Buka menu utama

Perubahan

215 bita ditambahkan ,  9 tahun yang lalu
k
ref
'''Sang Pencerah''' adalah film drama tahun [[2010]] yang disutradarai oleh [[Hanung Bramantyo]] berdasarkan kisah nyata tentang pendiri [[Muhammadiyah]], [[Ahmad Dahlan]]. Film ini dibintangi oleh [[Lukman Sardi]] sebagai Ahmad Dahlan, [[Muhammad Ihsan Tarore|Ihsan Idol]] sebagai Ahmad Dahlan Muda, dan [[Zaskia Adya Mecca]] sebagai Nyai Ahmad Dahlan.
 
Film ini menjadikan sejarah sebagai pelajaran di masa kini tentang toleransi, koeksistensi (bekerjasama dengan yang berbeda keyakinan), kekerasan berbalut agama, dan semangat perubahan yang kurang<ref>[http://movie.detikhot.com/read/2010/09/07/111422/1436611/918/sang-pencerah-kisah-sang-panutan-bangsa 'Sang Pencerah': Kisah Sang Panutan Bangsa], DetikHot Movie</ref>.
 
== Sinopsis ==
Bukan sekali ini Ahmad Dahlan (Lukman Sardi) membuat para kyai naik darah. Dalam khotbah pertamanya sebagai khatib, dia menyindir kebiasaan penduduk di kampungnya, Kampung [[Kauman, Yogyakarta]]. "Dalam berdoa itu cuma ikhlas dan sabar yang dibutuhkan, tak perlu kiai, ketip, apalagi sesajen," katanya. Walhasil, Dahlan dimusuhi.
 
Langgar kidul di samping rumahnya, tempat dia salat berjemaah dan mengajar mengaji, bahkan sempat hancur diamuk massa lantaran dianggap menyebarkan aliran sesat<ref name=resensitempo>[http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2010/09/08/Budaya/index.html Jejak Langkah Ahmad Dahlan], Koran Tempo 8 September 2010</ref>.
 
Dahlan, yang piawai bermain biola, dianggap kontroversial. Ahmad Dahlan juga di tuduh sebagai kyai Kafir karena membuka sekolah yang menempatkan muridnya duduk di kursi seperti sekolah modern Belanda, serta mengajar agama Islam di sekolah Belanda [[OSVIA]] Magelang.
Sebagai sutradara, Hanung juga dituntut untuk menghidupkan atmosfer dan lanskap Yogyakarta pada akhir 1800-an. Selain dilakukan di Yogyakarta, syuting digelar di [[Musium Kereta Api Ambarawa]] dan kompleks [[Kebun Raya Bogor]] yang disulap menjadi Jalan Malioboro lengkap dengan Tugu Yogyakarta pada zaman itu. Hanung juga mengembalikan dan mereka ulang bangunan Masjid Besar Kauman, Kota Gede, Bintaran, dan wilayah keraton seratus tahun silam dengan bangunan set lokasi serealistis mungkin. Di beberapa adegan, misalnya saat Dahlan beribadah haji, Hanung juga menggunakan potongan film dokumenter lama koleksi [[Perpustakaan Nasional]].
 
Dana yang dikeluarkan untuk pembuatan film ini lumayan besar, sekitar Rp 12 miliar. Selain itu, biaya besar dibutuhkan untuk kostum pemain. Misalnya, pakaian batik yang dikenakan pemain mesti sesuai dengan batik pada 1900. Jarik atau kain panjang sengaja didesain khusus untuk film Sang Pencerah sesuai dengan motif yang memang dikenal pada 1900-an; termasuk perlengkapan sorban yang sengaja dibuat sendiri untuk keperluan syuting<ref name=resensitempo />.
 
== Referensi ==
8.156

suntingan