Muhammad bin Harun al-Amin: Perbedaan revisi

4.489 bita ditambahkan ,  10 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
k (Mengganti terpercaya dengan tepercaya. Ref: KBBI IV)
'''Muhammad bin Harun al-Amin''' ([[bahasa Arab|Arab]] <big>محمد الأمين بن هارون الرشيد</big>) ([[787]] – [[813]]) adalah seorang [[khalifah]] dari [[Bani Abbasiyah]]. Ia menggantikanberkuasa ayahnyaselama [[Harun4 ar-Rasyid]]tahun 8 padabulan ([[809]]-[[813]])<ref danname= berkuasa"kompas">[http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/04/26/lk999y-daulah-abbasiyah-alamin-809813-m-khalifah-bani-hasyim], sampaiKompas iaOnline terbunuh26 padaApril [[813]]2011</ref>.
 
== Pembai'atan ==
Harun ar-Rasyid telah memutuskan pergantian kekuasaan putranya selama haji ke [[Makkah]]. Al-Amin, akan menerima jabatan khalifah dan [[al-Ma'mun]] akan menjadi gubernur [[Khurasan]] di Persia Timur. Pada kematian al-Amin, menurut keputusan Harun, al-Mamun akan menjadi khalifah.
 
Ketika memasuki kota [[Thus]] untuk menangani pergolakan yang dipimpin oleh [[Rafi' bin Al-Laits bin Nashar]], [[Khalifah]] [[Harun Ar-Rasyid]] jatuh sakit. Beberapa saat kemudian ia meninggal dunia.
Segera setelah Harun meninggal pada [[809]] dan al-Amin dibai’at sebagai khalifah, al-Amin mengumumkan bahwa putranya akan mewarisi dari al-Ma'mun, menyebabkan perang saudara keempat. Lebih lanjut permusuhan di antara para saudara digelorakan oleh para ibu mereka masing-masing.
 
Sebelumnya, [[Harun ar-Rasyid]] telah memutuskan pergantian kekuasaan putranya selama haji ke [[Makkah]]. Al-Amin, akan menerima jabatan khalifah dan [[al-Ma'mun]] akan menjadi gubernur [[Khurasan]] di Persia Timur. Pada kematian al-Amin, menurut keputusan Harun, [[al-MamunMa'mun]] akan menjadi khalifah menggantikannya.
Al-Ma'mun, yang ibunya [[orang Persia]], menerima dukungan terutama dari [[Persia]], dan sebagai gubernur, pusat militer [[Khurasan]]. Memainkan dirinya sebagai juara kebebasan orang Persia, dataran tinggi Iran bersatu di belakangnya. Jenderalnya yang tepercaya, [[Tahir bin Husain]] (m. [[822]]) memimpin pasukannya ke Irak.
 
Putra termuda sang Khalifah, [[Shalih bin Harun]], segera mengambil baiat dari seluruh pasukan di tempat itu untuk saudara tertuanya, Muhammad bin Harun di [[Baghdad]]. Selanjutnya, ia mengirimkan utusan ke [[Baghdad]] untuk menyampaikan berita kemangkatan sang [[Khalifah]] dan mengirimkan [[Al-Khatim]] (stempel kebesaran) dan [[Al-Qadhib]] (tongkat kebesaran), serta [[Al-Burdah]] (jubah kebesaran) pada Muhammad bin Harun.
 
Begitu mendengar berita wafatnya sang ayah, Muhammad bin Harun yang menjabat [[gubernur]] [[Baghdad]] segera menuju [[Masjid Agung Baghdad]]. Berlangsunglah baiat secara umum. Muhammad bin Harun Ar-Rasyid menjabat khalifah keenam [[Daulah Abbasiyah]] pada usia [[24]] tahun. Dalam sejarah, ia dikenal sebagai [[Khalifah]] Al-Amin.
 
== Pergolakan-pergolakan ==
 
=== Serangan dari Imperium [[Byzantium]] ==
 
Meninggalnya [[Harun Ar-Rasyid]] dianggap sebagai peluang emas bagi [[Kaisar Nicephorus]] untuk membantalkan kembali perjanjian damai dengan [[Daulah Abbasiyah]]. Ia segera menggerakkan pasukannya untuk menyerang perbatasan bagian utara [[Syria]] dan bagian utara [[Irak]]. Khalifah Al-Amin segera mengirimkan pasukan untuk menghalau serangan itu. Berlangsung pertempuran cukup lama yang berujung pada tewasnya sang [[kaisar]].<ref name= "kompas"/>
 
== Pergolakan di Kota [[Hims]]<ref name= "kompas"/> ==
 
Di kota Hims juga terjadi pergolakan. Karena tak mampu memadamkan pemberontakan, Khalifah Al-Amin memecat Gubernur [[Ishak bin Sulaiman]] dan menggantinya dengan [[Abdullah bin Said Al-Harsy]]. Keamanan pun pulih kembali di bawah kendali gubernur baru itu.
 
