Batara Kala: Perbedaan revisi

66 bita ditambahkan ,  15 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Ketika [[Batara Guru]] dan istrinya, [[Dewi Uma]] terbang menjelajah dunia dengan mengendarai [[Lembu Andini]], dalam perjalanannya karena terlena maka Batara Guru bersenggama dengan istrinya di atas kendaraan suci Lembu Andini, sehingga Dewi Uma hamil. Ketika pulang dan sampai di kahyangan Batara Guru kaget dan tersadar atas tindakannya melanggar larangan itu. Seketika itu Batara Guru marah pada dirinya dan Dewi Uma, dia menyumpah-nyumpah bahwa tindakan yang dilakukannya seperti perbuatan "Buto" (bangsa raksasa). Karena semua perkataannya ''mandi''(bahasa indonesianya : cepat menjadi kenyataan) maka seketika itu juga Dewi Uma yang sedang mengandung menjadi raksasa. Batara Guru kemudian mengusirnya dari kahyangan [[Jonggringsalaka]] dan menempati kawasan kahyangan baru yang disebut [[Gondomayit]]. Hingga pada akhirnya Dewi Uma yang berubah raksasa itu terkenal dengan sebutan [[Batari Durga]]. Setelah itu ia melahirkan anaknya, yang ternyata juga berwujud raksasa dan diberi nama Kala. Namun pada perkembangan selanjutnya Batara Kala justru menjadi suami Batari Durga, karena memang di dunia raksasa tidak mengenal norma-norma perkawinan. Batara Kala dan Batari Durga selalu membuat onar marcapada (bumi) karena ingin membalas dendam pada para dewa pimpinan Batara Guru.
 
'''Teks ini akan dicetak tebal'''(Tambahan: disadur dari www.Merbabu.com )
{{stub BATARA KALA
 
Kayangan : kayangan Selamangumpeng
 
Ayah : Batara Guru
 
Istri : Batari Durga
 
Keterangan : Batara Kala lahir dari Kama salah yang jatuh di laut pada saat Batara Guru rekrasi dengan Batari Uma (lihat hal Batari Uma). Batara Kala dilahirkan dalam wujud api yang berkobar-kobar yang makin lama makin besar. Hal ini membuat gara-gara di Suralaya, sehingga para dewa diperintahkan oleh Batara Guru untuk mematikan api yang berkobar-kobar tetapi tidak mati, malah makin lama makin besar dan naik ke Suralaya menanyakan bapaknya.
 
 
Karena Hyang Guru kwatir kalau kayangan rusak maka Batara Guru mengakui kalau Kala adalah anaknya. Maka diberi nama Batara Kala dan Batara Kala minta makanan, maka Batara Guru memberi makanan tetapi ditentukan yaitu :
 
1.Orang yang mempunyai anak satu yang disebut ontang-anting
 
2.Pandawa lima anak lima laki-laki semua atau anak lima putri semua.
 
3.Kedono kedini, anak dua laki-laki perempuan jadi makanan Betara Kala.
 
Untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala harus diadakan upacara ruwatan. Maka untuk lakon-lakon seperti itu di dalam pedalangan disebut lakon Murwakala atau lakon ruwatan. Di dalam lakon pedalangan Batara Kala selalu memakan para pandawa karena dianggapnya Pandawa adalah orang ontang anting. Tetapi karena Pandawa selalu didekati titisan Wisnu yaitu Batara Kresna. Maka Batara Kala selalu tidak berhasil memakan Pandawa.
 
{{stub}}
 
[[Kategori:Mahabharata]]
Pengguna anonim