Suku Batak Simalungun: Perbedaan revisi

27.728 bita ditambahkan ,  10 tahun yang lalu
←Membatalkan revisi 4646162 oleh 222.124.198.172 (Bicara)
(←Membatalkan revisi 4646145 oleh 222.124.198.172 (Bicara))
(←Membatalkan revisi 4646162 oleh 222.124.198.172 (Bicara))
# Toean Gurasa Dolok Sumurung / Bandar Sipolha , salah satu keturunannya Mayjen TNI (Purn) Pieter Damanik ( Mantan Dubes RI di Philipina ) , Ir Djagunung Damanik , Revol Damanik.
# Sipintu angin (tuan op.S.Saragih Turnip) merupakan orang tua dari Saragih Ras. Yang hingga kini tugunya (tugu hoda bottar)masih terlihat di Perbatasan Panatapan Ds.Tigaras
 
 
DENGAN KORT VERKLARING, 16 OKTOBER 1907, BELANDA MEMBAGI KERAJAAN SIANTAR MENJADI 37 PERBAPAAN dan tuan SAUADIM, DAMANIK KE XV, PERBAPAAN DARI BANDAR diangkat BELANDA MENJADI RAJA SIANTAR yang berakhir sampai tahun Revolusi Simalungun 1946.
 
 
3. SURAT IKRAR
# Si Djibang , Toean Van Dolok Malela
# Si Djandiain , Toean Van Silo Bajoe
# Si Lampot , Toean Van Djorlang HataranHoeloean
# Si Djanji-arim , Toean Van Maligas Bandar
# Si Djadi , Toean Van Sakuda
 
Partuanan-partuanan ini tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Belanda saat itu, di daerah dilakukan perlawanan perlawanan kecil secara bergerilya.
 
 
 
'''MENCOBA MEREKONSTRUKSI ASAL SUKU/KERAJAAN-KERAJAAN SIMALUNGUN'''
oleh Juandaha Raya Purba pada 11 Mei 2011 jam 13:43
 
http://www.facebook.com/notes/juandaha-raya-purba/mencoba-merekonstruksi-asal-sukukerajaan-kerajaan-simalungun/225401137476888
 
 
'''Asal-Usul Suku Simalungun yang “masih misteri”
'''
Simalungun adalah penduduk asli Sumatera Timur. Sudah sejak abad ke-5 suku Simalungun dikenal di Tiongkok. Berita Cina dari Dinasti Swi mencatat adanya kehidupan ekonomi barter antara orang Cina dengan penduduk kerajaan Nagur di sekitar muara sungai Bah Bolon di dekat Batubara sampai ke Pardangangan.
 
Dari manakah asal-usul orang Simalungun? Selama ini bahkan sejak masuknya guru-guru zending Batak Toba dari Tapanuli pada tahun 1903 (bahkan sejak 1899 di Haranggaol), suku Simalungun selalu identik dengan Samosir.
 
Sampai hari ini, buku-buku tarombo orang Batak Toba (bahkan yang ditulis orang asing pun) tidak ada yang tidak mencatat bahwa leluhur orang Simalungun berasal dari persebaran marga-marga atau orang Batak Toba dari Pulau Samosir dan daerah Humbang di Tapanuli. Adalah kenyataan yang menyedihkan orang Simalungun sampai hari ini, tidak ada satu lembaga (bahkan PMS sekalipun) yang mau menyelidiki dengan serius, darimanakah asal orang Simalungun itu sebenarnya. Paham di tengah-tengah masyarakat luas, khususnya di Pamatang Siantar sudah menjadi pandangan umum bahwa seluruh orang Simalungun (dari marga manapun) adalah berasal dari suku Batak Toba dari Pulau Samosir.
 
Tesis Djasamen Saragih tahun 1970 di Universitas Sydney Australia pun dengan tegas mengatakan bahwa pada awalnya orang Simalungun adalah orang Batak Toba yang bermigrasi ke daerah Simalungun sekarang ini.
 
Kenyataan di pesta-pesta adat pun membuktikan bahwa “sejatinya” orang Simalungun hanyalah “halak Batak Toba na maringanan di Tano Timur”, marga Saragih dari keturunan Raja Naiambaton di Samosir, marga Purba dari keturunan Toga Simamora di Humbang, marga Damanik dari keturunan Silau Raja dari Samosir dan marga Sinaga dari keturunan Toga Sinaga popparanni Si Raja Lottung di Samosir. Jadi tidaklah mengherankan, apabila sekarang ini sudah banyak orang asing yang tidak mengenal suku Simalungun, bagi mereka Parapat sampai ke Pematangsiantar adalah kampungnya orang Batak Toba.
 
