Kerajaan Aru: Perbedaan antara revisi

1.079 bita ditambahkan ,  10 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
k (←Suntingan 202.169.54.205 (bicara) dikembalikan ke versi terakhir oleh Kikintarigan)
Tidak ada ringkasan suntingan
{{untuk|penggunaan lain istilah Aru|Aru (disambiguasi)}}
'''Kerajaan Aru''' atau '''Haru''' merupakan sebuah kerajaan yang pernah berdiri di wilayah pantai timur [[Sumatera Utara]] sekarang. Nama kerajaan ini disebutkan dalam [[Kakawin NagarakretagamaPararaton]] <ref>Robson, S. O., (1995), ''Desawarnana (Nagarakrtagama) by Mpu Prapanca'', ed. and trans., Leiden:KITLV Press.</ref> sebagai salah satu kerajaan yang pernah menjadi taklukan [[Majapahit1336]]. Sedangkan) dalam [[Sumateks Oriental]]Jawa <ref>Cortesão, Armando,Pertengahan (1944),terkenal ''The Suma Oriental of Tomé Pires'', London: Hakluyt Society, 2 vols</ref> disebutkan bahwa kerajaan ini merupakan kerajaan yang kuat ''Penguasa Terbesar di Sumatera'' yang memiliki wilayah kekuasaan yang luas dan memiliki pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh kapal-kapal asing. Dalam laporannya,dengan [[ToméSumpah PiresPalapa]] juga mendeskripsikan akan kehebatan armada kapal laut kerajaan Aru) yang mampuberbunyi melakukan pengontrolan lalu lintas kapal-kapal yang melalui [[Selat Melaka]] pada masasebagai itu.berikut
“''Sira [[Gajah Mada]] pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa''” Bila dialih-bahasakan mempunyai arti : “''Beliau, Gajah Mada sebagai patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa, Gajah Mada berkata bahwa bila telah mengalahkan (menguasai) Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa, bila telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa'' <ref> Mangkudimedja, R.M., 1979, Serat Pararaton. Alih aksara dan alih bahasa Hardjana HP. Jakarta: Departemen P dan K, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. </ref>.
 
Sebaliknya tidak tercatat lagi dalam [[Kakawin Nagarakretagama]] ([[1365]]) sebagai negara bawahan sebagaimana tertulis dalam pupuh 13 paragraf 1 dan 2. <ref>[http://historynote.wordpress.com/2011/04/28/negarakertagama/ Terjemahan Lengkap Naskah Kakawin Nagarakretagama], dari blog World History Note, historynote.wordpress.com</ref>
 
Sementara itu dalam [[Suma Oriental]] <ref>Cortesão, Armando, (1944), ''The Suma Oriental of Tomé Pires'', London: Hakluyt Society, 2 vols</ref> disebutkan bahwa kerajaan ini merupakan kerajaan yang kuat ''Penguasa Terbesar di Sumatera'' yang memiliki wilayah kekuasaan yang luas dan memiliki pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh kapal-kapal asing. Dalam laporannya, [[Tomé Pires]] juga mendeskripsikan akan kehebatan armada kapal laut kerajaan Aru yang mampu melakukan pengontrolan lalu lintas kapal-kapal yang melalui [[Selat Melaka]] pada masa itu.
 
Dalam [[Sulalatus Salatin]] Haru disebut sebagai kerajaan yang setara kebesarannya dengan [[Kesultanan Malaka|Malaka]] dan [[Kesultanan Samudera Pasai|Pasai]]. Peninggalan [[arkeologi]] yang dihubungkan dengan Kerajaan Haru telah ditemukan di [[Kota Cina]] dan [[Kota Rantang, Hamparan Perak, Deli Serdang|Kota Rantang]].
152

suntingan