Kekaisaran Seleukia: Perbedaan revisi

3 bita ditambahkan ,  7 tahun yang lalu
Namun demikian, menantu Mithridates yang ambisius, [[Tigranes Agung]], raja dari [[Kerajaan Armenia|Armenia]], melihat kesempatan untuk melakukan perluasan dalam untuk memperluas wilayahnya di tengah-tengah perang saudara yang berkelanjutan di selatan. Pada [[83 SM]], atas undangan dari salah satu pihak yang terlibat dalam perang saudara yang berkelanjutan itu, ia menyerang Suriah, dan segera menetapkan dirinya sebagai penguasa Suriah, dan praktis mengakhir kekuasaan Seleukia.
 
Namun demikian, kekuasaan Seleukia tidak sama sekali tamat. Setelah kemenangan jenderal Romawi [[Lucullus]] atas Mithridates dan Tigranes pada [[69 SM]], sisa-sisa kerajaan Seleukia dipulihkan di bawah [[Antiokhos XIII]]. Bahkan sekarang, perang saudara tidak dapat diceahdicegah, karena seorang penguasa Seleukia lainnya, Filipus II, memperebutkan kekuasaan dengan Antiokhus. Setelah penaklukan Romawi atas [[Pontus]], orang-orang Romawi menjadi semakin khawatirkuatir atas ketidakstabilan yang berkelanjutan di Suriah di bawah Dinasti Seleukid. Setelah Mithridates dikalahkan oleh [[Pompeius]] pada [[63 SM]], Pompeius berusaha menciptakan kembali wilayah Timur yang hellenis, dengan menciptakan kerajaan-kerajaan klien yang baru dan mendirikan provinsi-provinsi. Sementara negara-negara klien seperti [[Armenia]] dan [[Yudea]] dibiarkan tetap mempertahankan otonomi pada batas tertentu di bawah raja-raja setempat, Pompeius menganggap Dinasti Seleukid terlalu merepotkan untuk dibiarkan berlanjut. Sambil menyingkirkan kedua pangeran Seleukia yang merupakan lawannya, ia menajdikanmenjadikan [[Suriah]] sebagai sebuah provinsi Romawi.
 
== Para penguasa Seleukia ==
150.219

suntingan