Terkejutnya, saya membaca buku Pastor H. J. A Promes, Samosir: Silsilah Batak (Bina Media: Pematangsiantar, 1996), hal. 160 yang memetakan bahwa perbatasan daerah adat suku Simalungun adalah mulai dari Pematangsiantar sampai ke daerah Serdang Hulu. Itu berarti mulai dari perbatasan Pematangsiantar sampai ke Parapat adalah daerah adat suku Batak Toba. Dan seperti biasa, orang Simalungun tidak ada yang keberatan, “paturut malah hujin”.
 
Meskipun demikian, sebagai putera Simalungun yang lahir di Kecamatan Raya, basis utama suku Simalungun dan dari dialog yang sering saya lakukan dengan orang-orang tua di Kecamatan Raya, Silou Kahean, Dolog Silou dan Silimakuta, para orang-orang tua Simalungun ini sebagian ada yang membantah pandangan orang Batak Toba memposisikan suku Simalungun berketurunan dari suku Batak Toba. Walaupun, tentunya ada jua pandangan yang mendukung pendapat tradisional Batak Toba tersebut. Neuman seorang pendeta Belanda yang pernah bekerja di Tanah Karo dalam bukunnya Batak Karo Stammen menjelaskan bahwa marga Saragih di Simalungun berasal dari marga Ginting Seragih di Karo dan sebagian marga Seragih di Simalungun ada yang kembali ke Karo. Neumann juga mengatakan bahwa marga Simarmata dari Samosir adalah berketurunan dari Karo dari marga Garamata. Ini bertolak belakang dengan paham tarombo Toba. Sementara itu,Taralamsyah Saragih Garingging dalam bukunya Saragih Garingging (Medan, 1982) menjelaskan bahwa marga Saragih Garingging, Saragih Sumbayak adalah keturunan dari satu nenek moyang yang sama dari Tanah Karo. Garingging kemudian pecah menjadi Saragih Dasalak yang menjadi raja di Padang Tebingtinggi. Saragih Sumbayak menggaku datang dari Siam di negeri Thailand sekarang ini dan menjadi anakboru raja Nagur setiba di Sumatera sekitar abad ke IX, Sumbayak dikenal "anak tongah maharga" di istana raja Nagur. Dalam perkembangannya, Sumbayak terdiri dari subklan: Rumah Tongah, Parhuluan dan Pamajuhi dengan masing-masing keturunannya, seperti Pardalan Tapian. Dajawak sendiri menurut penyandang marga Dajawak berasal dari marga Sijabat dari Samosir. Inilah marga Saragih Simalungun dalam karya Tideman dan Ypes. Kemudian ada marga dari Samosir yang mengaku Saragih di Simalungun karena ketentuan adat yang mewajibkannya di Simalungun pada zaman raja-raja berkuasa di Simalungun, marga ini jelas diketahui dari lokasi leluhurnya di Samosir di belakang marga itu, misalnya: Saragih Simarmata, Saragih Sidabukke, dan lain-lain.
 
Dari dusun terpencil di Kecamatan Raya, kampung penulis sendiri, seorang tua yang berumur 95 tahun Oppung Dading Purba Dasuha menjelaskan bahwa marga Purba di Simalungun pada awalnya menetap di tanah Gayo-Alas (NAD) yang berasal dari Siam (Thailand) dan kemudian pindah ke daerah Silou Buttu dan Purba sekarang ini. Kisah yang didengarnya dari leluhurnya, bahwa marga Purba di Simalungun pada awalnya Purba Tambak saja, kemudian muncul perpecahan dari marga Purba Tambak dan muncul marga Purba Sidasuha, Sigumonrong, Sidagambir, Sidadolog, Tondang, Tambunsaribu, Silangit, Tanjung, Siboro dan Girsang (belakangan ini, Girsang tidak mengaku dirinya lagi Purba). Walaupun dalam kenyataanya hanya subklan Purba: Tambak, Sidasuha, Sidadolog dan Sidagambir yang satu kata mengaku mereka datang dari Kerajaan Silou dari nenek moyang Purba Tambak. Sastra lisan ini ada yang menerima dan mengakuinya, tetapi tidak sedikit pula yang menolaknya dengan orientasi ke Tarombo Toba.
 
Marga Purba Tambak keturunan langsung Raja Silou yaitu: Tambak, Sidasuha, Sidadolog dan Sidagambir sepakat menolak klaim asal-usul versi Toba bahkan membentuk perkumpulan marga tersendiri yang dinamakan Hasadaon Purba Tamsidalogam (Tambak, Sidasuha, Sidadolog dan Sidagambir).
 
