Buka menu utama

Perubahan

572 bita ditambahkan ,  7 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
== Kehidupan Awal ==
'''Teuku Nyak Arief''' dilahirkan di [[Ulee Lheue, Meuraksa, Banda Aceh|Ulèë Lheue]], [[Kutaraja]] (sekarang Banda
Aceh) pada tanggal [[17 Juli]] [[1899]]. Ayahnya adalah seorang [[Ulèë Balang]] bernama [[Teuku|Teuku Nyak Banta]],
ibunya bernama [[Cut|Cut Nyak Rayeuk]]. Kedudukan Teuku Nyak Banta adalah
sebagai '''[[Mukim (Aceh)|Panglima Sagi 26 Mukim]]''' wilayah [[Aceh Besar]]. Teuku Nyak Arief merupakan anak yang ke 3 dari 5 bersaudara, adapun saudara kandung Teuku Nyak Arief adalah sebagai berikut:
anak yang ke 3 dari 5 bersaudara, adapun saudara kandung Teuku Nyak Arief adalah sebagai berikut
::1. Cut Nyak Asmah.
::2. Cut Nyak Mariah.
::5. Teuku Mohd. Yusuf.
 
Teuku Nyak Arief bersekolah di Volksschool (Sekolah Rakyat) Kutaraja, beliau melanjutkan pendidikannya di Sekolah Raja [[Kweekschool]] di [[Bukit Tinggi]], dan kemudian Sekolah Pamongpraja [[OSVIA]] di [[Serang]] [[Banten]]. Sekolah ini khusus diadakan oleh [[Hindia-Belanda|Belanda]] untuk anak-anak [[Raja]] dan [[Bangsawan]] dari seluruh [[Indonesia]].
 
==Masa Pergerakan Nasional==
Teuku Nyak Arief dikenal sebagai [[orator]] ulung walaupun selalu berbicara seperlunya
saja. Sangat gemar membaca terutama yang menyangkut [[politik]] dan [[pemerintahan]] serta
mendalami [[pengetahuan Agama]]. Oleh sebab itu tidak mengherankan kalau dalam usia
muda Beliau telah giat dalam pergerakan.
 
Beliau diangkat menjadi ketua [[National Indische Partij]] cabang Kutaraja pada tahun [[1919]]. Setahun kemudian menggantikan Ayahnya sebagai [[Mukim (Aceh))|Panglima Sagi 26 Mukim]]. Kemudian di tahun [[1927]] Beliau diangkat menjadi anggota [[Parlemen|Dewan Rakyat]] [[Volksraad]] sampai dengan tahun [[1931]].
 
Teuku Nyak Arief merupakan salah seorang pendiri dan anggota dari '''Fraksi Nasional''' di Dewan Rakyat yang diketuai oleh [[Mohammad Husni Thamrin]]. Dalam berbagai kesempatan yang diperolehnya ini Beliau banyak memberikan sumbangan dalam bentuk perjuangan politik baik untuk kesejahteraan rakyat maupun kemerdekaan<ref>{{cite web
politik baik untuk kesejahteraan rakyat maupun kemerdekaan<ref>{{cite web
|title=Teuku Nyak Arif
|url=http://acehprov.go.id/images/stories/file/Pejuang/T%20Nyak%20Arief.pdf}}</ref>
 
Sejak tahun [[1932]] T. Nyak Arif memimpin gerakan dibawah tanah menentang penjajahan Belanda di Aceh.
 
Teuku Nyak Arif aktif dalam kegiatan-kegiatan peningkatan [[pendidikan]] di Aceh, beliau bersama [[Teuku Muhammad Hasan|Mr. Teuku Muhammad Hasan]] mendirikan [[Taman Siswa|Perguruan Taman Siswa]] di Kutaraja pada tanggal [[11 Juli]] [[1937]]. Dalam kepengurusan lembaga yang diprakarsai oleh [[Ki Hajar Dewantara]] ini, T. Nyak Arif menjadi sekretaris dengan ketuanya [[Teuku Muhammad Hasan|Mr. Teuku Muhammad Hasan]].
 
