Buka menu utama

Perubahan

18 bita ditambahkan ,  8 tahun yang lalu
k
Bot: Penggantian teks otomatis (-nasehat +nasihat); kosmetik perubahan
'''Teologi katolik''' dipahami sebagai refleksi kritis sistematis atas iman Katolik. Maka teologi katolik merenungkan kebenaran pokok-pokok iman katolik dalam terang wahyu ilahi, yaitu Tradisi dan Kitab Suci. Pertama-tama adalah pokok-pokok iman yang diungkapkan dalam syahadat atau pengakuan iman, terutama Syahadat Para Rasul (Puji Syukur 1) dan Syahadat hasil Konsili Nikea-Konstantinopel (Puji Syukur 2). Selanjutnya mengenai pelaksanaan iman dalam hidup sehari-hari.
 
== Maksud dan Tujuan Teologi ==
Gereja mengemban amanat Kristus untuk menyampaikan pesan keselamatan kepada semua orang. Penyampaian pesan dan pesan yang disampaikan haruslah benar. Teologi adalah studi tentang kebenaran iman dalam terang wahyu ilahi. Maka hasil teologi sangat bermanfaat menunjang pelaksanaan amanat Kristus dengan menjelaskan kebenaran iman melalui berbagai kegiatan Gereja: katekese, liturgi, diakonia pelayanan sosial dll(Paus Paulus VI, ''Evangelii Nuntiandi'' no.78)
 
Serial buku yang ditulis oleh Dr BS Mardiatmadja SJ pada tahun 1986 menunjukkan arah yang dituju umat dengan berteologi, yaitu beriman dengan taqwa, dengan radikal, dengan sadar, dengan tanggap dan dengan bertanggungjawab.
 
== Landasan Teologi ==
"Teologi suci bertumpu pada sabda Allah yang tertulis, bersama dengan Tradisi suci, sebagai landasan yang tetap. Di situlah teologi amat sangat diteguhkan dan selalu diremajakan, dengan menyelidiki dalam terang iman segala kebenaran yang tersimpan dalam rahasia Kristus. Adapun Kitab suci mengemban sabda Allah, dan karena diilhami memang sungguh-sungguh sabda Allah. Maka dari itu pelajaran Kitab suci hendaklah
bagaikan jiwa Teologi suci" (Vatikan II, ''Dei Verbum'' no 24)
 
== Berbagai bidang Teologi ==
=== Teologi Dogmatik ===
Teologi yang fundamental atau teologi dasar berkaitan dengan dogma atau ajaran Gereja. Di sini teologi adalah usaha untuk memahami kebenaran iman dengan menyelidiki rumusan ajaran Allah yang disampaikan entah melalui sumber-sumber Tradisi, Kitab suci, entah wewenang mengajar Gereja (Magisterium).
 
Dalam Tradisi terdapat prinsip bahwa penyampaian ajaran Kristus dari zaman ke zaman harus utuh dan lengkap. Sebab ajaran yang utuh dan lengkap itu adalah “wasiat iman” (depositum fidei). Karena itu selalu ada sikap berjaga-jaga konservatif atas kemurnian ajaran di dalam Gereja Katolik. Hal itu terutama ditujukan pada fondasi dan kerangka bangunan iman Gereja yang berasal dari Allah sejauh yang dipahami dalam Tradisi dan dinyatakan dalam Kitab Suci. Hal-hal lain yang bersifat tradisi manusia bisa berubah dalam ajaran Gereja. Maka secara garis besar ajaran Gereja Katolik dari zaman ke zaman bisa terlihat sama saja. Pembaruan hanya terjadi pada cara menerangkan, artikulasi serta penekanan, sesuai dengan bahasa dan kosa kata zaman, serta apa yang perlu dimengerti pada zaman itu, tetapi isi pokoknya adalah tetap tidak berubah.
* Allah Tritunggal Mahaesa
 