Sebaliknya ada data yang jelas merujuk ke asal-usul orientasi ke Tarombo Toba dari zaman yang lebih tua, tetapi belakangan ditolak oleh generasi sesudahnya. Misalnya Saragih Garingging yang menurut beberapa dokumen berketurunan dari Simanindo di Samosir tetapi ditolak oleh marga Garingging ratusan tahun sesudah dokumen itu diterbitkan. Di Tanah Jawa ada pendapat mengaitkan Saragih Dasalak dengan marga keturunan Raja Naiambaton dari Samosir yang tentu saja ada yang setuju dan tidak sedikit pula yang menolaknya.
 
Adapun marga Damanik ditegaskan tokoh marga Damanik, Mr Tuan Djariaman Damanik (raja Sidamanik terakhir) adalah berasal dari keturunan Raja Nagur Damanik dari India Selatan. Di India masih terdapat kota Nagpur atau Nagore yang merupkan kerajaan asal leluhur Damanik yang mendirikan Kerajaan Nagur. Penelusuran saya di internet, ternyata marga Damanik yang ada sekarang ini adalah keturunan dari tiga putera raja Nagur yang berpencar dari Pardangangan karena kalah perang dengan raja Rajendra Chola Dewa dari India Selatan pada abad XI. Masing-masing putera raja itu bernama Tuan Marah Silu Damanik yang menurunkan raja Siantar, tuan sipolha, tuan Bandar dan tuan Sidamanik dari marga Damanik (Bariba), putera kedua Tuan Sorotilu yang menurunkan marga Damanik (Nagur/Rappogos, Hajangan, Usang, Bayu, Rih, Sola, Simaringga) dan ketiga Tuan Timoraya Damanik yang menurunkan marga Damanik (Tomok) yang mendiami kampung Tambun Raya, Manik Saribu, Sihilon dan sebagian di Sipolha. Ensiklopedi Indonesia mencatat dari empat marga Simalungun, hanya marga Damanik marga yang tidak punya cabang marga. Djariaman Damanik mengatakan kepada penulis, bahwa marga Damanik hanya satu kesatuan yang utuh yang diikat oleh bulawanni Damanik: “Naso bulih marsipaetek-etekan namarsanina”. Itulah sebabnya kata beliau keturunan Raja Nagur Damanik hanya mencantumkan “Damanik” saja di belakang namanya.
 
Marga Sinaga menurut St. Gindo Hilton Sinaga di Tigadolok yang asalnya dari kampung Girsang di Kec. Girsang Sipangan Bolon adalah asli marga Simalungun. Dari Girsang menyebar ke Jorlang Hataran, kemudian ke Pamatang Tanah Jawa dan muncul Kerajaan Tanoh Jawa setelah Tuan Muharaja Sinaga menang adu “bija” (bersumpah) dengan Tuan Raya Si Tonggang Sinaga penguasa Kerajaan Si Tonggang (oleh orang Batak Toba diplesetkan menjadi “Si Tanggang”). Dari Tanah Jawa ke Bosar Maligas sampai ke daerah Tanjung Balai di Asahan. Di Girsang marga Sinaga ini terdiri dari marga Sinaga Sidasuhut, Sidahapittu, Simaibang, Simanjorang dan Simandalahi yang keturunannya kemudian ada yang pergi ke Urat di Samosir, dari Urat menyeberang ke Tigaras.
 
Namun tidak dapat diabaikan juga fakta bahwa di tengah-tengah masyarakat Simalungun sekarang ini (apalagi GKPS) keadaannya sudah sangat majemuk dan beragam asal-usul. Kita tidak dapat menginkari kenyataan bahwa sekarang ini ada banyak marga orang Samosir yang mengaku dirinya marga Simalungun. Di antaranya kita temukan marga-marga dari Samosir seperti: Simarmata, Sidabukke, Siallagan, Simanihuruk, Sidauruk, Sitanggang, Turnip, Sitio yang berketurunan dari Si Raja Naiambaton. Ada juga Malau, Gurning, Ambarita, Manik yang berasal dari Si Lau Raja dari Samosir. Ada juga marga Simamora, Manorsa yang berasal dari Samosir. Kemudian Sinaga Bonor, Oppu Ratus, Uruk yang berasal dari Urat Samosir. Dari Tanah Karo ada marga Ginting, Sembiring, Perangin-angin dan Tarigan. Dari Silalahi Nabolak terdapat marga Silalahi, Rumasingap, Sihaloho, Sidebang, Pittu Batu, Sipayung, Situkkir dan Sinurat. Meskipun ada juga tokoh marga Sipayung yang membantah marga Sipayung berasal dari Silalahi. Evangelis Josep Sipayung kepada penulis mengatakan bahwa Sipayung berasal dari Cipayung di Jawa Barat (DKI Jakarta sekarang) yang datang ke Simalungun mendampingi puteri raja Jawa yang akan dijadikan permaisuri raja Nagur di Simalungun. Beliau mengatakan bahwa marga Sipayung pernah punya kerajaan Raja Payung di dekat Saran Padang Kec. Dolog Silou.
 
