Pulau Jeju: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
ZéroBot (bicara | kontrib)
k r2.7.1) (bot Menambah: uk:Провінція Чеджу
Cun Cun (bicara | kontrib)
kembangkan
Baris 7:
hanja=濟州特別自治道|
tahun=2004|
luas= 1 845,55|
penduduk=560 000|
kepadatan=|
Baris 14:
URL=http://www.cyber.jeju.go.kr/
}}
[[Berkas:halasan.jpg|thumb|left|225px|Danau krater di Pulau Jeju]]
Pulau '''Jeju''' atau '''Cheju''' (Hanja 濟州特別自治道, ''Jeju Teukbyeol Jachido''), adalah pulau yang terletak di ujung semenanjung [[Korea]] dan sangat dekat dengan [[Jepang]].
 
'''Pulau Jeju''' atau ('''Jeju-do dalam bahasa Korea,''') adalah satu-satunya[[pulau]] provinsi berotonomi khusus (''special self-governing province'')terbesar di [[Korea]] Selatan. Pulau Jejudan terletak di Selat Korea sebelah baratdayaselatan Provinsi[[Semenanjung Jeollanam-do,Korea]]. yangPulau dahulunyaJeju merupakanadalah satu-satunya provinsi yangberotonomi samakhusus sebelumKorea terpisah pada tahun 1946. Ibukota Jeju adalah Jeju CitySelatan.
 
Terletak di Selat Korea, sebelah barat daya Provinsi [[Jeolla Selatan]], yang dahulunya merupakan satu provinsi sebelum terbagi pada tahun 1946. Ibukota Jeju adalah [[Kota Jeju]] (Jeju-si).
Pulau Jeju adalah pulau wisata paling terkenal di Korea, bahkan orang Korea menyebut dengan istilah "[[Pulau Bali]]"-nya Korea. Di Pulau tersebut terdapat [[Gunung Halla]], yaitu gunung tertinggi di [[Korea Selatan]]. Pulau Jeju merupakan wilayah yang paling hangat dan pada musim dingin sangat jarang turun salju, sehingga tanaman-tanaman yang biasanya tumbuh di daerah subtropis bisa bertahan hidup.
 
Topografi Pulau Jeju adalahterbentuk pulausekitar wisata2 palingjuta terkenaltahun dilalu Korea,oleh bahkanaktivitas orang Korea menyebut dengan istilah "[[Pulau Balivulkanis]]"-nya Korea. Di Pulautengah-tengah tersebutpulau terdapatmuncul [[Hallasan (Gunung Halla]]), yaitu gunung tertinggi di [[seluruh Korea Selatan]](1.950 m). Pulau Jejuini merupakanbercuaca wilayahhangat yangsepanjang paling hangattahun dan pada musim dingin sangat jarang turun salju, sehingga tanaman-tanaman yang biasanya tumbuh di daerah subtropis bisa bertahan hidup.
[[Bahasa Korea]] dangan [[dialek]] (''saturi'') Jeju adalah bahasa yang sangat khas, yang hampir mirip dengan [[bahasa Jepang]]. Hal ini dikarenakan hubungan kebudayaan dan sejarah masa lalu yang erat antara kedua wilayah tersebut.
 
Pulau Jeju dijuluki ''Samdado'', "Pulau yang Berlimpah dengan Tiga Hal" yaitu, ''[[bebatuan]]'', ''[[wanita]]'' dan ''[[angin]]]''. Karena memiliki keindahan [[alam]] dan [[kebudayaan]] yang unik, Pulau Jeju adalah salah satu objek wisata paling terkenal di Korea. Dalam catatan sejarah, Jeju disebut dalam berbagai nama, mulai dari '''Doi''', '''Dongyeongju''', '''Juho''', '''Tammora''', '''Seomna''', '''Tangna''' atau '''Tamra'''.
 
Kota pelabuhan terdekat Jeju dengan daratan utama Korea adalah [[Mokpo]], propinsi Jeolla Selatan. Panjang garis pantai 253 km, luas keseluruhan 1.825 km². Suhu di Jeju dapat bervariasi, mulai dari tropis sampai subtriopis. Suhu rata-rata per tahunnya adalah 14,6° C dan 4,7° di [[musim dingin]]. Keanekaragaman [[flora]] yang tumbuh di Jeju sangat berbeda dengan yang ada di Semenanjung Korea. Karena iklimnya yang baik, pulau ini ditumbuhi lebih dari 1.700 jenis tanaman, sehingga Jeju dijuluki sebagai "Pulau Botani" karena kekayaan floranya.
 
Selama berabad-abad, penduduk Pulau Jeju dijuluki sebagai ''yukgoyeok'' ("enam jenis pekerja keras") yang merujuk kepada warga yang mengerjakan berbagai [[pekerjaan]] sulit dan berat untuk hidup, seperti mencari [[teripang]] dan [[kerang]] dengan cara menyelam ke dasar [[laut]], membangun pelabuhan, beternak, membuat kapal dan bertani. Seringkali mereka diperas demi membayar upeti kepada penguasa di ibukota. Bencana alam seperti kekeringan dan angin topan juga sering mengakibatkan gagal panen dan kelaparan yang memakan banyak korban jiwa.
 
