Allah Bapa: Perbedaan revisi

8 bita dihapus ,  7 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Bagi orang Kristen, hubungan Allah Bapa dengan manusia adalah bagaikan seorang ayah dengan anak-anaknya. Jadi, orang-orang yang terpilih oleh kasih karunia Allah disebut sebagai ''anak-anak Allah'' (Bandingkan dengan 1Petrus2:9). Bagi orang Kristen, hubungan Allah Bapa dengan umat manusia adalah laksana hubungan antara Pencipta dengan ciptaan-Nya, dan dalam hubungan itu, Ia adalah Bapa dari semuanya. Dalam pengertian ini, Perjanjian Baru mengatakan bahwa gagasan tentang keluarga berasal dari Allah Bapa ([[Efesus]] 3:15). Jadi, hubungan Allah dengan anak-anakNya adalah panutan dan model untuk membina keluarga Kristen agar senantiasa bertumbuh di dalam iman perbuatan dan pengenalan takut akan Allah.
 
Namun demikian, orangOrang Kristen percaya bahwa mereka dijadikan partisipan di dalam hubungan yang kekal antara Bapa dan Anak, melalui Yesus Kristus. Orang Kristen menyebut diri mereka anak-anak Allah ''melalui pengangkatan'':
:''Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.'' (Galatia 4:4-7)
 
Bagi orang Kristen [[Trinitarianisme|trinitarian]] (yang selama berabad-abad merupakan mayoritas umat Kristen), Allah Bapa bukanlah Allah yan terpisah dari Sang Anak (dalam hal ini, [[Yesus]] adalah penjelmaan-Nya) dan dari [[Roh Kudus]], yang ketiganya merupakan Allah yang esa. Orang Kristen trinitarian menggambarkan ketiga pribadi ini sebagai [[Tritunggal]] atau [[Trinitas]]. Ini berarti mereka selalu hadir sebagai tiga "pribadi" (Yunani: ''hypostases'') yang berbeda, tetapi ketiganya adalah satu Allah, masing-masing mempunyai identitas yang penuh sebagai Allah sendiri ("substansi" yang esa), "kepribadian ilahi" dan kuasa yang esa, dan "kehendak ilahi" yang esa pula.
 
Namun sebagian orang Kristen lainnya ada yang menganut gagasan alternatif yang sangat berbeda. Sebagian kecil menggambarkan Sang Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus masing-masing sebagai Keberadaan yang berbeda, dan yang telah ada secara kekal ([[triteisme]]), atau sebagai "manifestasi" yang berbeda dari Keberadaan yang tunggal ([[modalisme]]). Sebagian orang mencetuskan teori bahwa hubungan antara Sang Bapa dan Sang Anak dimulai pada suatu titik yang mungkin berada di luar "sejarah" yang biasa ([[Arianisme]]). Yang lainnya percaya bahwa Allah menjadi Bapa ketika Ia mengucapkan Λογος ("logos" atau "firman")-Nya yang menciptakan. Logos atau firman ini adalah tatanan yang pertama dan makhluk yang dengan-Nya Allah membina hubungan sebagai Bapa (pandangan sebagian [[gnostisisme|gnostik]]). Yang lainnya menemukan hubungan yang kuat dengan gagasan [[paganisme|kafir]] tentang seorang penyelamat atau pahlawan yang dilahirkan oleh dewata, sebuah gagasan tentang Bapa yang mirip dengan [[Mithraisme]] atau penyembahan terhadap kaisar Romawi.
 
Bagi kebanyakan orang Kristen, pribadi Allah Bapa adalah yang paling tinggi, dan sesekali merupakan alamat doa yang eksklusif, yang seringkali diucapkan ''dalam nama'' Yesus Kristus. [[Doa Bapa Kami]], misalnya, dimulai dengan kata-kata, "Bapa kami yang ada di surga..."
 
Dalam Perjanjian Baru, Allah Bapa mempunyai peranan khusus dalam hubungannya dengan Sang Anak. Dalam hal ini Yesus diyakini sebagai Sang Anak dan warisnya (Ibrani 1:2-5). Menurut [[Pengakuan Iman Nicea]], Sang Anak (Yesus Kristus) "lahir dari Bapa sebelum segala abad". Hal ini menunjukkan bahwa hubungan Bapa-Anak mereka yang ''ilahi'' tidaklah terikat pada suatu peristiwa di dalam waktu atau sejarah manusia. ''Lihat'' [[Kristologi]].
 
Dalam teologi [[Ortodoks Timur]], Allah bapa adalah "sumber" dari Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Dalam teologi Barat, ketiga ''hupostasis'' (zat) atau ''persona'' ini mempunyai asal-usulnya di dalam hakikat keilahiannya. Para Bapa Kapadosia menggunakan pemahaman monarki Ortodoks Timur untuk menjelaskan mengapa trinitarianisme bukan suatu triteisme: "Allah itu esa karena Sang Bapa itu esa," kata [[Basil Agung]] pada abad keempat. Pada abad ke-8, [[Yohanes dari Damsyik]] menulis panjang lebar tentang peranan Allah Bapa:
64

suntingan