Dari paparan di atas, kita melihat bahwa susunan masyarakat Simalungun sekarang ini tidak semata-mata terdiri dari empat marga saja (SISADAPUR) tetapi sudah mencakup juga marga-marga lain yang tidak termasuk di dalamnya. Mengingat keadaan masyarakat Simalungun yang sangat majemuk ini, Seminar Kebudayaan Simalungun Indonesia Pertama di Pamatang Siantar tahun 1964 memutuskan dalam salah satu keputusannya bahwa yang disebut marga Simalungun ialah mereka yang merasa dirinya Simalungun dan melakukan kebudayaan Simalungun sebagai kebiasaan hidupnya dengan marga-marga yang terbanyak adalah marga Purba, Damanik, Saragih dan Sinaga.
 
 
'''Kerajaan-kerajaan Simalungun'''
 
 
Di antara suku-suku Batak lain (Toba, Karo, Mandailing-Angkola dan Pakpak) para ahli sepakat hanya suku Simalungun yang mengalami penyimpangan tatanan sosial, di mana Simalungun diatur menurut pola kerajaan, sedangkan Batak lainnya lebih bersifat kolektif dan demokratis. Penyimpangan pola ini menurut Prof. Payung Bangun berasal dari pengaruh budaya India dan feodalisme Jawa yang pernah bersinggungan budaya dengan suku Simalungun. Pada mulanya hanya satu kerajaan tunggal yang bernama Kerajaan Nagur dari dinasti Damanik. Abad ke 14 Nagur pecah menjadi empat kerajaan yaitu Kerajaan Siantar dari dinasti Damanik, Kerajaan Tanoh Jawa dari dinasti Sinaga, Kerajaan Dolog Silou dari dinasti Purba Tambak dan Kerajaan Panei dari dinasti Purba Dasuha (pecahan dari Purba Tambak). Adapun Nagur sendiri rontok dan menyisakan daerah kekuasaannya di daerah yang relatif kecil di Nagur Raja (Serdang Bedagai sekarang).
 
 
Meskipun Nagur runtuh, tetapi pengaruhnya masih besar di tengah-tengah Raja Maroppat, karena dinastinya masih diteruskan di Kerajaan Siantar. Adat puang bolon di kerajaan Raja Maroppat mengikat Simalungun tetap satu, walau dalam empat teritori kerajaan yang berbeda dinasti. Tidak ada pewaris yang diakui sah apabila bukan terlahir dari puang bolon (permaisuri) yang sudah diwariskan turun-temurun. Adat puang bolon ini terbukti ampuh merekat kesatuan etnik Simalungun sampai sekarang ini. Raja Siantar dinasti Damanik harus menjemput permaisuri (puang bolon) dari panakboru tuan Silampuyang atau tuan Sipoldas dari marga Saragih Sidauruk. Raja Panei dinasti Purba Dasuha dari panakboru Raja Siantar dari dinasti Damanik. Raja Dolog Silou dinasti Purba Tambak dari panakboru Nagur (kemudian beralih ke Raya bou Saragih Garingging). Raja Tanoh Jawa dinasti Sinaga dari panakboru Siantar dari dinasti Damanik.
 
 
Berikut ini kronologi perkembangan kerajaan-kerajaan di Simalungun
 
'''A. Fase Pertama: Proto Simalungun (500-1400)'''
 
1. Nagur dinasti Damanik.
 
2. Batangiou dinasti Sinaga.
 
 
'''B. Fase Kedua: Pengaruh Aceh (1400-1907)'''
 
1. Silou kemudian menjadi Dolog Silou dari klan Purba Tambak
 
2. Si Tonggang (Jumorlang) kemudian menjadi Siantar dari klan Damanik Bariba
 
3. Batangiou kemudian menjadi Tanoh Jawa dari klan Sinaga Dadihoyong
 
4. Panei dari klan Purba Dasuha (pecahan dari Silou)
 
 
'''C. Fase Ketiga: Kolonialisme Belanda (1907-1946)'''
 
1. Dolog Silou klan Purba Tambak Lombang (keturunan Panglima Indrawarman dari Damasraya).
 
2. Panei klan Purba Dasuha pecahan dari Kerajaan Silou.
 
3. Siantar klan Damanik Bariba sisa Kerajaan Nagur (dari Nagpur India) yang menggantikan Kerajaan Jumorlang (Si Tonggang) klan Damanik Bah Bolag (India).
 
