Pembantaian Westerling: Perbedaan revisi

2.516 bita dihapus ,  8 tahun yang lalu
Tag: menghilangkan bagian
{{Sejarah Indonesia}}
'''Pembantaian Westerling''' adalah sebutan untuk peristiwa pembunuhan ribuan rakyat sipil di [[Sulawesi Selatan]] yang dilakukan oleh pasukan Belanda [[Depot Speciale Troepen]] pimpinan [[Raymond Pierre Paul Westerling]]. Peristiwa ini terjadi pada bulan [[Desember]] [[1946]]-[[Februari]] [[1947]] selama operasi militer ''Counter Insurgency'' (penumpasan pemberontakan).
 
== Latar belakang ==
Sementara [[Perjanjian Linggarjati]] sedang berlangsung, di daerah-daerah di luar Jawa dan Sumatera, tetap terjadi perlawanan sengit dari rakyat setempat. Walaupun banyak pemimpin mereka ditangkap, dibuang dan bahkan dibunuh, perlawanan rakyat di Sulawesi Selatan tidak kunjung padam. Hampir setiap malam terjadi serangan dan penembakan terhadap pos-pos pertahanan tentara Belanda. Para pejabat Belanda sudah sangat kewalahan, karena tentara [[KNIL]] yang sejak bulan Juli menggantikan tentara Australia, tidak sanggup mengatasi gencarnya serangan-serangan pendukung Republik. Mereka menyampaikan kepada pimpinan militer Belanda di [[Daerah Khusus Ibukota Jakarta|Jakarta]], bahwa apabila perlawanan bersenjata pendukung Republik tidak dapat diatasi, mereka harus melepaskan Sulawesi Selatan.
 
Maka pada [[9 November]] [[1946]], [[Letnan Jenderal]] [[Simon Hendrik Spoor]] dan Kepala Stafnya, [[Mayor Jenderal]] [[Dirk Cornelis Buurman van Vreeden]] memanggil seluruh pimpinan pemerintahan Belanda di Sulawesi Selatan ke markas besar tentara di Jakarta. Diputuskan untuk mengirim pasukan khusus dari DST pimpinan [[Raymond Westerling]] untuk menghancurkan kekuatan bersenjata Republik serta mematahkan semangat rakyat yang mendukung Republik Indonesia. Westerling diberi kekuasaan penuh untuk melaksanakan tugasnya dan mengambil langkah-langkah yang dipandang perlu.
 
Pada tanggal [[15 November]] 1946, Letnan I Vermeulen memimpin rombongan yang terdiri dari 20 orang pasukan dari Depot Pasukan Khusus (DST) menuju [[Kota Makassar|Makassar]]. Sebelumnya, [[NEFIS]] telah mendirikan markasnya di Makassar. Pasukan khusus tersebut diperbantukan ke garnisun pasukan KNIL yang telah terbentuk sejak bulan [[Oktober]] 1945. Anggota DST segera memulai tugas intelnya untuk melacak keberadaan pimpinan perjuangan Republik serta para pendukung mereka.
 
Westerling sendiri baru tiba di Makassar pada tanggal [[5 Desember]] 1946, memimpin 120 orang Pasukan Khusus dari DST. Dia mendirikan markasnya di [[Mattoangin, Mariso, Makassar|Mattoangin]]. Di sini dia menyusun strategi untuk ''Counter Insurgency'' (penumpasan pemberontakan) dengan caranya sendiri, dan tidak berpegang pada ''Voorschrift voor de uitoefening van de Politiek-Politionele Taak van het Leger'' - VPTL (Pedoman Pelaksanaan bagi Tentara untuk Tugas di bidang Politik dan Polisional), di mana telah ada ketentuan mengenai tugas intelijen serta perlakuan terhadap penduduk dan tahanan. Suatu buku pedoman resmi untuk Counter Insurgency.
 
== Operasi militer ==
Pengguna anonim