Antasari Azhar: Perbedaan revisi

46 bita ditambahkan ,  8 tahun yang lalu
Dalam menanggapi memori PK Antasari Azhar di PN Jaksel , Jaksa Penuntut Umum (JPU) Indra Hidayanto berpendapat bahwa 28 foto almarhum Nasrudin Zulkarnaen yang menurut Antasari tidak pernah diajukan, sudah disampaikan pada alat bukti surat sehingga bukan bukti baru atau novum.
 
=== Proses terjadinya kejahatan menurutyang dikutip dari putusan [[Mahkamah Agung]] No. 1429 K/Pid/2010===
 
Kisah pembunuhan [[Nasrudin Zulkarnaen]] tersebut berawal dari pertemuan saksi Rani Juliani dan Terdakwa pada sekitar bulan Mei 2008 di kamar 803 [[Hotel Grand Mahakam]] membicarakan keanggotaan (membership) Terdakwa di Modern Golf [[Tangerang]], saat akan pulang Terdakwa memberi saksi Rani Juliani uang sebesar US$ 300 (tiga ratus US dolar) dan memeluknya, serta mengajak bersetubuh, namun ajakan tersebut ditolaknya dengan mengatakan "lain kali aja pak", kemudian Terdakwa mencium pipi kiri dan pipi kanannya.
 
Pertemuan tersebut diceritakannya kepada korban yang kemudian meminta menemui Terdakwa lagi untuk meminta bantuannya agar korban dilantik sebagai Direktur di BUMN karena SK telah diterima. Setelah dihubungi Terdakwa bersedia bertemu di tempat yang sama di kamar nomor 803 Hotel Grand Mahakam Jakarta Selatan, selanjutnya bersama korban dengan menggunakan taxi saksi Rani Juliani menuju Hotel Grand Mahakam Jakarta Selatan, saat akan menuju kamar nomor 803 korban meminta agar mengaktifkan telepon selularnya (HP) supaya bisa mendengar pembicaraan.
Disela pembicaraan Terdakwa meminta saksi Rani Juliani untuk memijat punggungnya, saat sedang dipijat Terdakwa membalikkan tubuh lalu mencium pipi, bibir, membuka kancing baju dan menurunkan bra sebelah kirinya sambil berkata "katanya pertemuan selanjutnya kamu mau" . Ajakan tersebut ditolaknya dengan mengatakan "jangan pak, jangan", karena takut terdengar korban saksi Rani Juliani mematikan telepon selularnya.
 
Meskipun ditolak Terdakwa masih terus menjamah tubuh saksi Rani Juliani dengan meremas-remas dan menciumi serta menjilati payudara, kemudian Terdakwa membuka kancing dan resleting celananya lalu meminta saksi Rani Juliani memegangi kemaluannya sambil menggerakan tangan ke atas dan ke bawah (mengocok) hingga mengeluarkan [[sperma]] .
 
Pada saat Terdakwa ke kamar mandi, korban menelpon saksi Rani Juliani dan menanyakan "kenapa hp-nya dimatikan ?" namun ia hanya mengiyakan . Sebelum pulang Terdakwa memberinya uang sebesar US$ 500 (lima ratus US dolar) dan ketika akan keluar kamar tiba-tiba korban masuk dan marah sambil berkata kepada Terdakwa "Mengapa bapak bertemu dengan isteri saya di sini dan apa yang bapak lakukan terhadap isteri saya ?, saat ini saya bisa panggil wartawan untuk menghancurkan karir bapak" kemudian menampar pipi saksi Rani Juliani.
Karena keinginannya tidak dipenuhi, korban mengacam akan mempublikasikan perbuatan Terdakwa terhadap isterinya di kamar nomor 803 Hotel Grand Mahakam ke media dan akan mengadukan permasalahan tersebut kepada DPR.
 
Pada saat merayakan pergantian tahun baru 2009 di [[Bali]], isteri Terdakwa (saksi Ida Laksmiwati, SH.) menerima telepon dari seseorang yang mengatakan "suamimu tidur dengan perempuan lain, perempuannya ada di sampingku" kemudian terdengar suara perempuan, mengatakan "suamimu sudah ku tiduri”.
 
Atas ancaman dan terror tersebut Terdakwa merasa takut dan panik, lalu menduga orang yang meneror tersebut adalah korban, kemudian saksi Sigit Haryo Wibisono diminta membantunya mengatasi terror korban tersebut dengan cara mengamankan atau menghabisinya.
 
Awal bulan Januari 2009, Terdakwa bertemu dengan saksi Sigit Haryo Wibisono dan saksi Kombes Pol. Drs. H. Chairul Anwar, MH. di rumah saksi Sigit Wibisono Jalan Pati Unus No. 35 [[Kebayoran Baru]] Jakarta Selatan, membicarakan tentang terror yang dialami keluarga dan dirinya serta pemerasan yang dilakukan korban terhadapnya, kemudian memberitahukan permasalahan tersebut kepada Kapolri meminta perlindungan hukum atas dirinya selaku Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi beserta keluarganya.
 