4. Tanoh Jawa klan Sinaga Dadihoyong keturunan Panglima Bungkuk dari Kerajaan Sriwijaya (Saribujawa?) menggantikan Batangiou (Raja Si Tonggang) leluhur marga Sinaga yang sudah lebih dahulu ada di Simalungun.
 
5. Purba klan Purba Pakpak pendatang dari Tipang Bakkara (Simamora Purba?) mengalahkan Tuan Simalobong Purba Dasuha, vazal Panei.
 
6. Raya klan Saragih Garinging pendatang dari Simanindo (Munthe Tua?) menyeberang ke Tongging dan terus ke Ajinembah dan selanjutnya ke Raya Simbolon dengan kerbau Si Nanggalutu (yang konon mati dan dikuburkan di Padanglawas-Tapsel dan Sipinangsori meninggal di Sipinangsori dekat Sibolga sekarang ini) menggantikan Sumbayak sebagai penguasa di Raya vazal Dolog Silou dan Panei.
 
7. Silimahuta klan Purba Girsang pendatang dari Sihombing Lumbantoruan (?) mengembara ke Lehu menggantikan Tuan Nagamariah klan Sinaga vazal Dolog Silou.
 
Catatan :
 
Nomor 1,2,3 dan 4 adalah Raja Maroppat (abad XIV-1946) yang mendapat pengesahan dari sultan Aceh.
 
Nomor 5,6 dan 7 adalah Raja Marpitu bentukan kolonialis Belanda (1907-1946).
 
 
Setelah Belanda masuk dan dipaksanya raja-raja Simalungun meneken Korte Verklaring (surat penyerahan takluk kepada Belanda) tahun 1907, maka daerah Simalungun dipecah dan diatur Belanda kembali sesuai dengan politik “Devide et Impera” (pecahbelah dan kuasailah). Daerah Kerajaan Dolog Silou dipecah belah dan diangkat tuan Purba, tuan Nagasaribu dan tuan Raya sederajad dengan Raja Maroppat, sehingga ada tujuh kerajaan di Simalungun yang dikenal Raja Marpitu. Sedangkan daerah-daerah seperti: Gunung Mariah, Dolog Masihol, Hutarih, Simapang, Tarean, Silindak, Tanjung Morawa dimasukkannya ke Serdang. Tongging, Garingging, Pangambatan, Merek (Sipituhuta) dimasukkannya ke Kerajaan Suka Tanah Karo. Sementara Padang dan Bedagai dimasukkan ke Serdang dan kemudian Kesultanan Deli. Menyusul Nagaraja, Sipispis (Bajalinggei) dan Dolog Marawan. Dolog Batu Nanggar juga sempat dimasukkan ke Deli, tetapi karena Raja Panei bersikukuh mempertahankan daerah kekuasaannya, maka Dolog Batu Nanggar batal diserahkan ke Deli. Demikian juga mulai dari Tanjung Bolon (Tanjung Balai), Kisaran, Habokkou sampai ke Bandar Pasir Mandogei daerah Kerajaan Tanoh Jawa dimasukkan Belanda ke Asahan. Batubara, Limapuluh dan Tanjung Kasau dikeluarkan Belanda dari Siantar dan dimasukkan ke Asahan. Akibatnya, perbatasan daerah Simalungun “terhimpit” oleh kerajaan-kerajaan Melayu Deli dan Serdang serta Asahan dan Suka Tanah Karo. Sebelumnya perbatasan daerah Simalungun adalah berbatas dari Laut Tawar (danau Toba) dan Laut Asin (Selat Malaka). Sejak ditetapkannya daerah Simalungun dengan besluit nomor 22 tanggal 12 Desember 1906 lembaran negara (staatblad) nomor 531 menjadi Afdeeling Simeloengoen en Karolanden perbatasan daerah Simalungun adalah seperti keadaan sekarang ini, tanpa ada teritori laut.
 
 
Raja-raja Simalungun bukan tidak melawan. Mereka melawan kesewenang-wenenangan Belanda dan sultan-sultan Melayu. Tetapi karena kalah dari segi persenjataan dan teknologi serta diplomasi internasional, raja-raja terpaksa takluk dan menerima penjajahan Belanda. Tercatat pejuang-pejuang Simalungun melawan Belanda: Tuan Rondahaim Saragih Garingging dari Raya (wafat 1891), Tuan Raimbang Sinaga dari Dolog Panribuan, raja Siantar Tuan Sang Naualuh Damanik yang dibuang ke Bengkalis tahun 1906, raja Dolog Silou Tuan Tandjarmahei Purba Tambak, raja Panei Tuan Djontama Purba Dasuha yang tewas di penjara Belanda di Medan tahun 1902.
 
