Ahmad Dahlan: Perbedaan revisi

390 bita ditambahkan ,  10 tahun yang lalu
k
k (bot kosmetik perubahan)
 
Perkumpulan-perkumpulan dan Jama'ah-jama'ah ini mendapat bimbingan dari Muhammadiyah, yang diantaranya ialah [[Ikhwanul Muslimin]], [[Taqwimuddin]], [[Cahaya Muda]], [[Hambudi-Suci]], [[Khayatul Qulub]], [[Priya Utama]], [[Dewan Islam]], [[Thaharatul Qulub]], [[Thaharatul-Aba]], [[Ta'awanu alal birri]], [[Ta'ruf bima kanu wal- Fajri]], [[Wal-Ashri]], [[Jamiyatul Muslimin]], [[Syahratul Mubtadi]].<ref>Kutojo dan Safwan, 1991: 33</ref>
 
Dahlan juga bersahabat dan berdialog dengan tokoh agama lain seperti Pastur [[van Lith]] pada 1914-1918. Van Lith adalah pastur pertama yang diajak dialog oleh Dahlan. Pastur van Lith di Muntilan yang merupakan tokoh di kalangan keagamaan Katolik. Pada saat itu Kiai Dahlan tidak ragu-ragu masuk gereja dengan pakaian hajinya<ref>Muhammadiyah Gerakan Pembaruan, Haedar Nashir, 2010</ref>.
 
Gagasan pembaharuan Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, disamping juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama makin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal [[7 Mei]] [[1921]] Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal [[2 September]] [[1921]].
8.156

suntingan