Dokumen Keesaan Gereja: Perbedaan revisi

15 bita dihapus ,  10 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
{{inuse|14 Maret}}
'''Dokumen Keesaan Gereja''' adalah rumusan pengakuan bersama gereja-gereja di Indonesia yang disusun oleh wadah okumene [[DGI]]/[[PGI]]. Adapun tujuan dokumen ini disusun adalah sebagai pedoman dan instrumen dalam mewujudkan Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia.<ref name="DKG">Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, ''Dokumen Keesaan Gereja Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (DKG-PGI): Keputusan Sidang Raya XIV PGI, Wisma Kinasih, 29 November - 5 Desember 2004''(Jakarta: Gunung Mulia, 2006), x</ref> Dokumen Keesaan Gereja (disingkat dengan [[DKG]]) yang dikenal saat ini merupakan penyempurnaan terus menerus dari naskah-naskah sebelumnya. dan merupakan hasil pergumulan teologis gereja-gereja di Indonesia sejak berdirinya DGI pada tahun 1950.<ref name="50tahun">Pdt. Dr. Jan S. Aritonang dan rekan-rekan, ''50 Tahun PGI: Gereja di Abad 21'', disunting oleh Pdt. Dr. Jan Aritonang (Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan PGI, 2000), 57-58, 61</ref>
 
== Latar Belakang ==
Dokumen Keesaan Gereja (disingkat dengan [[DKG]]) yang dikenal saat ini merupakan penyempurnaan dari naskah sebelumnya yang bernama Lima Dokumen Keesaan Gereja (disingkat dengan [[LDKG]]). Proses lahirnya dokumen ini merupakan hasil pergumulan teologis gereja-gereja di Indonesia sejak berdirinya DGI pada tahun 1950.<ref name="50tahun">Pdt. Dr. Jan S. Aritonang dan rekan-rekan, ''50 Tahun PGI: Gereja di Abad 21'', disunting oleh Pdt. Dr. Jan Aritonang (Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan PGI, 2000), 57-58, 61</ref> Perkembangan pemahaman gereja-gereja dalam Sidang Raya satu ke Sidang Raya berikutnya, mendorong DGI untuk melakukan studi dan penyelidikan bersama mengenai Pengakuan Iman, Tata Gereja, Katekisasi, dan Liturgi yang digunakan oleh gereja-gereja anggota. Pada Sidang Raya VI DGI pada tahun 1967 di Ujung Pandang, hasil studi dan penyelidikan tersebut diperkenalkan dalam konsep Tata Sinode Oikumene Gereja di Indonesia ([[SINOGI]]) dan Pemahaman Iman Bersama. Konsep ini kemudian dibahas pada Sidang Raya berikutnya yaitu pada tahun 1971 di Pematang Siantar. SebagianSidang Raya VII DGI memutuskan untuk menerima sebagian dari konsep tersebut diterima dan sebagai konsekuensinya, struktur DGI diperbaruimulai mengalami pembaruan.<ref name="LDKG">Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, ''Dalam Kemantapan Kebersamaan Menapaki Dekade Penuh Harapan'' (Jakarta: Gunung Mulia, 1990), 11</ref>
 
Pada Sidang Raya DGI IX yang berlangsung pada tanggal 19-31 Juli 1980 di Tomohon, muncul pembicaraan mengenai "SIMBOL-SIMBOL KEESAAN" yang merupakan kristalisasi dari '''Lima Dokumen Keesaan Gereja''' (yang nantinya akan berubah nama menjadi '''Dokumen Keesaan Gereja''')."SIMBOL-SIMBOL KEESAAN" meliputi empat dokumen, yaitu: <ref name="50tahun"></ref>
149

suntingan