Peristiwa paling kelam dalam sejarah rakyat Jeju adalah insiden berdarah pada periode pembentukan [[Republik Korea]] pada tahun 1948 sampai periode Perang [[Korea]] (1950-1953) dimana banyak warganya dibantai karena dianggap sebagai sarang pemberontak atau pengikut [[komunis]]. Karena mengalami kehidupan yang keras oleh tekanan penguasa, warga Jeju dikenal sebagai orang-orang yang tabah dan mampu bertahan dalam situasi yang sulit. {{Cquoate|Kebahagiaan itu kecil seperti butir pasir, sementara kesedihan itu sebesar batu karang}} adalah ungkapan rakyat Jeju untuk menyatakan tentang kehidupan mereka.
 
==Sejarah==
Menurut catatan sejarah Cina kuno, [[San Guo Zhi]], pada abad ke-3 Masehi, Pulau Jeju adalah sebuah kerajaan independen yang bernama ''Tamra''. Pada saat itu Tamra sudah menjalin hubungan dagang dengan [[Samhan|Tiga Negara Han]] di [[Semenanjung Korea]]. Dari abad ke-5 sampai 9, Tamra juga menjalin hubungan dagang dengan kerajaan [[Goguryeo]], [[Silla]], [[Dinasti Tang]] dan [[Jepang]]. Tahun 1105, Tamra diserap dalam teritori [[Dinasti Goryeo]] pada masa pemerintahan [[Gojong dari Goryeo|Raja Gojong]] (bertahta 1215-1259) dan namanya diganti menjadi Jeju ("daerah"). Dengan masuknya Jeju dalam teritori Goryeo, sumber daya alam Jeju diperas demi memberi upeti kepada istana sehingga beberapa kali rakyat Jeju melakukan pemberontakan. Pada tahun 1270, ''Tiga Polisi Elit'' ([[Sambyeolcho]]) dibantu oleh rakyat Jeju memberontak pada pemerintahan setempat dan penguasa [[Mongol]], namun berhasil dipatahkan.
 
Para penguasa Mongol memilih Jeju sebagai pangkalan untuk menyerbu ke [[Jepang]]. Di pulau ini mereka menternakkan kuda, membuat kapal perang dan mendirikan kuil Buddha bernama [[Beobhwasa]]. Pada periode [[Dinasti Joseon]] (1392-1910), kaum penguasa memandang Jeju sebagai daerah perbatasan. Rakyat di daratan utama umumnya menganggap Jeju sebagai tempat asing dimana narapidana dibuang atau diasingkan. Pada abad ke-17, [[Injo dari Joseon|Raja Injo]] bahkan membuat peraturan bahwa rakyat Jeju dilarang pergi ke daratan utama. Peraturan ini bertahan hampir 200 tahun sampai dihapuskannya di abad ke-19. Akibatnya, rakyat Jeju sangat terisolasi dari dunia luar.
 
Pada saat penjajahan Jepang, rakyat Jeju menderita kelaparan dan kemiskinan. Banyak di antara mereka pindah ke [[Osaka]] pada tahun 1923. Selama periode penjajahan, warga Jeju berpartisipasi dalam perlawanan terhadap kolonialisme. Perlawanan terbesar terjadi antara tahun 1931-1932 di desa-desa nelayan di [[Kecamatan Gujwa]] dan [[Kecamatan Seongsan|Seongsan]] oleh para penyelam wanita ([[haenyeo]]). Pergerakan ini adalah perlawanan terbesar yang pernah dilakukan oleh wanita di Korea. Namun gerakan ini tidak menemui hasil. Setelah penjajahan berakhir, Pulau Jeju berada di bawah pengawasan [[militer]] [[Amerika Serikat]]. Pada peringatan [[Pergerakan 1 Maret 1919]] tahun 1947, terjadi insiden berdarah yang disebabkan oleh penembakan polisi. Warga Jeju merespon insiden itu dengan mengadakan [[demonstrasi]] besar-besaran namun diredam oleh militer Amerika Serikat dengan penangkapan dan pembantaian.
 
Insiden ini memicu resistensi warga Jeju, terutama dari kaum [[pemuda]] yang mulai memberontak dan membangun pertahanan di kaki [[Gunung Halla]]. Kelompok ini menolak pembentukan [[Republik Korea]] yang dijadwalkan tanggal 10 Mei 1948. Pada tanggal 3 April 1948 mereka menyerang 11 pos polisi di seluruh pulau. Peristiwa ini menandai dimulainya [[Insiden Tiga April]] di Pulau Jeju. Setelah penyerangan tersebut, militer Amerika Serikat turun tangan dibantu tentara nasional dalam upaya pembersihan terhadap para pemberontak yang dianggap sebagai simpatisan komunis dengan cara membakar desa-desa di kawasan pegunungan. Upaya pembersihan berlanjut menjadi genosida mulai bulan Agustus 1948 sampai tahun 1949 yang membunuh ribuan orang.
 
