Kerajaan Panjalu Ciamis: Perbedaan revisi

13 bita ditambahkan ,  9 tahun yang lalu
[[Berkas:Nyangku2010.jpg|thumb|left|Upacara Nyangku 11 Maret 2010. Sesepuh Panjalu, berpakaian adat Sunda warna hitam baris kedua dari depan dari kiri ke kanan: HR Atong Tjakradinata (mantan Kuwu/Kepala Desa Panjalu), HRM Tisna Argadipraja (cicit Rd. Demang Aldakusumah)]][[Berkas:nyangku2.jpg|thumb|left|rombongan pembawa pusaka keluar dari Bumi Alit menuju Nusa Larang di Situ Lengkong]][[Berkas:nyangku3.jpg|thumb|left|barisan pembawa perlengkapan upacara]][[Berkas:nyangku4.jpg|thumb|left|para jagabaya bersenjata tombak dan golok mengawal prosesi acara]][[Berkas:nyangku5.jpg|thumb|left|ribuan orang memadati Alun-alun Panjalu menyaksikan proses penjamasan pusaka]][[Berkas:nyangku6.jpg|thumb|left|ritual penjamasan pusaka (kiri-kanan) HR Afdanil Ahmad Kertadipraja & HRM Tisna Argadipraja]]
 
Nyangku adalah suatu rangkaian prosesi adat penjamasan (penyucian) benda-benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora dan para Raja serta Bupati Panjalu penerusnya yang tersimpan di Pasucian Bumi Alit. Istilah Nyangku berasal dari kata bahasa Arab "''yanko''" yang artinya membersihkan, mungkin karena kesalahan pengucapan lidah orang Sunda sehingga entah sejak kapan kata ''yanko'' berubah menjadi ''nyangku''.Upacara Nyangku ini dilaksanakan pada Hari Senin atau Kamis terakhir Bulan Maulud (Rabiul Awal).
 
Dalam rangka mempersiapkan bahan-bahan untuk pelaksanaan upacara Nyangku ini pada jaman dahulu biasanya semua keluarga keturunan Panjalu menyediakan beras merah yang harus dikupas dengan tangan, bukan ditumbuk sebagaimana biasa. Beras merah ini akan digunakan untuk membuat tumpeng dan sasajen (sesaji). Pelaksanaan menguliti gabah merah dimulai sejak tanggal 1 Mulud sampai dengan satu hari sebelum pelaksanaan Nyangku.
780

suntingan