Dretarastra: Perbedaan revisi

140 bita ditambahkan ,  10 tahun yang lalu
k
tidak ada ringkasan suntingan
k (bot kosmetik perubahan)
k
}}
{{HastinaRaja}}
'''Dretarastra''' {{Sanskerta|धृतराष|Dhṛtarāṣṭra}} dalam [[wiracarita]] ''[[Mahabharata]]'', adalah putra janda [[Wicitrawirya]], danyaitu [[Ambika]]. Ia buta semenjak lahir, karena ibunya menutup mata sewaktu mengikuti upacara ''Putrotpadana'' yang diselenggarakan oleh Resi [[Byasa]] untuk memperoleh keturunan. Ia merupakan saudarakakak tiri [[Pandu]], dankarena lain ibu lebihnamun tuasatu darinyaayah. Sebenarnya Dretarastra yang berhak menjadi Raja [[Hastinapura]] karena ia merupakan puterapenerus Wicitrawirya yang tertua. Akan tetapi beliau buta sehingga pemerintahan harus diserahkan kepada adiknya. Setelah Pandu wafat, ia menggantikan jabatan adiknya tersebut. Dretarastra adalahmenikah dengan [[Gandari]], putri [[kerajaan Gandhara]]. Ia menjadi bapak daribagi para [[Korawa|Seratus Korawa]], [[Dursala]], dan suami [[GandariYuyutsu]].
 
== Kelahiran ==
 
Ayah Dretarastra adalahMenurut ''[[WicitrawiryaMahabharata]]'', danWicitrawirya ibunyabukanlah adalahayah [[Ambika]].biologis SetelahDretarastra, sebab Wicitrawirya wafat tanpa memiliki keturunan,. [[Satyawati]] mengirim kedua istri Wicitrawirya, yaitu [[Ambika]] dan [[Ambalika]], untuk menemui Resi [[Byasa]], sebab Sang Resi akandipanggil untuk mengadakan suatu upacara bagi mereka agar memperoleh keturunan. [[Satyawati]] menyuruh [[Ambika]] agar menemui Resi [[Byasa]] di ruang upacara. Setelah Ambika memasuki ruangan upacara, ia melihat wajah Sang Resi sangat dahsyat dengan mata yang menyala-nyala. Hal itu membuatnya menutup mata. Karena Ambika menutup mata selama upacara berlangsung, maka anaknya terlahir buta. Anak tersebut adalah Dretarastra.
 
== Masa pemerintahan ==
 
Karena Dretarastra terlahir buta, maka tahta kerajaan diserahkan kepada adiknya, yaitu [[Pandu]], putra [[Ambalika]]. Setelah Pandu wafat, Dretarastra menggantikannya sebagai raja (kadangkala disebut sebagai pejabat pemerintahan untuk sementara waktu). Dalam memerintah, Dretarastra didampingi oleh keluarga dan kerabatnya, yaitu sesepuh Wangsa Kuru seperti misalnya [[Bisma]], [[Widura]], [[Drona]], dan [[Krepa]].
 
Saat puteraputra pertamanya yaitu [[Duryodana]] lahir, [[Widura]] dan [[Bisma]] menasihati Dretarastra agar membuang puteraputra tersebut karena tanda-tanda buruk menyelimutimuncul pada saat-saat kelahirannya. Namun karena rasa cintanya terhadap puteraputra pertamanya tersebut, ia tidak tega melakukannya dan tetap mengasuh Duryodana sebagai puteranyaputranya.
 
=== Perebutan kekuasaan ===
Dretarastra memiliki seorang pemandu yang bernama [[Sanjaya (Mahabharata)|Sanjaya]]. Sanjaya adalah keponakan Dretarastra karena ia merupakan putera [[Widura]], yaitu adik tiri Dretarastra. Sanjaya diberi anugerah oleh Resi [[Byasa]] agar ia bisa melihat masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Ialah yang menjadi reporter [[perang di Kurukshetra]] bagi Dretarastra. Ia pula yang turut menyaksikan wujud ''Wiswarupa'' dari Sri [[Kresna]] menjelang pertempuran di [[Kurukshetra]] berlangsung.
 
Saat Dretarastra dihantui kecemasan akan kehancuran puteraputra-puteranyaputranya, ia selalu bertanya kepada [[Sanjaya (Mahabharata)|Sanjaya]] mengenai keadaan di medan Kuru atau [[Kurukshetra]]. Berita yang dilaporkan oleh Sanjaya kebanyakan berupa berita duka bagi Dretarastra, sebab satu-persatu puteranya dibunuh oleh [[Arjuna]] dan [[Bima (tokoh Mahabharata)|Bima]]. Sanjaya juga berkata bahwa apabila [[Kresna]] dan Arjuna berada di pihak Pandawa, maka di sanalah terdapat kejayaan, kemashyuran, kekuatan luar biasa, dan moralitas. Meskipun laporan Sanjaya sering mengecilkan hati Dretarastra dan memojokkan putera-puteranya, namun Dretarastra tetap setia mengikuti setiap perkembangan yang terjadi dalam [[Perang di Kurukshetra|pertempuran di Kurukshetra]].
 