== [[Khalifah]] Baru di [[Damaskus]]<ref name= "kompas"/> ==
 
Pada 195 H muncul seorang tokoh berpengaruh di [[Damaskus]]. Ia adalah Ali bin Abdullah bin Khalid bin Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan. Karenanya, ia dikenal sebutan [[As-Sufyani]]. Tokoh ini menjadi lebih berpengaruh karena tak hanya merupakan keturunan [[Bani Umayyah]], tetapi juga [[Bani Hasyim]]. Ibunya adalah putri Abdullah bin Abbas bin Ali bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Berdasarkan silsilah keturunannya ini, ia sering berkata, "Saya adalah putra dua tokoh yang pernah bertentangan di [[Shiffin]]." Maksudnya [[Ali bin Abi Thalib]] dan [[Muawiyah bin Abi Sufyan]].
 
Ia menyatakan berdirinya khilafah baru di Damaskus. Namun masa pemerintahannya tidak berlangsung lama. Panglima [[Ibnu Baihas]] segera mengepung [[Damaskus]] dan menaklukkan penduduk kota itu. Sedangkan tokoh As-Sufyani melenyapkan diri entah kemana.
 
== Suksesi Berdarah ==
 
Di antara seluruh [[Khalifah Abasiyah]], hanya Khalifah Al-Amin yang ayah dan ibunya keturunan [[Bani Hasyim]] (Arab). Ayahnya [[Harun Ar-Rasyid]] dan ibunya Zubaidah binti Ja'far bin Manshur masih keturunan Bani hasyim. Sedangkan Al-Makmun, yang menjadi calon [[khalifah]] penggantinya, masih keturunan Iran dari garis ibunya.
 
Oleh sebab itu, beberapa pihak membujuk Khalifah Al-Amin untuk membatalkan hak khilafah [[Al-Makmun]], dan menggantinya dengan putranya sendiri, [[Musa bin Muhammad Al-Amin]]. Semula Khalifah Al-Amin menolak.<ref name= "kompas"/> Tetapi, karena terus didesak dan dibujuk, ia pun melakukan pembatalan itu dan mengangkat putranya sebagai calon khalifah dengan gelar [[An-Nathiq bil Haq]].
 
Tentu saja tindakan ini memancing amarah [[Al-Makmun]]. Saat itu, ia berada di [[Khurasan]] di tengah keluarga besarnya. Permintaan sang Khalifah yang mengundangnya kembali ke [[Baghdad]] tak ia penuhi. Bahkan ia pun diba'iat dan dinyatakan sebagai khalifah.<ref name= "kompas"/>
 
Mendengar kejadian tersebut, Khalifah Al-Amin segera mengirimkan pasukan ke [[Khurasan]] di bawah pimpinan Panglima Ali bin Isa bin Mahan. [[Al-Makmun]] pun segera menyiapkan pasukannya di bawah komando [[Thahir bin Hasan]].
 
Kedua pasukan bertemu di kota Ray (saat ini Teheran). Pertempuran pun tidak berlangsung lama. Panglima [[Ali bin Isa]] tewas. Berita kekalahan itu sangat mengejutkan Khalifah Al-Amin. Ia pun segera mengirimkan pasukan bantuan di bawah komando Panglima [[Ahmad bin Mursyid]] dan Panglima [[Abdullah bin Humaid]]. Dalam perjalanan menuju [[Khurasan]], terjadi perselisihan sengit antara dua panglima. Pasukan itu pun kembali ke [[Baghdad]] sebelum berhadapan dengan musuh.
 
[[Al-Makmun]] segera memerintahkan pasukan [[Thahir bin Hasan]] untuk terus maju ke [[Baghdad]]. Ia menambah pasukannya di bawah pimpinan H[[artsamad bin Ain]]. Hampir satu tahun [[Baghdad]] dikepung. Karena kekurangan persediaan makanan, akhirnya pertahanan [[Baghdad]] pun runtuh.
 
Khalifah Al-Amin bertahan di Qashrul Manshur yang terletak di pusat kota. Setelah berlangsung penyerbuan cukup lama, istana yang dibangun oleh Al-Manshur itu pun bisa ditaklukkan.
 
Al-Amin memohon ibunya Zubaidah, menengahi pergantian kekuasaan dan memperjuangkan maksudnya sebagaimana yang telah dilakukan [[Aisyah]] 2 abad sebelumnya. Zubaida menolak untuk melakukannya, dan al-Amin mengundurkan diri. Pada [[813]], Tahir mengambil [[Baghdad]], dan al-Amin dipenggal.
 
== Referensi ==
<references/>
 
{{kotak mulai}}
679

suntingan