'''Revolusi Sosial Berdarah
'''
 
 
Kemudian di awal pendirian Republik Indonesia pada tanggal 3 Maret 1946 barisan-barisan laskar rakyat seperti Barisan Harimau Liar (BHL) di bawah pimpinan A. E. Saragihras dan Djatongam Saragih yang diagitasi orang-orang yang sakit hati dengan pihak kerajaan (bangsawan Simalungun) dan backing dari oknum-oknum tertentu (termasuk PKI), banyak dari kaum bangsawan dan orang Simalungun terpelajar tewas disiksa dan dibunuh dengan sadis tanpa perikemanusiaan. Gugurlah raja Panei Tuan Bosar Sumalam Purba Dasuha bersama anak-anak dan rakyatnya di Sibuttuon, tewas dipancung Tuan Djademan Saragih (ayah Prof. Dr. dr. Boas Saragih) partuanan di Dolog Saribu menantu raja Panei, tewas dipancung dan “dimakan” rakyat Tuan Hormajawa Sinaga tuan Dolog Panribuan (ayah Mayor Djatiman Sinaga), tewas juga dibunuh Tuan Syahkuda Humala Raja Damanik tuan Sipolha (ayah mantan Bupati Djabanten Damanik), raja Purba Tuan Mogang Purba Pakpak tewas diculik orang tidak dikenal dari bangsal RSU Pematang Siantar, raja Silimakuta Tuan Padiradja Purba Girsang tewas dibunuh di Tanah Karo, tewas juga dokter pertama putera Simalungun dr. Djasamen Saragih Sumbayak di kampung Cinta Rakyat Tanah Karo (putera pangulubalei Djaoedin Saragih Sumbayak).
 
 
Dalam aksi brutal ini, suku Simalungun hampir saja punah dari muka bumi. Ribuan orang tidak bersalah tewas dibunuh dengan sadis, mereka yang dianggap antek Belanda, diculik dan digorok tanpa ampun. Harta benda para kaum bangsawan habis dijarah. Istana dibakar. Ribuan dokumen berharga (temasuk surat-surat sewa tanah perkebunan) dan laklak pustaha dokumen penting sejarah raja-raja Simalungun habis dibakar atau hilang dirampas. Keturunan raja-raja dihina dan diburu seperti hewan buruan dan dibunuh tanpa ampun, seperti singa yang haus darah. Narasumber yang penulis wawancarai menceritakan, suasana Simalungun pada tahun 1946-1947 benar-benar mencekam, nyawa sesewaktu bisa melayang begitu saja tanpa proses hukum, yang berlaku adalah hukum rimba, negara tidak berdaya, hukum tidak punya arti apa-apa. Ratusan mayat tanpa kepala dan anggota tubuh lainnya mengambang di sekitar perairan Haranggaol, sampai-sampai orang tidak mau lagi memakan ikan dari Danau Toba karena kerap menemukan potongan jari tangan manusia di dalam perut ikan Danau Toba.
 
 
'''Simalungun: Gamang Jatidiri?
'''
 
Sejak saat itu, orang Simalungun tertekan di mana-mana, dominasi kaum pendatang yang begitu kuat di Simalungun dalam segala aspek (ekonomi, pertanian, sosial budaya, politik dan agama) semakin menciutkan orang Simalungun. Banyak yang malu mengaku dirinya Simalungun karena akan dihina sebagai kaum feodal dan penghisap darah rakyat. Mulailah berlangsung desimalungunisasi di antara orang Simalungun. Mereka yang kebetulan beragama Islam mengaku dirinya suku Melayu dan menghilangkan marganya dan berganti beradat Melayu. Kaum ini diejek orang Tapanuli dengan “halak maya-maya” atau “halak dalle”. Kaum ini banyak terdapat di sepanjang pesisir timur Sumatra, mulai dari Belawan sampai ke Bagansiapi-api. Orang Simalungun yang tinggal di pesisir pantai Danau Toba mulai dari Tigaraja (Parapat) sampai ke Tongging beralih menjadi suku Batak Toba dengan mengaku dirinya beketurunan dari Samosir, memakai marga Toba dan beradat-istiadat Toba. Keadaan yang sama berlaku di Cingkes sampai ke Saribudolok, banyak orang Simalungun yang beralih menjadi orang Karo, bermarga Karo dan beradat Karo. Sehingga komunitas Simalungun yang masih setia dengan adat Simalungun-nya menyisakan daerah “penyangga” di Raya daerah yang relatif minim dipengaruhi adat tetangga. Mengenai ini, St. Gindo Sinaga pernah berkata kepada penulis, “seharusnyalah orang Simalungun di Raya sudah sepatutnya berterimakasih dan tidak memandang sebelah mata dengan kami orang Simalungun di Girsang Sipangan Bolon, karena sejak dibukanya jalan raya oleh Belanda dan diizinkannya orang Batak Toba masuk ke Tanah Jawa, Siantar dan Bandar sampai ke Sidamanik, kamilah yang pertama sekali merasakan bagaimana sulitnya menghempang tobanisasi di Tanah Jawa, sampai akhirnya kami harus rela menerima kenyataan, anak cucu kami “salih” berbahasa dan beradat Toba. Tetapi kami masih tetap berdarah Simalungun.” Jika tidak demikian, sudah dari sejak awal, daerah Simalungun Atas juga akan dibanjiri para pendatang, dan budaya Simalungun dipastikan hilang sampai ke Simalungun Atas.
 
