Buka menu utama

Perubahan

57 bita ditambahkan ,  8 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
| {{listen|filename=Gaudeamus omnes - Graduale Aboense.ogg|title=''Gaudeamus omnes'', Introit untuk misa sebagai penghormatan kepada Henrikus, santo pelindung Finlandia|description=Klik gambar manuskrip dan unduh versi resolusi-tinggi untuk mengikuti notasinya, dimulai pada kaligrafi huruf "G" besar. Antifon diulangi sesudah ayat mazmur ''"Annunciabunt...quẽ fecit dominus"'' dan diulangi lagi sesudah ''"Gloria patri."'' Hanya permulaan dan akhir ''"Gloria patri"'' yang terlihat pada manuskrip; "EVOVAE" mewakili huruf-huruf vokal dalam lima suku kata terakhir, ''"s'''æ'''c'''u'''l'''o'''r'''u'''m, '''a'''m'''e'''n."'' Pengucapan bahasa Latinnya mengikuti cara pengucapan bahasa Latin di Jerman pada masa Renaissance, berdasarkan koneksi-koneksi gerejawi antara Åbo dan Jerman .}}
|}
'''Kidung Gregorian''' adalah pusat tradisi kidung Barat, semacam kidung [[liturgi]]s [[monofoni]]k dari [[Kekristenan Barat]] yang mengiringi perayaan [[misa]] dan ibadat-ibadat ritual lainnya. Kumpulan besar kidung ini adalah musik tertua yang dikenal karena merupakan kumpulan kidung pertama yang diberi [[notasi]] pada abad ke-10. Secara umum, kidung-kidung Gregorian dipelajari melalui metode [[viva voce]], yakni dengan mengulangi contoh secara lisan, yang memerlukan pengalaman bertahun-tahun lamanya di [[Schola Cantorum]]. Kidung Gregorian bersumber dari kehidupan [[monastik]], di mana menyanyikan 'Ibadat Suci' sembilan kali sehari pada waktu-waktu tertentu dijumjung tinggi seturut [[Peraturan Santo Benediktus]]. Melagukan ayat-ayat mazmur mendominasi sebagian besar dari rutinitas hidup dalam komunitas monastik, sementara sebuah kelompok kecil dan para solois menyanyikan kidung-kidung. Dlam sejarahnya yang panjang, kidung Gregorian telah mengalami banyak perubahan dan perbaikan sedikit demi sedikit.
 
== Sejarah ==
Kidung Gregorian terutama digubah, dikodifikasi, dan diberi notasi di wilayah-wilayah [[Eropa Barat]] dan [[Eropa Tengah]] yang dikuasai Bangsa [[Frank]] pada abad ke-9 dan ke-10, dengan penambahan-penambahan dan penyuntingan-penyuntingan di kemudian hari, tetapi naskah-naskah dan banyak dari melodi-melodinya jauh berasal dari beberapa abad sebelumnya. Meskipun banyak orang meyakini bahwa [[Paus Gregorius I|Paus Gregorius Agung]] sendiri yang menciptakan kidung Gregorian, para sarjana kini percaya bahwa kidung tersebut membawa-bawa nama paus[[Paus]] itu sejak sintesis [[Karolingian]] yang terjadi di kemudian hari antara kidung [[Romawi]] dan [[Kidung Gallika]], dan pada masa itu mencatut nama [[Gregorius I]] merupakan 'trik pemasaran' untuk memberi kesan adanya inspirasi suci sehingga dapat menghasilkan satu protokol liturgis yang akan digunakan di seluruh [[kekaisaran]]. Satu kekaisaran, satu Gereja, satu Kidung - kesan kesatuan merupakan isu pokok pada era Karolingian.
 
Selama abad-abad berikutnya kidung Gregorian tetap menempati jantung [[musik Gereja]], di mana ia menumbuhkan berbagai cabang dalam arti bahwa praktek-praktek performansi yang baru bermunculan di mana musik baru dalam naskah yang baru diperkenalkan atau pun kidung-kidung yang sudah ada diberi tambahan dengan cara menyusunnya menjadi [[Organum]]. Bahkan musik [[polifonik]] yang muncul dari kidung-kidung kuna nan luhur dalam Organa oleh [[Leonin]]] dan [[Perotin]] di [[Paris]] (1160-1240) berakhir dengan kidung monofonik dan dalam tradisi-tradisi di kemudian hari gaya-gaya komposisi baru dipraktekkan dalam jukstaposisi (atau ko-habitasi) dengan kidung monofonik. Praktek ini berlanjut sampai ke masa hidup Francois Couperin, yang misa-misa organnya dimaksudkan untuk dinyanyikan silih berganti dengan kidung homofonik. Meskipun hampir tidak digunakan lagi sesudah periode Baroque, kidung mengalami kebangkitan kembali pada abad ke-19 dalam [[Gereja Katolik Roma]] dan sayap [[Anglo-Katolik]] dari [[Komuni Anglikan]].
 
=== Notasi ===
743

suntingan