Ensiklopedia: Perbedaan revisi

1.470 bita dihapus ,  10 tahun yang lalu
←Membatalkan revisi 4330345 oleh 125.163.165.78 (Bicara)
(←Membatalkan revisi 4330345 oleh 125.163.165.78 (Bicara))
Kata "ensiklopedia" diambil dari [[bahasa Yunani]]; ''enkyklios paideia'' ({{polytonic|ἐγκύκλιος παιδεία}}) yang berarti sebuah lingkaran atau pengajaran yang lengkap. Maksudnya ensiklopedia itu sebuah pendidikan paripurna yang mencakup semua lingkaran ilmu pengetahuan. Seringkali ensiklopedia dicampurbaurkan dengan kamus dan ensiklopedia-ensiklopedia awal memang berkembang dari [[kamus]]. Perbedaan utama antara kamus dan ensiklopedia ialah bahwa sebuah kamus hanya memberikan [[definisi]] setiap [[entri]] atau [[lemma]] dilihat dari sudut pandang [[linguistik]] atau hanya memberikan kata-kata [[sinonim]] saja, sedangkan sebuah ensiklopedia memberikan penjelasan secara lebih mendalam dari yang kita cari. Sebuah ensiklopedia mencoba menjelaskan setiap [[artikel]] sebagai sebuah [[fenomena]]. Atau lebih singkat: kamus adalah daftar kata-kata yang dijelaskan dengan kata-kata lainnya sedangkan sebuah ensiklopedia adalah sebuah daftar hal-hal yang kadang kala dilengkapi dengan gambar untuk lebih menjelaskan.
 
== Ensiklopedia pada Masa Klasik Antik di Eropa ==
Ulat Bulu Mengganas di Kebumen
Kata Ensiklopedia berasal dari [[bahasa Yunani]], terutama bahasa Yunani kuna. Walaupun begitu, ensiklopedia tertua bukanlah berasal dari Yunani tetapi dari [[Kekaisaran Romawi]] yang ditulis oleh [[Cato|Marcus Porcius Cato]] dan hidup pada abad ke-3 sampai 2 [[s.M.|sebelum Masehi]]. Bentuk ensiklopedia yang masih ada sampai sekarang dan tertua ditulis oleh [[Plinius Senior|Caius Plinius Secundus]] pada abad pertama [[Masehi]]. Ensiklopedia Plinius ini terdiri dari 38 jilid.
Kebumen, CyberNews. Ribuan ulat bulu mengganas di Desa Lembupurwo, Kecamatan Mirit, Kebumen sejak seminggu terakhir. Hingga Minggu (8/5), hama ulat bulu tersebut telah merusak pohon kedondong dan salam milik Sumadi (48) warga RT 02 RW 05 Dusun Aglik Gunung, desa setempat.
 
Tidak hanya itu, ulat bulu yang juga mengganas di sejumlah daerah di Indonesia itu mulai membuat warga setempat was-was. Maklum ulat berbulu sebesar jari kelingking anak kecil telah menyebar pekarangan warga yang lain. Salah satunya, sejumlah pohon milik Hasyim (36) yang masih tetangga Sumadi sudah rusak akibat diserang ulat bulu tersebut.
 
"Dalam tiga hari, daun di satu pohon sudah habis dimakan," kata Hasyim kepada Suara Merdeka CyberNews, Minggu (8/5).
 
Selain tanaman menjadi rusak, ancaman gatal-gatal juga dialami oleh warga termasuk anak-anak. Sebab, selain di pohon ulat tersebut juga menempel di rumah warga. "Yang mengkhawatikan, jika tertiup angin bulu-bulunya bisa terbang ke mana-mana," imbuhnya.
 
Hasyim menambakan, awalnya ulat bulu yang menyerang pohon sedikit. Namun selang beberapa hari, populasi ulat tersebut menjadi tidak terkendali. Dia juga tidak habis pikir, jumlahnya bisa langsung begitu banyak seperti jatuh dari langit. Di sisi lain, warga mengalami kesulitan untuk memberantas ulat bulu jarena sebagian besar menyerang pohon yang tinggi.
 
"Untuk itu kami berharap pemerintah kabupaten melalui dinas terkaitmembantu menangani masalah ini. Kami khawatir jika tidak segera ditangani ulat bulu ini akan menyebar ke seluruh desa," ujarnya.
 
Sementara itu, untuk mengurangi populasi ulat bulu tersebut warga mengobori ulat bulu dengan api. Caranya warga membuat obor yang dipasang pada bambu panjang. Api tersebut kemudian diarahkan ke dahan pohon yang terdapat banyak ulatnya.
 
"Ya, paling tidak sedikit mengurangi jumlah ulat bulu di pohon ini," ujar Sumadi di sela-sela mengobori ulat bulu yang merusak pohon kedongdong miliknya.
 
( Supriyanto / CN27 / JBSM )
 
 
84

suntingan