Bersama Mr. T.M Hasan, beliau juga ikut mempelopori berdirinya organisasi '''[[bea siswa|Atjehsche Studiefonds (Dana Pelajar Aceh)]]''' yang bertujuan untuk membantu anak-anak Aceh yang cerdas tetapi tidak mampu untuk sekolah.
 
Pada tahun [[1939]] berdiri Persatuan Ulama Aceh, disingkat PUSA yang diketuai oleh [[Daud Beureu'eh|Teungku Daud Beureu'eh]]. Pemuda-pemuda PUSA mengadakan hubungan dengan [[Jepang]] di [[Malaysia|Malaya]]
sejak [[1940]] sampai [[1942]]. Kemudian Jepang mempergunakan PUSA untuk melemahkan Belanda di Aceh dengan segala jalan. Teuku Nyak Arif prihatin melihat langkah-langkah PUSA dan menganggapnya sebagai suatu kemunduran bagi pergerakan nasional.
 
==Masa Pendudukan Jepang==
Diakhir kekuasaan pemerintahan [[Hindia-Belanda|Hindia Belanda]] di Aceh (awal tahun [[1942]]), Teuku Nyak Arif menuntut untuk diserahkan kekuasaan/ pemerintahan kepada Beliau, tetapi tidak dikabulkan oleh [[Residen|Residen Aceh]] J. Pauw, maka Nyak Arif pun memberontak kepada pemerintah Hindia Belanda. Kolonel Gosenson memerintahkan [[KNIL]]/[[Marsose]] untuk menyerang T. Nyak Arif, namun dapat dipukul mundur, walau dua kali berturut-turut kediamannya di [[Syiah Kuala, Banda Aceh|Lamnyong]] diserang dengan kekerasan. Peristiwa tersebut sekaligus menandai dimulainya penarikan Belanda dari [[Aceh Besar]].
Gosenson memerintahkan [[KNIL]]/[[Marsose]] untuk menyerang T. Nyak Arif, namun dapat dipukul mundur, walau dua kali berturut-turut kediaman Beliau di Lamnyong (Darussalam) diserang dengan kekerasan. Peristiwa tersebut sekaligus menandai dimulainya penarikan Belanda dari [[Aceh Besar]].
 
[[Jepang]] mendarat di Aceh pada tanggal [[12 Maret]] [[1942]] di Ujong Batee, [[Balohan|Teluk Balohan]] [[Pulau Weh]] dan [[Kuala Bugak, Peureulak, Aceh Timur|Kuala Bugak]] [[Peureulak]] [[Aceh Timur]], disambut oleh rakyat dengan semangat persaudaraan
sesuai dengan [[propaganda]] Jepang bahwa mereka datang ke Indonesia untuk membebaskan saudaranya-saudaranya dari cengkraman penjajahan Belanda.
 
Pada awal kehadiran Jepang di Aceh, rakyat beranggapan bahwa
juru selamat telah tiba. Namun tidak lama kemudian tindakan-tindakan berupa tekanan terhadap [[Organisasi politik|organisasi]] dan [[partai politik|partai-partai politik]] mulai
dilakukan. Akibatnya
organisasi seperti [[Muhammadiyah]], PUSA, [[Parindra]] mengalami kemunduran bahkan
[[Taman Siswa]] dibubarkan oleh [[Gunseibu]], hal ini mengurangi simpati rakyat terhadap
Jepang. Kebencian rakyat semakin bertambah setelah Jepang memeras tenaga rakyat
untuk kepentingan proyek mereka, seperti membuat [[jalan raya,]] [[Takengon]]-
[[Blangkejeren, Gayo Lues|Blangkeujeren]], [[Benteng|kubu pertahanan]] Gunung Setan. [[Lapangan Udara]] dan lain-lain. Akibatnya
rakyat tidak mempunyai waktu untuk mengurus kepentingan pribadi, sehingga keadaan
ekonomi[[Ekonomi#Manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi|sosial-ekonomi]] mereka sangat menyedihkan.
Kemerosotan yang dialami oleh [[Angkatan Laut Kekaisaran Jepang|tentara Jepang]] dalam [[Perang Pasifik|perang Asia Timur Raya]],
mendorong pemerintah pendudukan mendirikan '''Atjeh Shu Sangi Kai''' (Dewan
penasehat Daerah Aceh) pada tanggal [[17 November]] [[1943]] untuk menarik simpati para elit
dan berbagai macam kelompok di Aceh. Badan semacam [[legislatif]] ini
dipimpin Teuku Nyak Arief, beranggotakan 30 orang, anggotanya terdiri
diperluas oleh Shu Tjokan (Residen Aceh) S. Iinoo.
 
