Akhudiat: Perbedaan revisi

329 bita dihapus ,  8 tahun yang lalu
menyunting data dan refrensi
(→‎Karya dan Proses Kreatif: -sunting data dan referensi)
(menyunting data dan refrensi)
}}
 
'''Akhudiat''', juga dikenal dengan nama '''Diat''' ({{lahirmati|[[Karanganyar, Rogojampi, Banyuwangi]], [[Jawa Timur]]|5|5|1946}}), adalah seorang [[penulis]] [[Indonesia]], terutama menulis drama atau naskah lakon/skenario, juga menulis cerita pendek, puisi dan, buku umum (non-fiksi).<ref name="akhudiat">{{id}} ''Antologi Drama Indonesia'' Jilid III. Amanah-Lontar, 2006, Jakarta. ISBN 979-99858-4-6</ref>Akhudiat juga menerjemahkan beberapa karya drama asing.<ref name="akhudiat3"/>
 
==Pendidikan dan Karir==
Drama Indonesia sampai tahun 1970an, biasa menggunakan panggung [[prosenium]], yakni konsep panggung yang mengangankan bingkai gambar dua dimensi yang tampak depan, samping, dan satu fokus utama, di mana gambar atau adegan itu meniru alam atau dunia di luar panggung, sehingga adegan di panggung dibuat dalam latar seperti suasana di dalam rumah dengan segala perlengkapan perabotannya, atau adegan hutan, jalan, pantai, taman, dengan layar scenery dan para pelaku duduk-duduk atau jejer wayang dalam melakoni nasibnya.<ref name="akhudiat3"/> Menurut Diat, panggung indah dan rapi yang sudah berlangsung sejak era Stamboel atau Opera Melayu, dan masih bisa dilihat turunannya pada panggung Srimulat, Ketoprak, atau Ludruk, tersebut kurang imajinatif, kurang “liar”, dan terlalu “diatur”.<ref name="akhudiat3"/> Menyikapi hal tersebut, bersama komunitas Bengkel Muda Surabaya, Akhudiat menawarkan panggung yang lain, yaitu “[[panggung kosong]]”.<ref name="akhudiat3"/>
 
Konsep panggung kosong tersebut adalah konsep yang menganggap dunia panggung sebagai dunia imajiner, make-believe, pura-pura, rekaan, mungkin tiruan alam luar panggung, mungkin juga tidak. Bisa berasal dari mana pun: gagasan sejarah, pengalaman, peristiwa sehari-hari, berita/artikel, mimpi, bahkan pure nothing, diraih dari angin. Maka muncullah di panggung, orang atau barang, baik sebagai pelaku/pelakon atau properti/alat bermain.<ref name="akhudiat3"/> Semuanya berubah, bergerak, berombak, berirama, berganti, bertukar, berkeliaran, bahkan berontak, menjadi lakon. Maka adegan-adegannya dominan out-door/exterior. Dengan konsep tersebut, drama bisa dimainkan di mana pun, baik di dalam gedung, taman, lapangan, halaman, pendapa, arena, atau di mana saja.<ref name="akhudiat3"/> Karena itu, beberapa lakon awal Akhudiat dijuluki “teater jalanan.”<ref name="akhudiat3"/>
 
Dengan pikiran “teater jalanan”, Diat mendapat gagasan ketika sering ketemu corat-coret (graffiti, tunggal: graffito) berupa tulisan atau cukilan di tembok, pohon, batu, bangku, gardu, halte, stasiun, terminal, tempat wisata, atau di mana pun, yang hanya berisi dua nama, pemuda dan pemudi yang sedang bercinta.<ref name="akhudiat3"/> Pesan singkat ini tentu mengandung kisah panjang di baliknya. Coretan atau “Grafito” kemudian dijadikan judul naskah dramanya.<ref name="akhudiat3"/> ''Grafito'' yang ditulis tahun 1972 ini berkisah tentang dua remaja, Ayesha dan Limbo, ketemu di jalanan. Keduanya adalah pemimpin geng yang terlibat dalam kisah love/hate, cinta/benci.<ref name="akhudiat3"/>
 