Terhadap pemberitahuan dan permintaan tersebut Kapolri membentuk Tim yang diketuai Kombes Pol Drs. H. Chairul Anwar, MH. untuk melakukan tugas penyelidikan dan hasil penyelidikannya diberitahukan kepada Terdakwa, telah diperoleh foto korban, foto mobil yang biasa digunakannya, alamat rumah serta alamat kantor.
Sesuai kesepakatan Terdakwa memberikan foto korban, foto mobil, alamat rumah dan alamat kantor korban kepada saksi Kombes Drs. Wiliardi Wizar yang diserahkan oleh saksi Sigit Haryo Wibisono, yang sebelumnya diterima dari Tim yang dibentuk Kapolri yang diketuai Kombes Pol Drs. H. Chairul Anwar, MH.
 
Bahwa setelah menerima foto korban, foto mobil, alamat rumah dan kantor korban dari Terdakwa dan adanya janji dari Terdakwa yang akan membicarakan promosi pangkat dan jabatannya kepada Kapolri, serta janji saksi Sigit Haryo Wibisono memberikan dana operasional menghabisi korban, selanjutnya pada tanggal 1 Februari 2009 saksi Kombes Pol Drs. Wiliardi Wizar menghubungi dan mendatangi saksi Jerry Hermawan Lo di kantornya di [[Kedoya]] Raya Kav. 27 No. 13 Pesing Koneng Jakarta Barat
 
Pada pertemuan tersebut, saksi Kombes Pol Drs. Wiliardi Wizar menyerahkan 1 (satu) lembar kertas HVS yang ada di gambar foto seorang laki-Iaki yang di bawahnya bertuliskan nama korban Nasrudin Zulkarnaen Iskandar beserta alamat lengkap rumah dan kantornya dan 1 (satu) lembar kertas HVS bergambar mobil [[BMW]] warna Silver dengan plat nomor Polisi B 191 E, selanjutnya meminta bantuan saksi Jerry Hermawan Lo untuk mencarikan seseorang yang dapat menghabisi nyawa korban karena orang tersebut sangat berbahaya bagi Negara dan misi tersebut merupakan tugas Negara
 
Menyikapi permintaan tersebut pada malam itu juga saksi Jerry Hermawan Lo menghubungi dan meminta saksi Eduardus Noe Ndopo Mbete alias Edo untuk bersedia bertemu dengan saksi Kombes Pol Drs. Wiliardi Wizar serta datang ke rumahnya di komplek Perumahan Permata Buana Blok A7 No. 13 Kembangan Jakarta Barat, ketika bertemu saksi Jerry Hermawan Lo sambil memperlihatkan foto yang diterimanya dari saksi Kombes Pal Drs. Wiliardi Wizar menyampaikan ada tugas Negara dan sangat rahasia yaitu mengenalkan seseorang yang dapat menghabisi nyawa seorang laki-Iaki yang fotonya ada pada kertas HVS sambil menunjukkan foto yang diterimanya dari saksi Kombes Pol Drs. Wiliardi Wizar.
 
Setelah mengetahui bahwa korban telah meninggal dunia karena ditembak, saksi Sigit Haryono Wibisono menghubungi Terdakwa dan mengatakan "bagaimana nich pak, bisa runyam kita?" dan Terdakwa menjawab "tenang saja saya sudah koordinasikan" kemudian sekitar akhir bulan Maret 2009 saksi Kombes Pol Drs. Wiliardi Wizar datang ke rumah Terdakwa yang diantar saksi Setyo Wahyudi atas sepengetahuan saksi Sigit Haryono Wibisono untuk menanyakan perkembangan karier yang pernah dibicarakan sebelumnya.
Akibat penembakan yang dilakukan saksi Daniel Daen Sabon Alias Danil menyebabkan korban Nasrudin Zulkarnaen Iskandar meninggal dunia sebagaimana diterangkan dalam Visum Et Repertum Nomor : 1030/SK.II/03/2-2009 tanggal 30 Maret 2009 yang ditandatangani oleh Dr. [[Abdul Mun'im Idries]], SpF dokter pemerintah pada Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo yang pada kesimpulannya menerangkan : "Pada mayat laki-laki yang berumur sekitar empat puluh tahun ini didapatkan 2 (dua) buah luka tembak masuk pada sisi kepala sebelah kiri, kerusakan jaringan otak serta pendarahan dalam rongga tengkorak serta 2 (dua) butir anak peluru yang sudah tidak utuh"."Sebab matinya orang ini akibat tembakan senjata api yang masuk dari sisi sebelah kiri, berdasarkan sifat lukanya kedua luka tembak tersebut merupakan luka tembak jarak jauh, peluru pertama masuk dari arah belakang sisi kepala sebeleh kiri dan peluru yang kedua masuk dari arah depan sisi kepala sebelah kiri, diameter kedua anak peluru tersebut 9 (sembilan) millimeter dengan ulir ke kanan, hal tersebut sesuai dengan peluru yang ditembakan dari senjata api caliber 0,38 tipe S & W’.<ref>http://putusan.mahkamahagung.go.id/putusan/downloadpdf/bbbac49587db698159593dd634075625/zip</ref>
 
== Pranala luar ==
2.729

suntingan