Sejalan dengan [[politik]] ingin mendekati rakyat dari berbagai golongan, maka pada
bulan [[Juli]] [[1945]] para pembesar Jepang menghubungi tokoh-tokoh pemuda yang ada di
Kutaraja. Dalam pertemuan itu pihak Jepang kembali menegaskan bahwa [[Dai Nippon]]
pasti akan memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. Oleh karena itu mereka
yang kuat di Aceh.
 
Pada tanggal [[14 Agustus[[ [[1945]] yang bertempat di Atjeh Bioscoop Kutaradja
diadakan rapat pemuda yang dihadiri juga oleh unsur masyarakat. Suatu hal yang
mengejutkan para pemuda, Syu Tjokan tidak hadir. Tidak diketahuinya Jepang telah [[Menyerahnya Jepang|menyerah kalah]] ditandai dengan tidak hadirnya Syu Tjokan pada rapat tersebut. Satu-satunya yang hadir dari
pihak Jepang adalah Matsyubushi yang mengucapkan pidato singkat tanpa bersemangat.
Sedangkan di pihak pemuda telah menyampaikan pidatonya dengan membakar
 
==Masa Kemerdekaan Indonesia==
Pada tanggal [[14 Agustus]] [[1945]] [[Menyerahnya Jepang|Jepang menyerah kepada sekutu tanpa syarat]].
[[Soekarno]] dan [[Hatta]] mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh Indonesia lainnya, untuk
mengadakan persiapan [[proklamasi kemerdekaan Indonesia]]. Sesuai
dengan rencana yang ditetapkan dan dipersiapkan dengan matang, maka pada tanggal
[[Proklamasi Kemerdekaan Indonesia|17 Agustus 1945]] di [[Jalan Pegangsaan Timur No. 56]] [[Jakarta]], tepatnya jam 10.00 pagi
diproklamasikanlah kemerdekaan Indonesia keseluruh pelosok tanah air<ref>[http://sejarahkita.blogspot.com/2006/08/sekitar-proklamasi-5.html Sekitar Proklamasi 5 oleh Rushdy Hoesein]</ref>. Namun berita
proklamasi ini terlambat beberapa hari diterima di Aceh<ref>[http://virtualaceh.com/artikel.php?artid=149&arttype=18 Berita Proklamasi Kemerdekaan di Aceh]</ref>.
tokoh-tokoh penting sesudah menerima berita tersebut. Dihadapan pemimpin-pemimpin
itu Teuku Nyak Arief menyatakan sumpah setia kepada [[Indonesia|Negara Republik Indonesia]].
dan dilakukanlah pengibaran [[Bendera Indonesia|Sang Merah Putih]] pada tanggal [[24 Agustus]] [[1945]] didepan Kantor Polisi Kepang
(Kantor Baperis sekarang) oleh para pegawai bangsa Indonesia.
 
Pada tanggal [[29 Agustus]] [[1945]] Teuku Nyak Arief diangkat menjadi [[Komite Nasional Indonesia Pusat|Ketua Komite
Nasional Indonesia (K.N.I) daerah Aceh]]. Untuk memikul biaya perang (perjuangan) yang
semakin berat maka Teuku Nyak Arief menjual harta benda pribadinya termasuk segala
[[perhiasan emas]] milik istrinya, demi kelancaran perjuangan untuk mempertahankan tanah
air Indonesia.
 
