Prasasti Ciaruteun: Perbedaan revisi

97 bita ditambahkan ,  10 tahun yang lalu
+file, tidak ada hubungan dengan bhs portugis
k (Bot: perubahan kosmetika)
(+file, tidak ada hubungan dengan bhs portugis)
Prasasti Ciaruteun terletak di desa Ciaruteun Hilir, kecamatan Cibungbulang, [[Kabupaten Bogor]] tepatnya pada koordinat 0°7’2,76” BB (dari Jakarta) dan 6°38’09”.
 
Tempat ditemukannya prasasti ini merupakan bukit (bahasa Sunda: pasir) yang diapit oleh tiga sungai: [[sungai Cisadane|Cisadane]], [[sunga Cianten|Cianten]] dan [[sungai Ciaruteun|Ciaruteun]]. Sampai [[abad ke-19]], tempat ini masih dilaporkan sebagai Pasir Muara, yang termasuk dalam tanah swasta Ciampéa (sekarang termasuk wilayah [[Cibungbulang, Bogor|Kecamatan Cibungbulang]]).
 
Menurut ''[[Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara]]'' parwa 2, sarga 3, halaman 161 disebutkan bahwa Tarumanagara mempunya ''rajamandala'' (bawahan) yang dinamai "Pasir Muhara".
 
== Penemuan ==
[[File:Prasasti Ciaruteun-Museum Sejarah Jakarta.JPG|thumb|right|Prasasti Ciaruteun di [[Museum Sejarah Jakarta]].]]
 
Prasasti Ciaruteun dilaporkan oleh pemimpin Bataaviasch Genootschap van Kunsten en Weten-schappen (sekarang Museum Nasional) pada tahun 1863. Akibat banjir besar pada tahun 1893 batu prasasti ini terhanyutkan beberapa meter ke hilir dan bagian batu yang bertulisan menjadi terbalik posisinya ke bawah. Kemudian pada tahun 1903 prasasti ini dipindahkan ke tempat semula. Pada tahun 1981 Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengangkat dan memindahkan prasasti batu ini agar tidak terulang terseret banjir.
 
* [[Bahasa Melayu]]
* [[Aksara Melayu]]
* [[Bahasa Portugis]]
 
== Rujukan ==
12.752

suntingan