Warna liturgi: Perbedaan antara revisi

52 bita ditambahkan ,  11 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
# Putih melambangkan kesucian dan biasanya dipakai dalam beberapa [[liturgi]] khusus, seperti: penahbisan, peneguhan dan pernikahan.<ref name="Rasid"></ref>
# Merah berarti cinta dan penderitaan. Warna ini biasa dipakai dalam perayaan peringatan para [[martir]] dan pada perayaan Hari Raya [[Pentakosta]]. Pada perayaan hari raya Pentakosta, biasanya para [[imam]] akan memakai pakaian merah yang dihiasi dengan moitif lidah api atau [[burung]] merpati yang merupakan [[simbol]] dari [[Roh Kudus]].<ref name="Sudibya"> Warsito Djoko Sudibya. 1994. ''Aneka Simbol''. Jakarta: Obor.</ref>
# Hijau adalah warna hidup baru, masa depan, harapan dan keremajaan. Warna hijau juga dihubungkan dengan keadilan dan perdamaian. Sepanjang tahun liturgi warna ini digunakan sebagai simbol, kecuali jika ada Hari Raya khusus.<ref name="Sudibya"></ref>
# Ungu melambangkan rasa sedih dan ketenangan. Dalam [[liturgi]] warna ungu dipakai selama masa mawas diri yang membutuhkan ketenangan. Masa mawas diri adalah masa [[Advent]] (empat minggu menjelang Hari Raya Natal) dan masa [[Prapaskah]] (empat puluh hari sebelum Hari Raya Paskah). Dalam satu minggu menjelang [[Paskah]], warna ungu berhubungan erat dengan sengsara dan wafat [[Yesus Kristus]]. Pakaian [[liturgi]] imam yang dipakai pada [[Pekan Suci]] ini dihiasi dengan simbol-simbol seperti [[salib]] dan mahkota duri.<ref name="Sudibya"></ref>
# Hitam melambangkan kedukaan. Biasanya dipakai dalam Hari Raya [[Rabu Abu]], [[Jumat Agung]] dan [[liturgi]] khusus kedukaan.<ref name="Rasid"></ref>
 
345

suntingan