Pengakuan iman rasuli dan pengakuan iman Nikea Konstantinopel pada baris-baris awal mengajarkan iman kepada Allah Tritunggal Mahaesa. Mewarisi ajaran iman Israel: “Dengarlah, hai Israel, Allah itu esa”, iman Katolik berdasarkan ajaran rasul-rasul dan Kitab Suci mengenal adanya hubungan (relasi) tiga oknum atau pribadi dalam keesaan Allah. Dari permulaan Kitab Suci, yaitu Kitab Kejadian, sudah ditampilkan gambaran awal mengenai relasi tritunggal, yaitu Allah sebagai sumber semua ciptaan, yang mencipta dengan sabda, dan yang sebagai Roh melayang-layang (Kej 1). Dari peristiwa Yesus Kristus selanjutnya terungkap bahwa sumber semua ciptaan itu adalah Bapa, sabda itu Putera, dan Roh Kudus adalah Roh keduanya. Pemahaman akan Bapa hanya niscaya karena Putera dan Roh Kudus. Putera hanya niscaya karena Bapa dan RohNya. Roh Kudus dikatakan berasal dari Bapa dan adalah Roh Kristus juga. Orang Katolik dibaptis “dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus” dan diutus untuk mewartakan iman “dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus”. Maka segala sesuatu dalam hidup orang Katolik, diungkapkan dengan tanda salib, diresapi oleh iman akan kehadiran dan karya Allah Tritunggal yang esa: “Bapa dan Putera dan Roh Kudus”. Ajaran Kredo Athanasius menyatakan: “Bapa adalah Allah, Putera adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah, tetapi tidak ada tiga Allah melainkan hanya satu Allah yang esa” (J.N.D. Kelly, 1964, ''The Athanasian Creed''. Harper and Row). Allah Tritunggal Mahaesa ini merupakan misteri terbesar dalam iman Katolik yang diusahakan direnungkan dan dijelaskan dengan teologi. (Lihat Katekismus Gereja Katolik no.238-267).
 
Pengakuan iman menyatakan “Percaya akan Allah, Bapa yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi” – “yang kelihatan maupun tidak kelihatan”. Teologi berusaha menjelaskan pokok iman itu baik melalui teologi kodrati yang menekankan peran akal budi, maupun teologi adikodrati yang menekankan peran wahyu ilahi dengan bukti-bukti alkitabiah (lih Katekismus Gereja Katolik no. 198-421). Sepanjang tahun 1999 Paus Yohanes Paulus mengajak umat merenungkan Allah Bapa melalui acara audiensi umum yang dilakukannya setiap hari Rabu dalam rangka menyambut milenium baru.
 
Selanjutnya pengakuan iman menyatakan semua fakta yang terdapat dalam kitab suci Perjanjian Baru: “Percaya akan Yesus Kristus, PuteraNya yang Tunggal Tuhan kita,” – “Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad. Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar, Ia dilahirkan, bukan dijadikan. Sehakikat dengan Bapa, segala sesuatu dijadikan olehNya. Ia turun dari surga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita. Dan Ia menjadi daging oleh Roh Kudus dari Perawan Maria, dan menjadi manusia”, “Dikandung dari Roh Kudus dilahirkan oleh Perawan Maria”—“Menderita sengsara dalam pemerintahan Ponsius Pilatus” – “Iapun disalibkan untuk kita, waktu Ponsius Pilatus, Ia wafat kesengsaraan dan dimakamkan” – “Disalibkan, wafat dan dimakamkan, turun ke tempat penantian” – “Pada hari ketiga Ia bangkit” – “dari antara orang mati” – “menurut Kitab Suci” – “Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa” – “Ia naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa” – Dari situ Ia akan datang” – “Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati”. Teologi menjelaskan pokok-pokok iman itu dalam kajian [[Kristologi]]. (Lihat juga Katekismus Gereja Katolik no. 422-682).
 
Pokok iman berikutnya adalah: “Percaya akan Roh Kudus” – “Dia Tuhan yang menghidupkan. Ia berasal dari Bapa dan Putera. Yang serta Bapa dan Putera disembah dan dimuliakan. Ia bersabda dengan perantaraan para nabi.” Teologi merenungkan dan menjelaskan Roh Kudus dalam kajian [[Pneumatologi]]. (Lihat juga Katekismus Gereja Katolik no. 683-747).
 
 
:* Penyertaan Maria (Mariologi)
 
=== Teologi tentang Gereja atau Eklesiologi ===
Eklesiologi adalah teologi yang berhubungan dengan pokok pengakuan iman katolik yang menyatakan: “Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik” – “Gereja katolik yang kudus, persekutuan para kudus.” Jadi eklesiologi adalah teologi tentang Gereja.
 
