Herman Neubronner van der Tuuk: Perbedaan revisi

tidak ada ringkasan suntingan
Sebelum meninggal, Agustus 1888, ia sempat menulis surat kepada seorang temannya. Ia mengaku "setengah gila” karena terdorong ambisinya untuk membuat kamus Kawi-Bali, “…berserakan bentukan kata-kata, cukup untuk membuatmu gila; aku setengah gila karena sengsara.”
 
Dalam buku ”Mirror of the Indies”, [[Rob Nieuwehuys]] mengutip komentar seorang pendeta Bali (pedanda) yang sangat berpengaruh ketika itu, “Hanya ada satu orang di seluruh penjuru Bali yang tahu dan paham bahasa Bali, orang itu adalah Tuan Dertik (Mr. Van der Tuuk).”
 
H.N. Van der Tuuk sejak 1870 (ada juga yang mengatakan tahun 1850-an) ia menetap di Singaraja (Buleleng) Bali Utara, di sebuah rumah bambu sangat sederhana. Sebagai seorang linguist (ahli bahasa Bali, Jawa Kuna, Melayu dan bahasa lainnya), sebelum datang ke Bali, ia telah sempat bekerja di Batak sebagai peneliti dan ahli bahasa Batak. Kamus Batak dan terjemahan Injil telah ia kerjakan. Kedatangannya ke Bali sebagai ahli bahasa awalnya juga dibiayai untuk menjadi penerjemah Injil.
Di masa tuanya, konon, ia sering berjalan-jalan di pantai Singaraja, dengan tungked (tongkat untuk membantu berjalan) yang di ujungnya berpentol besar. Kalau ada yang mengganggunya atau menertawakan caranya berjalan, ia memukul kepala orang-orang dengan pentol tongkatnya.
 
Di Rumah Sakit Militer Surabaya, malam hari tanggal 16 Augutus 1894 dini hari (17 Agustus 1894), setelah terserang disentri beberapa lama, ia mengembuskan napasnya yang terakhir. Sekitar seratus surat dan ribuan catatannya tergeletak di sebuah rumah bambu di Singaraja. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman kristenKristen Peneleh, [[Surabaya]]<ref name=denis/>.
 
== Yayasan Van der Tuuk ==<ref name=denis/>.
Memasuki 34 tahun kematian Van der Tuuk, diselenggarakan sebuah pertemuan sangat bersejarah. Tempatnya di Kintamani, kawasan pegunungan Batur, tanggal 2 Juni 1928. L.J.J Caron (residen/perwakilan pemerintah Belanda di Bali dan Lombok) dan para raja serta tokoh agama bertemu untuk berdiskusi mengenai kekayaan kesenian sastra dan lontar-lontar yang tersebar di seluruh Bali.
 
Dalam pengantar kamus itu terungkap jasa dari koleksi Van der Tuuk dan Perpustakaan Kirtya dalam penyususan kamus megaproyek yang dikerjakan Romo Zoet dengan kecintaan –jangan pernah membayangkan proyek ini mendapat sponsor pemerintah.
 
Dalam Kalangwan, ”A Survey of Old Javanese Literature” (Kalangwan, Selayang Pandang Sastra Jawa Kuna), Prof. P.J. [[Zoetmulder]] memberi kesaksian terhadap peranan besar Perpustakaan Kirtya: “Terdapat tiga koleksi utama, yaitu Perpustakaan Nasional di Jakarta, dulu dikenal sebagai Batavians Genootschap van Kunsten en Wetenchappen; di perpustakaan Universitas Negeri di Leiden, Negeri Belanda, dan di Perpustakaan Kirtya di Singaraja (dulu perpustakaan Kirtya Liefrinck der Tuuk).
 
Kalau diperhatikan jumlah naskah yang dimiliki sebuah perpustakaan, maka Leiden-lah menduduki tempat pertama, khususnya karena koleksi lontar dari Lombok dan koleksi dari warisan H.N. Van der Tuuk. Tetapi di lain pihak Kirtya memiliki keanekaragaman yang lebih besar mengenai karya-karya Jawa Kuna, walaupun umumnya hanya satu salinan dari setiap karya.
Kemudian lontar-lontar itu disalin dengan seteliti mungkin oleh sebuah kelompok penyalin yang bekerja untuk perpustakaan Kirtya dengan bentuk huruf yang sama dan di atas bahan yang sama (daun lontar), dan kemudian lontar-lontar (pinjaman) itu dikembalikan kepada pemiliknya. Hanya kecillah kemungkinan bahwa naskah penting lolos dari perhatian kita dan tetap tersembunyi dalam salah satu tempat terpencil.
 
Perpustakaan Lontar Kirtya, atau lebih dikenal dengan nama [[Gedong Kirtya]], yang kini berfungsi sebagai perpustakaan naskah atau lontar-lontar Bali, bercikal bakal dari koleksi buku-buku dan lontar-lontar yang diwariskan Van der Tuuk.
 
 
== Referensi ==
 
[[Sugi Lanus]], 2006. "Van der Tuuk – Sang Juru Selamat Bali" oleh Sugi Lanus, dimuat dalam koran. Bali Post, Sabtu Wage, 7 Januari 2006 http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/1/7/f2.htm
{{reflist}}
 
7

suntingan