Buka menu utama

Perubahan

872 bita ditambahkan, 9 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
'''Kaharingan/Hindu Kaharingan''' adalah [[religi suku]] atau [[kepercayaan]] [[tradisional]] suku [[Dayak]] di [[Kalimantan]]. Istilah kaharingan artinya tumbuh atau hidup, seperti dalam istilah ''danum kaharingan belum'' (air kehidupan), maksudnya agama suku atau kepercayaan terhadap [[Tuhan Yang Maha Esa]] (''Ranying''), yang [[hidup]] dan [[tumbuh]] secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di Kalimantan. Pemerintah [[Indonesia]] mewajibkan [[penduduk]] dan [[warganegara]] untuk menganut salah satu [[agama]] yang diakui oleh [[pemerintah]] [[Republik Indonesia]]. Oleh sebab itu kepercayaan Kaharingan dan religi suku yang lainnya seperti [[Tollotang]] ([[Hindu Tollotang]]) pada [[suku Bugis]], dimasukkan dalam kategori [[agama]] [[Hindu]], mengingat adanya persamaan dalam penggunaan sarana kehidupan dalam melaksanakan ritual untuk korban (sesaji) yang dalam agama Hindu disebut ''[[Yadnya]]''. Jadi mempunyai tujuan yang sama untuk mencapai [[Tuhan Yang Maha Esa]], hanya berbeda kemasannya. Tuhan Yang Maha Esa dalam istilah agama Kaharingan disebut ''Ranying''. Dewasa ini, suku Dayak sudah diperbolehkan mencantumkan agama Kaharingan dalam [[Kartu Tanda Penduduk]], dengan demikian suku Dayak yang melakukan upacara perkawinan menurut adat Kaharingan, diakui pula pencatatan perkawinan tersebut oleh negara.
 
Kaharingan ini pertama kali diperkenalkan oleh [[Tjilik]] [[Riwut]] tahun 1944, saat Ia menjabat Residen [[Sampit]] yang berkedudukan di [[Banjarmasin]]. Tahun 1945, pendudukan Jepang mengajukan Kaharingan sebagai penyebutan agama Dayak. Sementara pada masa Orde Baru, para penganutnya berintegrasi dengan Hindu, menjadi Hindu Kaharingan. Pemilihan integrasi ke Hindu ini bukan karena kesamaan ritualnya. Tapi dikarenakan Hindu adalah agama tertua di Kalimantan.
 
Lambat laun, Kaharingan mempunyai tempat ibadah yg dinamakan [[Balai]] [[Basarah]] atau BALAI KAHARINGAN. Kitab suci agama mereka adalah [[panaturan]] dan buku-buku agama lain, seperti Talatah Basarah (Kumpulan Doa), Tawar (petunjuk tatacara meminta pertolongan Tuhan dgn upacara menabur beras), dan sebagainya.
 
Dewasa ini, suku Dayak sudah diperbolehkan mencantumkan agama Kaharingan dalam [[Kartu Tanda Penduduk]], dengan demikian suku Dayak yang melakukan upacara perkawinan menurut adat Kaharingan, diakui pula pencatatan perkawinan tersebut oleh negara. Hingga tahun 2007, Badan Pusat Statistik Kalteng mencatat ada 223.349 orang penganut Kaharingan di Indonesia
 
Tetapi di [[Malaysia]] [[Timur]] ([[Sarawak]], [[Sabah]]), nampaknya kepercayaan Dayak ini tidak diakui sebagai bagian umat beragama [[Hindu]], jadi dianggap sebagai masyarakat yang belum menganut suatu agama apapun. Organisasi alim ulama Hindu Kaharingan adalah [[Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan]] (MBAHK) pusatnya di [[Palangkaraya]], [[Kalimantan Tengah]].
8

suntingan