Setelah Yerusalem dihancurkan Roma pada tahun 70 murid-murid Tuhan terpencar-pencar dalam diaspora. Sebagian hidup dalam himpunan seperti di Antiokhia, di Efesus, di Korintus, bahkan di Aleksandria dan Roma. Sebagian karena melihat penganiayaan di mana-mana “menyendiri” (itulah artinya monistis), baik betul-betul sendirian sebagai pertapa (eremit), maupun berkelompok dalam satu biara (menjadi rahib). Tujuannya adalah kesucian.
 
Zaman para Bapa Gereja (patristik) kurang lebih terentang antara tahun 150 hingga 800. Paham tentang Gereja bersumber dari tafsir Kitab Suci dan tekanan yang bersifat kristologis. Pada masa ini St Hieronimus menerjemahkan Kitab Suci Yunani (LXX) ke dalam bahasa Latin. Paham mereka tentang Gereja belum sistematik dan lebih tipologis. Nuansa asketis (mengejar kesucian dengan laku saleh) dan monistis (bersifat kebiaraan) sangat menonjol.
 
Teologi asketis (mati raga, tapa, berkorban) diutamakan, sehingga himpunan-himpunan awam yang tidak melakukan itu dianggap warga kelas dua. Persekutuan para kudus mendapat penekanan. Santo Agustinus (354-450) menyebut civitas Dei (umat Allah) namun yang diperhatikan di dalamnya bukan persaudaraan, melainkan ibadat. Tokoh lain yang terkenal adalah St Antonius (251-336) yang memberikan peraturan-peraturan awal. Regula kebiaraan selanjutnya bersumber pada St Beneditus (480-543). Maka Gereja bersifat sakramental. Dan tanda sakramental itu mengikuti nasehatnasihat Injil untuk hidup miskin di hadapan Allah dan dalam ketaatan kepada Allah seperti yang terdapat dalam Mrk 10:17-22.
 
Pada zaman patristik inilah Gereja dipahami dengan empat cirinya: satu, kudus, katolik, apostolik. Ciri ini diteguhkan dalam Konsili Nikea (326).
Teologi katolik mengenai Gereja terpapar dengan jelas dalam konstitusi Konsili Vatikan II [[Lumen Gentium]]. Dokumen Konsili Vatikan II, yang lain juga menjelaskan berbagai hal mengenai aspek-aspek tertentu dari Gereja misalnya konstitusi pastoral [[Gaudium et Spes]] (tentang Gereja di dalam dunia modern); dekrit [[Ad Gentes]] (tentang misi Gereja); empat dokumen tentang fungsi dan peran anggota-anggota Gereja yaitu dekrit [[Christus Dominus]] (tentang Uskup); dekrit [[Presbiterorum Ordinis]] (tentang Imam); dekrit [[Apostolicam Actuositatem]] (tentang kerasulan awam) dan [[Perfectae Caritatis]] (tentang hidup bakti religius). Kemudian mengenai hubungan-hubungan dengan sesama umat Allah diperikan dalam dekrit [[Unitate Redintegratio]] (tentang Ekumenisme); [[Orientalium Ecclesiae]] (tentang Gereja-gereja Timur) dan Deklarasi [[Nostra Aetate]] (tentang dialog dan kerjasama dengan umat non-kristen). Ajaran mengenai Gereja dan teologinya juga dirangkum dalam Katekismus Gereja Katolik.
 
=== Teologi Moral ===
* Moralitas Sepuluh Perintah Allah
* Moralitas Khotbah Dibukit
* Moral Sosial, Moral Keterlibatan
 
=== Teologi Pastoral ===
 
=== Teologi Sosial ===
:* Teologi Kerja
:* Teologi Pembebasan
:* Teologi Perkembangan
 
=== Apologetika ===
 
 
== Metode Teologi ==
* Teologi Kodrati
* Teologi adikodrati
* Teologi kontekstual
 
== Teologi dan zamannya ==
* Teologi Patristik
* Teologi Skolastik
* Teologi Kontemporer
 
== Referensi ==
# JB Banawiratma, ed. 1986. Kristologi dan Allah Tritunggal. Kanisius.
# JB Banawiratma, ed. 1987, Kemiskinan dan Pembebasan. Kanisius.
628.670

suntingan