Akhudiat: Perbedaan revisi

127 bita ditambahkan ,  8 tahun yang lalu
→‎Karya dan Proses Kreatif: -sunting data dan referensi
(menyunting data dan refrensi)
(→‎Karya dan Proses Kreatif: -sunting data dan referensi)
Drama Indonesia sampai tahun 1970an, biasa menggunakan panggung [[prosenium]], yakni konsep panggung yang mengangankan bingkai gambar dua dimensi yang tampak depan, samping, dan satu fokus utama, di mana gambar atau adegan itu meniru alam atau dunia di luar panggung, sehingga adegan di panggung dibuat dalam latar seperti suasana di dalam rumah dengan segala perlengkapan perabotannya, atau adegan hutan, jalan, pantai, taman, dengan layar scenery dan para pelaku duduk-duduk atau jejer wayang dalam melakoni nasibnya.<ref name="akhudiat3"/> Menurut Diat, panggung indah dan rapi yang sudah berlangsung sejak era Stamboel atau Opera Melayu, dan masih bisa dilihat turunannya pada panggung Srimulat, Ketoprak, atau Ludruk, tersebut kurang imajinatif, kurang “liar”, dan terlalu “diatur”.<ref name="akhudiat3"/> Menyikapi hal tersebut, bersama komunitas Bengkel Muda Surabaya, Akhudiat menawarkan panggung yang lain, yaitu “[[panggung kosong]]”.<ref name="akhudiat3"/>
 
DuniaKonsep panggung kosong tersebut adalah konsep yang menganggap dunia panggung sebagai dunia imajiner, make-believe, pura-pura, rekaan, mungkin tiruan alam luar panggung, mungkin juga tidak. Bisa berasal dari mana pun: gagasan sejarah, pengalaman, peristiwa sehari-hari, berita/artikel, mimpi, bahkan pure nothing, diraih dari angin. Maka muncullah di panggung, orang atau barang, baik sebagai pelaku/pelakon atau properti/alat bermain. Semuanya berubah, bergerak, berombak, berirama, berganti, bertukar, berkeliaran, bahkan berontak, menjadi lakon. Maka adegan-adegannya dominan out-door/exterior. BeberapaDengan lakonkonsep awaltersebut, sayadrama julukibisa dengandimainkan “teaterdi jalanan.”mana Bisapun, mainbaik di dalam gedung, taman, lapangan, halaman, pendapa, arena, atau di mana saja. Karena itu, beberapa lakon awal Akhudiat dijuluki “teater jalanan.”
 
Dengan pikiran “teater jalanan” Diat mendapat gagasan ketika sering ketemu corat-coret (graffiti, tunggal: graffito) berupa tulisan atau cukilan di tembok, pohon, batu, bangku, gardu, halte, stasiun, terminal, tempat wisata, atau di mana pun, yang hanya berisi dua nama, pemuda dan pemudi yang sedang bercinta. Pesan singkat ini tentu mengandung kisah panjang di baliknya. Coretan atau “Grafito” kemudian dijadikan judul naskah dramanya.
Grafito yang ditulis tahun 1972 ini berkisah tentang dua remaja, Ayesha dan Limbo, ketemu di jalanan. Keduanya adalah pemimpin geng yang terlibat dalam kisah love/hate, cinta/benci. Ini merupakan sebuah konflik. Untuk menambah derajat konflik lebih berbelit dan tegang, maka saya imbuhi: pemuda Limbo beragama Katolik, Ayesha seorang Muslimah. Dua geng bisa akur, kedua pemimpin bersetuju nikah, tapi Kyai dan Pastur tidak mau kompromi dan ambil resiko. Mereka cari-cari solusi: perkawinan teatrikal di tengah lapangan dengan ritus sesajen, mendatangkan Dewi Ratih dan Dewa Kamajaya dari Kerajaan Kayangan atau langit. Jadilah kemudian sebuah perkawinan teater. Dan ini merupakan sebuah parodi. Pada tahun 1973, puisinya berjudul Gerbong-gerbong Tua Pasar Senen, mendapat juara II Lomba Penulisan Puisi versi Dewan Kesenian Surabaya.
 
Akhudiat menikah dengan Mulyani pada 4 November 1974, mempunyai 3 anak: Ayesha (lahir pada 1975), Andre Muhammad (lahir pada 1976), dan Yasmin Fitrida (lahir pada 1978). Bersama keluarganya, Akhudiat sekarang tinggal di Surabaya.
 
 
==Hasil karya==
333

suntingan