Dokumen Keesaan Gereja: Perbedaan revisi

158 bita ditambahkan ,  10 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
 
== Latar Belakang ==
Pemahaman gereja-gereja mengenai Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia dalam Sidang Raya I DGI mendorong DGI untuk melakukan studi dan penyelidikan bersama mengenai Pengakuan Iman, Tata Gereja, Katekisasi, dan Liturgi yang digunakan oleh gereja-gereja anggota. Studi dan penyelidikan ini memuncak pada Sidang Raya VI DGI pada tahun 1967 di Ujung Pandang, yang diperkenalkan dalam konsep Tata Sinode Oikumene Gereja di Indonesia ([[SINOGI]]) dan Pemahaman Iman Bersama. Kemudian padaPada Sidang Raya VII DGI pada tahun 1971 di Pematang Siantar, konsep SINOGI dan Pemahaman Iman Bersama dibahas dan hasil sidang memutuskan untuk menerima sebagian dari konsep tersebut. dan sebagai konsekuensinyaKonsekuensinya, struktur DGI pada saat itu mulai mengalami pembaruan (yang nantinya akan berubah nama dari [[DGI]] menjadi [[PGI]]).<ref name="LDKG">Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, ''Dalam Kemantapan Kebersamaan Menapaki Dekade Penuh Harapan'' (Jakarta: Gunung Mulia, 1990), 11</ref>
 
Pada Sidang Raya DGI IX yang berlangsung pada tanggal 19-31 Juli 1980 di Tomohon, munculusaha-usaha kongkrit mewujudkan keesaan semakin berkembang dalam pembicaraan mengenai "SIMBOL-SIMBOL KEESAAN" yang merupakan kristalisasi dari '''Lima Dokumen Keesaan Gereja'''. (yangPebicaraan nantinyaini akanmuncul berubahkarena nama menjadi '''Dokumen Keesaan Gereja''')."SIMBOL-SIMBOL KEESAAN" meliputi empat dokumen, yaitu: <ref name="50tahun"></ref>
# PIAGAM PRASETYA KEESAAN
# PEMAHAMAN IMAN BERSAMA
# PIAGAM SALING MENGAKUI DAN MENERIMA
# TATA GEREJA DASAR
Kemudian dalam Sidang Raya DGI/PGI X yang berlangsung pada tanggal 21-31 Oktober 1984 di Ambon, dokumen-dokumen ini dirumuskan kembali dan disahkan dengan nama [[Lima Dokumen Keesaaan Gereja]] ([[LDKG]]). Pada sidang yangini samajuga, wadah keesankeesaan gereja berganti nama dari [[DGI]] menjadi [[PGI]].<ref name="LDKG"></ref>
 
== Isi ==
149

suntingan