==Objek wisata==
*[[Seongsan Ilchulbong]] atau ''Puncak Matahari Terbit'' adalah kawah [[gunung berapi]] yang memiliki luas 99.000 m² dan tinggi 182 m di sebelah timur Jeju.
*''Mokseokwon'' ("Taman Batu dan Kayu"), terletak 4 km di selatan [[Kota Jeju]] adalah [[taman]] yang memiliki kumpulan batu-batuan berbentuk unik dan akar-akar pohon tua yang sudah mati. Karena keunikannya, taman ini dijadikan sebagai monumen regional Jeju nomor 25.
*''Halla Arboretum'' (Kebon Raya Halla), tempat pelestarian sebanyak 506 jenis [[pohon]], 90 spesies [[herbal]]. Terletak di sebelah barat Puncak Namjosun, selatan Kota Jeju.
*''Jalan Tokkaebi''
*''Hutan Rekreasi Jeolmul'',
*''Manjanggul'' (Gua Manjang), gua yang terbentuk dari aktivitas gunung berapi. Terletak di Desa Donggimnyeong, Kecamatan Gujwa, [[Kabupaten Jeju Utara]], 30 km timur Kota Jeju. Dikenal akan stalaktit-stalaktit sepanjang 70 cm dan batu-batu dari lahar yang sudah membeku.
*''Seopjikoji''
*''Kebon Raya Yeomiji'', kebon raya terluas di Asia (12.210 m²). Mengkoleksi berbagai jenis tanaman [[anggrek]] tropis, dilengkapi dengan [[observatorium]], institut ekologi. Di luarnya terdapat replika taman-taman terkenal.
*''Gelanggang Pacuan Kuda Jeju'', didirikan oleh Asosiasi Pacuan Kuda Korea untuk mengembangkan olahraga [[berkuda]] di Jeju. Pacuan kuda diadakan seminggu sekali tiap hari Sabtu di tempat ini.
*''Gunung Sanbang'' (Sanbang-san), terletak di Kabupaten Jeju Selatan
*''Institut Seni Bonsai'' (Bunjae Artpia), terletak di Desa Jeoji, Kec. Hangyeong, Kab. Jeju Utara. Didirikan tahun 1992, adalah tempat pemeliharaan [[bonsai]] khas Korea.
*''Air Terjun Cheonjeyeon'', terletak sebelah barat kota [[Seogwipo]], Kab. Jeju Selatan. Terdiri dari tiga tingkat. Dilengkapi [[jembatan]] dan paviliun.
*''Air Terjun Jeongbang'', terletak 1,5 km di tenggara kota Seogwipo, salah satu dari 3 [[air terjun]] utama di Jeju. Air terjun Jeongbang langsung bermuara ke laut dan dianggap sebagai salah satu tempat yang pernah dikunjungi oleh ''Seo Bok'' ([[Xu Fu]];徐福), utusan Kaisar [[Qin Shi Huang]] (berkuasa 259 SM-210 SM) dalam perjalanan mencari [[obat panjang umur]]. Di dinding dekat air terjun terdapat ukiran yang bertuliskan "徐市過此" ("Seobul gwa cha") yang menandakan kunjungan Seobul.
*''Oedolgae'' atau "Batu Kesepian" adalah [[batu karang]] setinggi 20 meter yang menonjol di pantai selatan kota Seogwipo.
*''Taman Hallim'', di dalamnya termasuk Gua Hyeopjae dan Ssangyong. Taman Hallim dilengkapi dengan kebon raya dan fasilitas rekreasi.
*''Yongduam'', bermakna "Batu Kepala Naga", dikarenakan bentuknya mirip kepala naga yang muncul dari air laut. Terletak di wilayah Kota Jeju.
*''Kawah Sangumburi'', salah satu dari tiga kawah utama di Jeju. Kawasan yang menjadi tempat konservasi [[flora]], sebanyak 420 jenis spesies tanaman iklim subtropis, sedang dan alpen.
*''Chisatgae,'' kumpulan bebatuan yang membentuk persegi panjang di sepanjang pantai di Desa Daepo, antara Seogwipo dan [[Jungmun]].
*''Kampung Seongeup'', kampung tradisional yang mempertahankan gaya hidup khas rakyat Jeju. Terletak sebelah barat daya Seongsan, Jeju bagian timur.
 
==Kuliner==
Kuliner rakyat Jeju sangat berbeda dengan yang ada di daratan utama. Mereka banyak bekerja sebagai [[nelayan]] sehingga bahan makanannya kebanyakan adalah hasil dari laut. Orang Jeju gemar mengkonsumsi makanan segar seperti [[ikan]] mentah. Hasil utama lain adalah [[rumput laut]], [[teripang]] dan [[buah-buahan]]. Salah satu masakan Jeju yang paling terkenal adalah [[Jeonbokjuk]], bubur teripang.
 
== Provinsi kembar ==