Gereja Katolik di Indonesia: Perbedaan revisi

255 bita ditambahkan ,  9 tahun yang lalu
Pada tanggal 4 April 1808, dua orang Imam dari Negeri Belanda tiba di Jakarta, yaitu Pastor Jacobus Nelissen, Pr dan Pastor Lambertus Prisen, Pr. Yang diangkat menjadi [[Prefektur apostolik|Prefek Apostolik]] pertama adalah Pastor J. Nelissen, Pr.
 
Setelah Gubernur Jendral [[Daendels]] (1808-1811) walaupun kebebasan beragama kemudian diberlakukan, namun agama Katolik saat itu agak dipersukar. Hal itu karena pergantian kekuasaan di Belanda setelah kekalahan Napoleon pada 1815, yang mengangkat Willem I menjadi raja Belanda. Selain itu misi di Hindia-Belanda kekurangan tenaga. Imam saat itu hanya 5 orang untuk memelihara umat sebanyak 9.000 orang yang hidup berjauhan satu sama lainnya. AkanDengan tetapikerja keras, Prefektur Apostolik Batavia dinaikkan statusnya menjadi Vikariat Apostolik pada 20 September 1842. Situasi berangsur-angsur membaik setelah perundingan berangsur-angsur dengan pihak pemerintah pada tahun 1847. Pada tahun [[1889]], kondisi ini membaik, karena ada 50 orang imam di Indonesia sejak misi di Hindia Belanda diserahkan kepada Serikat Yesus (SY). Di daerah [[Yogyakarta]], misi Katolik dilarang sampai tahun [[1891]].
 
=== Van Lith ===
251

suntingan