Puthut EA: Perbedaan revisi

3 bita ditambahkan ,  8 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Selain menulis cerita pendek dan novel, ia juga menulis naskah drama. Karya dramanya berjudul ''Orang-orang yang Bergegas'', dipentaskan di enam kota di Pulau Jawa dengan sutradara Landung Simatupang dan Puthut Buchori. Ia juga membuat prosalirik dengan judul ''Tanpa Tanda Seru'', yang dibacakan oleh Landung Simatupang dengan direktur artistik Ong Harry Wahyu, pembacaan karya tersebut dilakukan di [[Jakarta]]. Pada tahun [[2007]], sebuah naskah dramanya berjudul ''Jam Sembilan Kita Bertemu'' dipentaskan di Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta, oleh Teater Gardanalla dengan sutradara Joned Suryatmoko. Lewat tangan dingin Joned pula, satu naskahnya dipentaskan di gedung Societet Yogyakarta pada tanggal 6-7 Agustus 2008 dengan judul Deleilah: Tak Ingin Pulang dari Pesta. Pementasan karya tersebut atas dukungan sepenuhnya oleh panitia Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Beberapa naskah dramanya yang lain, dipentaskan secara mandiri oleh beberapa kelompok teater di berbagai tempat. Selain itu, Puthut juga pernah menulis naskah film pendek dengan judul Sinengker, yang diproduksi oleh Syarikat. Film ini telah diputar di berbagai forum di dalam dan di luar negeri.
 
===Karya-karya Puthut EATulis===
 
The Show Must Go On
Sarapan pagi penuh Dusta (2004)
 
'''====Kumpulan Cerpen'''====
Dua Tangisan pada Satu Malam (2005)
Kupu-kupu Bersayap Gelap (2006)
Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali (2009)
 
'''====Novel'''====
Cinta Tak Pernah Tepat Waktu (2009)
Bunda (2005) berdasarkan screen play Cristantra
Beli Cinta dalam Karung
 
'''====Naskah Drama'''====
Orang-orang yang Bergegas (2004)
Jam Sembilan Kita Bertemu (2009)
Deleilah Tak Ingin Pulang dari Pesta (2009)
 
'''====Prosa Liris'''====
Tanpa Tanda Seru
 
'''====Biografi'''====
Jejak Air (Biografi Politik Nani Zulminarni)
 
'''====Naskah Film'''====
Sinengker
 
 
Puthut menyediakan ruang sebesar-besarnya untuk ikut ambil bagian dalam kerja-kerja kemanusiaan sebagai sukarelawan, terutama untuk komunitas-komunitas kecil dan kelompok-kelompok masyarakat yang terpinggirkan secara ekonomi, politik, sosial dan budaya. Ia, sampai sekarang, masih tinggal di Yogyakarta.
 
 
== Pranala luar ==
48

suntingan