== Penghancuran patung Bima ==
 
Pada akhir pertempuran, Dretarastra menahan rasa duka dan kemarahannya atas kematian seratus puteranyaputranya. Saat ia bertemu para [[Pandawa]] yang meminta restunya karena mereka menjadi pewaris tahta, ia memeluk mereka satu persatu. Ketika tiba giliran [[Bima (tokoh Mahabharata)|Bima]], pikiran jahat merasuki Dretarastra dan rasa dendamnya muncul kepada Bima atas kematian putera-puteranya, terutama [[Duryodana]] dan [[Dursasana]]. [[Kresna]] tahu bahwa meskipun Dretarastra buta, ia memiliki kekuatan yang setara dengan seratus [[gajah]]. Maka dengan cepat Kresna menggeser [[Bima (tokoh Mahabharata)|Bima]] dan menggantinya dengan sebuah [[patung]] menyerupai Bima. Pada saat itu juga Dretarastra menghancurkan patung tersebut sampai menjadi debu. Akhirnya Bima selamat dan Dretarastra mulai mengubah perasaannya serta memberikan anugerahnya kepada [[Pandawa]].
 
== Kehidupan selanjutnya dan kematian ==
Setelah [[Perang di Kurukshetra|pertempuran besar]] di [[Kurukshetra]] berakhir, [[Yudistira]] diangkat menjadi Raja [[Indraprastha]] sekaligus [[Hastinapura]]. Meskipun demikian, Yudistira tetap menunjukkan rasa hormatnya kepada Dretarastra dengan menetapkan bahwa tahta Raja [[Hastinapura]] masih dipegang oleh Dretarastra. Akhirnya Dretarastra memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawai dan mengembara di hutan sebagai pertapa bersama [[Gandari]], [[Widura]], [[Sanjaya (Mahabharata)|Sanjaya]], dan [[Kunti]]. Di dalam hutan di [[Himalaya]], mereka meninggal ditelan api karena hutan terbakar oleh api suci yang dikeluarkan oleh Dretarastra.
 
== Versi Pewayanganpewayangan Jawa ==
Sedikit berbeda dengan versi aslinya, tokoh Dretarastra dalam pewayangan Jawa disebut sebagai putra kandung [[Abyasa]] (Byasa).
 
=== Kelahiran ===
Dretarastra atau kadang disingkat Destarata, dilahirkan oleh [[Ambika]] dalam keadaan buta sebagai pengingat karena ketika pertama kali berjumpa dengan [[Abyasa]], ibunya itu memejamkan mata. Kedatangan [[Abyasa]] ke negeri [[Hastina]] ialah atas undangan ibunya, yaitu [[Durgandini]] untuk menikahi janda-janda [[Citrawirya]]. Tujuannya ialah untuk menyambung garis keturunan Wangsa BharataBarata, karena pewaris yang sesungguhnya, yaitu [[Bisma]], telah bersumpah untuk hidup ''wahdat''.
 
Sewaktu kecil Dretarastra serta kedua adiknya, yaitu [[Pandu]] dan [[Widura]] berguru kepada [[Bisma]] tentang ilmu pemerintahan dan kesaktian. Meskipun menyandang [[tunanetra]], namun Dretarastra mampu menguasai ilmu ''Lebur Geni'' sehingga mampu meremukkan apa saja melalui genggamannya.
Dengan berbagai cara, [[Korawa]] berusaha menyingkirkan [[Pandawa]]. Akhirnya [[Pandawa]] pun dinyatakan tewas dalam peristiwa ''Balai Sigala Gala'', yaitu pembakaran kelima bersaudara itu dalam sebuah istana rapuh. Setelah peristiwa itu, Dretarastra pun menyerahkan takhta [[Hastina]] kepada putra tertuanya yang bernama [[Duryudana]], sedangkan dirinya kembali menjadi adipati di Gajah Oya.
 
=== Akhir Hayathayat ===
Setelah [[Korawa]] tumpas dalam perang [[Baratayuda]], pihak [[Pandawa]] datang ke [[Hastina]] untuk mengambil hak mereka atas takhta negeri itu. Dretarastra memanggil [[Bimasena]] ([[Pandawa]] nomor dua) untuk dipeluknya. Karena curiga, [[Kresna]] selaku penasihat [[Pandawa]] memberi isyarat agar [[Bima]] menyerahkan benda lain sebagai ganti dirinya. [[Bimasena]] pun menyodorkan pusakanya bernama Gada Rujakpolo untuk dipeluk Dretarastra. Dengan penuh rasa dendam, Dretarastra pun memeluk gada tersebut sampai hancur menggunakan ilmu Lebur Geni. Namun setelah mengetahui kalau dirinya tertipu, ia pun menyesal dan minta maaf.
 
[[Bimasena]] pun menyodorkan pusakanya bernama Gada Rujakpolo untuk dipeluk Dretarastra. Dengan penuh rasa dendam, Dretarastra pun memeluk gada tersebut sampai hancur menggunakan ilmu Lebur Geni. Namun setelah mengetahui kalau dirinya tertipu, ia pun menyesal dan minta maaf.
 
Kematian Dretarastra versi pewayangan tidak jauh berbeda dibanding versi aslinya. Ia dikisahkan terbakar sewaktu bertapa bersama [[Gendari]] dan [[Kunti]] di tengah hutan.
 
== Pranala luar ==
* {{en}} [http://www.indianetzone.com/3/dhritarashtra.htm Dhritarashtra in Indianetzone.com]
* {{en}} [http://www.britannica.com/EBchecked/topic/160837/Dhritarashtra Dhritarashtra - Encyclopaedia Britannica]