 
Sebagai orang Simalungun, kita sependapat dengan Mansen Purba yang dalam setiap kesempatan, beliau selalu berkata, “sedo hasusuran na patugahkon hita Simalungun, tapi on do, anggo totap ope hita marsahap, maradat ampa marbudaya Simalungun” (bukan asal-usul yang menjelaskan bahwa kita orang Simalungun, tetapi hanya ini, pada waktu kita berbahasa, beradat dan berbudaya Simalungun).
 
 
Jadi jelas, untuk konteks Simalungun sekarang ini, kita tidak dapat lagi berpatokan kepada historisnya Simalungun tempo dulu, kita harus melihat kemajemukan Simalungun sekarang ini. Kita harus sadar bahwa era kerajaan-kerajaan itu sudah berlalu, kalau pun masih ada sekarang ini, itu haruslah dilihat sebagai bukti keberadaan etnis Simalungun sejak dahulu kala. Raja-raja itu boleh saja lestari, tetapi mereka hanyalah sebagai pemangku adat, bukan penguasa politik seperti dulu.
 
'''Tanggung jawab moral generasi muda Simalungun'''
 
 
Sebagai generasi Simalungun muda Simalungun, tentulah sudah sepantasnya kita menoleh sejenak ke belakang pada kurun di mana leluhur kita telah berbuat semampu mereka untuk melestarikan adat budayanya dan juga bahasa dan folosofi hidupnya yang sangat indah dan lintas agama itu. Habonaron do Bona adalah inti dari pengajaran etis seluruh keyakinan dan agama apapun. Habonaron do Bona yang berarti seluruh pusat kehidupan orang Simalungun bepangkal pada “habonaron” (justice and righteousness). Benar dalam bertindak, berbicara, bahkan sejak dalam pikiran orang Simalungun mengawalinya dengan “habonaron”. Saya pikir ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat kita sekarang ini, yang sedang dalam kondisi multi krisis yang parah. Dengan “Habonaron do Bona”mari kita mulai berbuat yang terbaik untuk bangsa ini, gereja kita, masyarakat dan secara khusus kepada GKPS yang kita cintai ini, perahu yang telah membawa Simalungun selama lebih satu abad dari kekelaman zaman “hasipajuhbegu-beguon” kepada terang Kristus yang menyelamatkan itu.
 
 
Inilah aktualisasi sejarah Simalungun, menoleh ke belakang (mengambil hikmah dan mengintrospeksi diri) untuk menatap jauh ke depan kepada cita-cita mulia para pendahulu kita sebagaimana dikatakan almarhum Pdt. Jaulung Wismar Saragih: “Siparutang do Ahu bani Halak Simalungun”. Kita adalah orang yang berhutang, mari berbuat yang terbaik untuk Simalungun dengan talenta dan kemampuan yang ada pada kita dengan seiring sejalan, sauhur sapanriah, sapangambei manoktok hitei ibagas Habonaron do Bona. Sekali lagi seperti judul di atas, ini hanyalah sebentuk upaya mencoba menelusuri asal suku Simalungun, belum memberikan kesimpulan akhir. Silakan pembaca yang lain meneruskan kajian kecil ini. Andoharma.
 
'''Kesimpulan'''
 
 
Dibutuhkan studi penelitian mengenai siapakah dan dari manakah orang Simalungun itu dan diterbitkan dalam bentuk buku dari para budayawan dan sejarawan Simalungun.
 
