Gereja Katolik di Indonesia: Perbedaan revisi

Tidak ada perubahan ukuran ,  9 tahun yang lalu
k
bot kosmetik perubahan
k (bot kosmetik perubahan)
== Sejarah Gereja Katolik di Indonesia ==
=== Era Portugis ===
Pada awal abad ke 16 semangat petualangan menjelajah samudera dan mencari sumber rempah-rempah di kalangan bangsa Portugis yang beragama Katolik membawa mereka hingga ke Malaka. Kontak agama Katolik dengan bumi nusantara merembet dari pangkalan Portugis di Malaka ke pulau-pulau lain melalui pelabuhan-pelabuhan utama yang disinggahi kapal-kapal dagang Portugis, misalnya: Banda (1511), Ternate (1513), Sunda Kelapa (1522), Panarukan (1528). Di Indonesia, orang pertama yang menjadi Katolik adalah orang [[Maluku]], Kolano (kepala kampung) Mamuya (di Halmahera, Maluku Utara) yang dibaptis seorang awam pedagang Portugis, Gonzalo Veloso, bersama sebagian besar warga kampungnya pada tahun [[1534]] setelah menerima pemberitaan Injil. Peristiwa itu menjadi titik tolak peringatan 450 tahun Gereja Katolik di Indonesia pada 1984. Ketika itu para pelaut [[Portugal|Portugis]] baru saja menemukan kepulauan rempah-rempah itu dan bersamaan dengan para pedagang dan serdadu-serdadu, para imam Katolik juga datang untuk menyebarkan Injil. P. Simon Faz OFM membaptis lebih dari 5000 orang sekitar tahun 1534 di Halmahera. Salah seorang misionaris besar yang berkunjung di Indonesia adalah [[Santo]] [[Fransiskus Xaverius]], salah seorang pendiri Serikat Yesus (SJ) yang antara tahun [[1546]] sampai [[1547]] meneguhkan iman umat Katolik di pulau [[Pulau Ambon|Ambon]], [[Saparua]] dan [[Ternate]]. Ia juga membaptis beberapa ribu penduduk setempat.
 
=== Era VOC ===
 
=== Era Hindia-Belanda ===
Perubahan politik di Belanda, khususnya kenaikan tahta Raja Louis, seorang Katolik, kerabat Napoleon Bonaparte, membawa pengaruh yang cukup positif. Semangat Revolusi Perancis "liberte, egalite, fraternite" (kebebasan, kesetaraan dan persaudaraan) merembes ke kalangan pemerintahan Belanda. Kebebasan umat beragama mulai diakui pemerintah. Hal itu terbawa ke bumi nusantara yang kemudian disebut Hindia-Belanda. Pada tanggal [[8 Mei]] [[1807]], Paus Pius VII, pimpinan Gereja Katolik [[Roma]] mendapat persetujuan Raja Louis Napoleon untuk mengaktifkan kembali karya misi di Hindia Belanda dan mendirikan [[Prefektur Apostolik]] Hindia Belanda di Batavia pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Daendels (1808-18110 (lihat: [[Gereja Katedral Jakarta#Sejarah|Sejarah Gereja Katedral Jakarta]])
 
Pada tanggal 4 April 1808, dua orang Imam dari Negeri Belanda tiba di Jakarta, yaitu Pastor Jacobus Nelissen, Pr dan Pastor Lambertus Prisen, Pr. Yang diangkat menjadi [[Prefek Apostolik]] pertama adalah Pastor J. Nelissen, Pr.
Setelah Gubernur Jendral [[Daendels]] (1808-1811) walaupun kebebasan beragama kemudian diberlakukan, namun agama Katolik saat itu agak dipersukar. Hal itu karena pergantian kekuasaan di Belanda setelah kekalahan Napoleon pada 1815, yang mengangkat Willem I menjadi raja Belanda. Selain itu misi di Hindia-Belanda kekurangan tenaga. Imam saat itu hanya 5 orang untuk memelihara umat sebanyak 9.000 orang yang hidup berjauhan satu sama lainnya. Dengan kerja keras, [[Prefektur Apostolik]] Batavia dinaikkan statusnya menjadi [[Vikariat Apostolik]] pada 20 September 1842. Situasi berangsur-angsur membaik setelah perundingan berangsur-angsur dengan pihak pemerintah pada tahun 1847. Pada tahun [[1889]] ada 50 orang imam di Indonesia sejak misi di Hindia Belanda diserahkan kepada Serikat Yesus (SY). Di daerah [[Yogyakarta]], misi Katolik dilarang sampai tahun [[1891]].
 
=== Persekolahan Van Lith dan Pembagian Kerja Ordo-ordo Misionaris ===
Misi Katolik di daerah ini diawali oleh Pastor F. [[van Lith]], SJ yang datang ke Muntilan pada tahun [[1896]]. Pada awalnya usahanya tidak membuahkan hasil yang memuaskan, akan tetapi pada tahun 1904 tiba-tiba 4 orang kepala desa dari daerah Kalibawang datang ke rumah Romo dan mereka minta untuk diberi pelajaran agama. Sehingga pada tanggal [[15 Desember]] [[1904]], rombongan pertama orang Jawa berjumlah 178 orang dibaptis di sebuah mata air Semagung yang terletak di antara dua batang pohon Sono. Tempat bersejarah ini sekarang menjadi tempat ziarah [[Sendangsono]].
 
Pada tahun 1989 Paus [[Yohanes Paulus II]] berkunjung ke Indonesia dan disambut dengan antusias oleh umat Katolik Indonesia.
 
=== Era Reformasi ===
 
Pada tahun 1990-an dan mulai tahun 2000 juga ditandai dengan kekerasan terhadap umat Katolik pada khususnya dan Kristen pada umumnya. Namun mantan presiden [[Abdurrahman Wahid]], yang juga seorang pemimpin [[Nahdlatul Ulama]], salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, telah memberikan kontribusi oleh beberapa penyatuan bagian-bagian yang berbeda dari beberapa kalangan.
254.415

suntingan