Buka menu utama

Perubahan

394 bita ditambahkan ,  7 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
 
Teuku Nyak Arief menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Rakyat (Volksschool)
Kuta Raja (Banda Aceh)Kutaraja, beliau melanjutkan pendidikannya di sekolah Raja
[[Kweekschool]] di [[Bukit Tinggi]] dan kemudian pada pamongpraja [[OSVIA]] di [[Serang]]
[[Banten]]. Sekolah ini khusus diadakan oleh Belanda untuk anak-anak Raja dan
mendalami pengetahuan Agama. Oleh sebab itu tidak mengherankan kalau dalam usia
muda Beliau telah giat dalam pergerakan.
Beliau diangkat menjadi ketua [[National Indische Partij]]cabang Kutaraja pada tahun 1919. Setahun kemudian (1920) Beliau menggantikan Ayahnya sebagai panglimaPanglima sagiSagi 26 Mukim. Kemudian di tahun 1927 Beliau diangkat menjadi anggota Dewan Rakyat [[Volkraat]] sampai dengan tahun 1931.
 
Teuku Nyak Arief merupakan salah seorang pendiri dan anggota dari fraksi
Nasional di Dewan Rakyat yang diketuai oleh [[Mohammad Husni Thamrin]]. Dalam berbagai kesempatan
yang diperolehnya ini Beliau banyak memberikan sumbangan dalam bentuk perjuangan
politik baik untuk kesejahteraan rakyat maupun kemerdekaan.<ref>{{cite web
|title=Teuku Nyak Arif
|url=http://acehprov.go.id/images/stories/file/Pejuang/T%20Nyak%20Arief.pdf}}</ref>
 
Dalam menentang penjajahan Belanda di Aceh salah satu aksi yang pernah
dilakukannya adalah memimpin gerakan dibawah tanah (tahun 1932).
 
UntukTeuku meningkatkanNyak Arif aktif dalam kegiatan-kegiatan peningkatan pendidikan di Aceh, beliau bersama [[Teuku Muhammad Hasan|Mr. Teuku Muhammad Hasan]] mendirikan Perguruan [[Taman Siswa]] di Kutaraja pada tanggal 11 Juli 1937. Dalam kepengurusan lembaga yang diprakarsai oleh [[Ki Hajar Dewantara]] ini, T. Nyak Arif menjadi sekretaris dengan ketuanya [[Teuku Muhammad Hasan|Mr. Teuku Muhammad Hasan]].
 
Bersama Mr. T.M Hasan, beliau juga ikut mempelopori berdirinya organisasi '''Atjehsche Studiefonds (Dana Pelajar Aceh)''' yang bertujuan untuk membantu anak-anak Aceh yang cerdas tetapi tidak mampu untuk sekolah.
 
Pada tahun 1939 berdiri Persatuan Ulama Aceh, disingkat PUSA yang diketuai oleh Tengku Daud Beureuh. PemudapemudaPemuda-pemuda PUSA mengadakan hubungan dengan Jepang di Malaya
sejak 1940 sampai 1942. Kemudian Jepang mempergunakan PUSA untuk melemahkan Belanda di Aceh dengan segala jalan. Teuku Nyak Arif prihatin melihat langkah-langkah PUSA dan menganggapnya sebagai suatu kemunduran bagi pergerakan nasional.
 
Gosenson memerintahkan [[KNIL]]/[[Marsose]] untuk menyerang T. Yak Arif, namun dapat dipukul mundur, walau dua kali berturut-turut kediaman Beliau di Lamnyong (Darussalam) diserang dengan kekerasan. Peristiwa tersebut sekaligus menandai dimulainya penarik diri Belanda dari Aceh Besar.
 
[[Jepang]] mendarat di Aceh pada tanggal 12 Maret 1942 di Ujong Batee, Teluk Balohan ([[Pulau Weh)]] dan Kuala Bugak Peureulak [[Aceh Timur]], disambut oleh rakyat dengan semangat persaudaraan
sesuai dengan semboyan yang tiap malam yang didengungkan melalui pemancar radio
Jepang bahwa mereka datang ke Indonesia untuk membebaskan saudaranya-saudaranya
[[Taman Siswa]] dibubarkan oleh [[Gunseibu]], hal ini mengurangi simpati rakyat terhadap
Jepang. Kebencian rakyat semakin bertambah setelah Jepang memeras tenaga rakyat
untuk kepentingan proyek mereka, seperti membuat jalan raya, [[Takengon]]-
[[Blangkejeren, Gayo Lues|Blangkeujeren]], kubu pertahanan Gunung Setan. Lapangan Udara dan lain-lain. Akibatnya
rakyat tidak mempunyai waktu untuk mengurus kepentingan pribadi, sehingga keadaan
ekonomi sosial mereka sangat menyedihkan.
dengan rencana yang ditetapkan dan dipersiapkan dengan matang, maka pada tanggal
17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, tepatnya jam 10.00 pagi
diproklamasikan kemerdekaan Indonesia keseluruh pelosok tanah air<ref>[http://sejarahkita.blogspot.com/2006/08/sekitar-proklamasi-5.html Sekitar Proklamasi 5 oleh Rushdy Hoesein]</ref>. Namun berita
proklamasi ini terlambat beberapa hari diterima di Aceh<ref>[http://virtualaceh.com/artikel.php?artid=149&arttype=18 Berita Proklamasi Kemerdekaan di Aceh]</ref>.
 
Berita proklamasi kemudian diterima oleh pemuda Gazali dan Rajalis yang
 
==Perang Cumbok==
Pada bulan Oktober 1945 utusan sekutu tiba di Kutaraja (Banda Aceh sekarang)
yang bernama Mayor Knotienbelt untuk membicarakan pendaratan Sekutu di Aceh dalam
rangka melucuti senjata-senjata Jepang dan mengurus para tawanan perang. Residen
Desember 1945 terjadilah peristiwa '''perang Cumbok''' mengakibatkan perpecahan antara golongan bangsawan dan Ulama. Ulama ingin merebut tampuk pemerintahan dari golongan Ulee Balang (bangsawan). Pada saat itu Teuku Nyak Arief merasa sedih ketika mendengar peritiwa tersebut, karena Beliau telah berusaha mempersatukannya sejak zaman Hindia Belanda dan Jepang, dan berhasil. Namun perpecahan tidak mungkin dielakkan.
 
Ulama dibawah PUSA dan [[Pesindo]] berhasil menguasai Aceh, dan membunuh banyak Ulee Balang, dan mengambil alih harta dan tanah mereka.
 
Laskar Ulama (Mujahiddin) yang di dipimpin HusinHusein Al Mujahid mempunyai ambisi untuk menggantikan residen Nyak Arif, dan mendapat dukungan dari TPR (Tentara Perlawanan Rakyat).
 
Teuku Nyak Arief di tangkap pada Januari 1946 oleh TPR. Penangkapan terhadap Teuku Nyak Arief dilakukan pada saat beliau dalam keadaan sakit. Teuku Nyak Arief membiarkan dirinya untuk ditawan oleh laskar mujahidin dan tentara perlawanan rakyat(TPR), dan meminta pasukan yang menjaganya untuk tidak memberi perlawanan. <ref>{{cite web
325

suntingan