 
Suku Simalungun adalah komunitas asli Sumatera Timur dalam tatanan pola social kerajaan sejak Kerajaan Nagur dari dinasti Damanik. Dari penjelasan tetua Simalungun di pelosok Simalungun hipotesis saya adalah bahwa asal suku Simalungun berketurunan dari dua gelombang: pertama penduduk asli yang pertama tiba di Simalungun pendiri budaya dan suku Simalungun dari sekelompok pengembara/pengungsi dari Hindia Belakang melalui pantai Timur Sumatera dan penduduk pendatang dari daerah luar Simalungun yang sudah berasimilasi dan berakulturasi dengan masyarakat asli Simalungun.
 
 
Untuk konteks masyarakat Simalungun modern sekarang ini, marga bukan lagi satu-satunya penentu apakah seseorang termasuk anggota masyarakat Simalungun, tetapi lebih pada sejauh mana seseorang hidup dalam budaya, adat dan bahasa Simalungun dalam kesehari-hariannya. Siapapun dapat menjadi anggota masyarakat Simalungun jika ia berbahasa, berbudaya dan beradat Simalungun.
 
 
Sebagai generasi muda gereja dan masyarakat Simalungun, mau tidak mau kita punya kewajiban moral dalam melestarikan adat budaya dan bahasa Simalungun.
 
 
Mari perkenalkan jatidiri Simalungun dengan falsafah “Habonaron do Bona” (Kebenaran adalah pangkal dari segala sesuatu) dan Sapangambei Manoktok Hitei (bekerja sama mencapai tujuan bersama).
 
 
'''Daftar Pustaka'''
 
Damanik, Djahutar. 1974. Jalannya Hukum Adat Simalungun. Medan.
 
Damanik, Erond. 2005. Agama dan Indentitas Kelompok Etnik: Proses Indentifikasi Identitas Kelompok Etnik Simalungun. Tesis. Magister Sains (Medan: Pascasarjana Universitas Negeri Medan).
 
Damanik, Syah Alam. 2006. “Damanik Bariba: Dari Kedatuan Nagur hingga Kerajaan Siantar (Abad ke-6 sampai tahun 1904/1945”. Makalah. Sarasehan-Seminar Damanik, Boru pakon Panagolan se Jabodetabek di Hotel Mulia, Jakarta.
 
Dasuha, Juandaha Raya P dan Sinaga, Martin Lukito. 2003. Tole den Timorlanden das Evengelium: Sejarah 100 Tahun Pekabaran Injil di Simalungun (Pematang Siantar: Kolportase GKPS).
 
Groeneveldt, W. P. 1960. Historical Notes on Indonesian and Malay Compiled From Chinese Sources (Jakarta: Bharatara).
 
Joustra, M. 1926. Batakspiegel. Uitgaven van het Bataksch Instituut No. 21. Leiden.
 
Kroesen, J. A. 1899. “Nota Omtrent de Bataklanden (Speciaal Simeloengoen)”. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land-, en Volkekunde deel XLI. Leiden.
 
Liddle, Raymundus William. 1970. “Suku Simalungun: An Ethnic Group in Search of Representation”. Indonesia. Volume 1 (West Avenue-New York” Modern Indonesia Project Cornel University
 
Promes, H. J. A. 1996. Samosir: Silsilah Batak. Alihbahasa Leo Josten OFM, Cap dan Paulus Sihombing (Pematang Siantar: Bina Media).
 
Reid, Anthony. 1987. Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatra. Terjemahan. (Jakarta: Sinar Harapan).
 
http://www.facebook.com/notes/juandaha-raya-purba/mencoba-merekonstruksi-asal-sukukerajaan-kerajaan-simalungun/225401137476888
 
 
Saragih, J. Wismar. 1964. “Silsilah marga-marga Simalungun”. Inti Sari Seminar Kebudayaan Indonesia Pertama (Museum Simalungun: Pematang Siantar).
 
Saragih, Djasamen. 1979. The Impact of Christianization in Simalungun, North Sumatra 1903-1963. Tesis. Sydney Australia: Sydney University.
 
Saragih, Taralamsyah. 1980. Saragih Garingging. Medan.
 
Sinar, Tengku Luckman. 2007. Jatuh dan Bangunnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur. Medan.
 
Tideman, J (Asistent Resident). 1922. Simeloengoen: Het Land der Timoer Batiks in Zijn Vroegere Isolatie en Zijn Ontwikkeling tot Een Deel van Het Cultuutgebied van de Oostkust van Sumatra (Leiden: Stamdrukkerij Loius H. Berherer).
 
 
== Bahasa & Aksara ==
Pengguna anonim