Grafito yang ditulis tahun 1972 ini berkisah tentang dua remaja, Ayesha dan Limbo, ketemu di jalanan. Keduanya adalah pemimpin geng yang terlibat dalam kisah love/hate, cinta/benci. Ini merupakan sebuah konflik. Untuk menambah derajat konflik lebih berbelit dan tegang, maka saya imbuhi: pemuda Limbo beragama Katolik, Ayesha seorang Muslimah. Dua geng bisa akur, kedua pemimpin bersetuju nikah, tapi Kyai dan Pastur tidak mau kompromi dan ambil resiko. Mereka cari-cari solusi: perkawinan teatrikal di tengah lapangan dengan ritus sesajen, mendatangkan Dewi Ratih dan Dewa Kamajaya dari Kerajaan Kayangan atau langit. Jadilah kemudian sebuah perkawinan teater. Dan ini merupakan sebuah parodi. Pada tahun 1973, puisinya berjudul Gerbong-gerbong Tua Pasar Senen, mendapat juara II Lomba Penulisan Puisi versi Dewan Kesenian Surabaya.
TulisanPada naskahtahun drama1973, lainnyapuisinya adalahberjudul ''Gerbong-gerbong Tua Pasar Senen'', mendapat juara II Lomba Penulisan Puisi versi Dewan Kesenian Surabaya.<ref name="akhudiat3"/> Karya dramanya, ''Jaka Tarub'' dan ''Rumah Tak Beratap'', yang memenangkan lomba naskah drama versi Dewan Kesenian Jakarta, tahun 1974.<ref Lantasname="akhudiat3"/> naskah drama yang ia tuliskan adalah Bui (1975) dan RE (1977).
Di samping menulis naskah drama, artikel, dan esai, Diat juga menulis puisi, cerpen, dan terjemahan apa saja dari bahasa Inggris. Karangan terjemahan Akhudiat adalah: Fred – Sherwood Anderson, yang kemudian diubah berjudul Kematian di dalam Hutan. Sumur-Agusto Cespedes, Model- Bernard Malamud, Apotek – Anton Chekov, Kisah Pohon Abu – Peter Handke, Benang Laba-laba – Ryanusuke Akutagawa, Pusat Teater Internasional Peter Brook, Raja Ubu – Alfred Jarry, Jalan Tembakau – Erskine Caldwell.
Terakhir Diat menerjemahkan drama absurd, “Drama tentang Drama” tulisan Samuel Beckett, yaitu Katastrof dari New Yorker, dengan sub-titel Untuk Vaclav Havel, Sastrawan, Presiden Ceko. Salah satu cerpen Diat berulang kali disiarkan adalah “New York Sesudah Tengah Malam”, pertama kali dimuat di Majalah Horison, Oktober 1984. Karya tersebut diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Dede Oetomo, dosen Unair Surabaya, dengan New York After Midninght, dan dijadikan judul buku kumpulan sebelas cerpen Indonesia dari 11 cerpenis, merujuk pengalaman tinggal di Amerika Serikat serta pandangan mereka tentang Amerika. Buku tersebut disunting oleh Satyagraha Hoerip (Oyik), diterbitkan Executive Committee, Festival of Indonesia, USA, 1990-1991. Diterjemahkan lagi oleh John H. McGlynn, New York After Midninght, dimasukkan dalam kumpulan puisi, cerpen, dan esai tentang New York setelah mengalami tragedi 11 September 2001. Disunting McGlynn, diterbitkan Lontar, Jakarta, 2001, tiga bulan sesudah tragedi. Terjemahan McGlynn ini dimuat oleh majalah Persimmon, Asian Literature, Art and Culture, Volume III, November 1, Spring 2002, diterbitkan Contemporary Asian Culture, New York. Cerpen New York After Midninght berkisah tentang tiga kota: Jember 1960, New Yok 1975, dan Surabaya 1983, lewat dia narator mengalami semacam dejavu, hadir di suatu tempat atau situasi pertama kali tapi terasa sudah pernah hadir atau mengalami sebelumnya.
333

suntingan