Pemerintah Indonesia pada tanggal [[3 Oktober]] [[1945]] dengan surat ketetapan No. 1/X dari [[Gubernur Sumatera]] [[Teuku Muhammad Hasan|Mr. Teuku Muhammad Hasan]] mengangkat Teuku Nyak Arief sebagai [[Gubernur Aceh|Residen Aceh]]. <ref>{{cite web
|title=http://indonesiaindonesia.com/f/4370-pahlawan-nasional-teuku-nyak-arif/
|url=http://indonesiaindonesia.com/f/4370-pahlawan-nasional-teuku-nyak-arif/}}</ref>
 
==Perang Cumbok==
Pada bulan [[Oktober]] [[1945]] utusan sekutu tiba di Kutaraja
yang bernama Mayor Knotienbelt untuk membicarakan pendaratan [[Sekutu]] di Aceh dalam
rangka melucuti senjata-senjata Jepang dan mengurus para tawanan perang. Residen
Teuku Nyak Arief menolak rencana sekutu ini.
Memasuki bulan [[Desember]] [[1945]] Residen Teuku Nyak Arief sering digantikan oleh
Tuanku Mahmud dan Teuku Panglima Polem Moh. Ali sebagai Wakil Residen. Hal ini
diakibatkan karena residen sering mengadakan perjalanan dan peninjauan ke daerahdaerahdaerah-daerah,
terutama di daerah yang kurang aman.
 
Desember 1945 terjadilah peristiwa '''perang Cumbok''' mengakibatkan perpecahan antara golongan bangsawan dan Ulama. Ulama ingin merebut tampuk pemerintahan dari golongan Ulee BalangUleebalang (bangsawan). Pada saat itu Teuku Nyak Arief merasa sedih ketika mendengar peritiwa tersebut, karena Beliau telah berusaha mempersatukannya sejak zaman Hindia Belanda dan Jepang, dan berhasil. Namun perpecahan tidak mungkin dielakkan.
 
Ulama dibawah PUSA dan [[Pesindo]] berhasil menguasai Aceh, dan membunuh banyak Ulee BalangUleebalang, dan mengambil alih harta dan tanah mereka.
 
Laskar Ulama (Mujahiddin) yang di dipimpin Husein Al Mujahid mempunyai ambisi untuk menggantikan residen Nyak Arif, dan mendapat dukungan dari TPR (Tentara Perlawanan Rakyat).
 
Teuku Nyak Arief di tangkap pada [[Januari]] [[1946]] oleh TPR. Penangkapan terhadap Teuku Nyak Arief dilakukan pada saat beliau dalam keadaan sakit. Teuku Nyak Arief membiarkan dirinya untuk ditawan oleh laskar mujahidinMujahidin dan tentara perlawanan rakyat(TPR), dan meminta pasukan yang menjaganya untuk tidak memberi perlawanan. <ref>{{cite web
|title=http://www.biografitokohdunia.com/2011/07/biografi-teuku-nyak-arief.html
|url=http://www.biografitokohdunia.com/2011/07/biografi-teuku-nyak-arief.html}}</ref>
==Mangkat==
Dalam keadaan sakit Teuku Nyak Arief masih memikirkan tawanan lainnya
dan keadaan rakyat Aceh pada umumnya. T. Nyak Arif meninggal pada tanggal [[4 Mei]] [[1946]] di [[Takengon]]. Beliau sempat berpesan kepada keluarganya: "''Jangan menaruh dendam, karena kepentingan rakyat harus diletakkan di atas segala-galanya.''".<ref>{{cite web
|title=http://meukeutop.blogspot.com/2011/05/teuku-nyak-arief.html
|url=http://meukeutop.blogspot.com/2011/05/teuku-nyak-arief.html}}</ref>
 
==Quotes==
"'''''Indonesia merdeka harus menjadi tujuan hidup kita bersama'''''". (Disampaikan pada pidato bulan Maret 1945, dimana Teuku Nyak Arif menjadi Wakil Ketua DPR Seluruh Sumatra).
<ref>{{cite web
|title=http://agribisnis.deptan.go.id/web/diperta-ntb/berita/pesan_pahlawan.htm
325

suntingan