkurat I (Sunan Tegalwangi, [[1645]]-[[1677]]). Antara tahun [[1656]]-[[1657]], wilayah '''Mataram Barat''' (Mancanegara Kilen) dibagi menjadi dua belas ''ajeg'' sekaligus menghapus wedana bupati di Priangan: Sumedang, Parakan Muncang, Bandung, Sukapura, Karawang, Imbanagara, Kawasen, Wirabaja (Galuh), Sekacé (Sindangkasih), Banyumas, Ayah (Dayeuhluhur), jeung Banjar (Panjer).
 
'''Referensi Lain Mengenai dipati Ukur'''
 
'''Dipati Ukur'''
 
Tanggal 12 Juli 1628, datang utusan Mataram ke Timbanganten (Tatar Ukur). Membawa surat tugas dari Sultan Agung, untuk memerintahkan Adipati Wangsanata atau disebut juga Wangsataruna alias Dipati Ukur, untuk memimpin pasukannya dan menyerbu VOC di Batavia membantu pasukan dari Jawa. Waktu itu bulan Oktober tahun 1628. Dalam surat tersebut ada semacam perjanjian bahwa pasukan Sunda harus menunggu Pasukan Jawa di Karawang sebelum nantinya bersama-sama menyerang Batavia. Tapi, setelah seminggu ditunggu ternyata pasukan dari Jawa tak juga kunjung datang sementara logistic makin menipis. Karena logistic yang kian menipis dan takut kalau mental prajurit keburu turun maka Dipati Ukur pun memutuskan untuk terlebih dahulu pergi ke Batavia menggempur VOC sambil menunggu bantuan pasukan dari Jawa.
Pengguna anonim