Ratapan Anak Tiri (film 1973): Perbedaan revisi

235 bita ditambahkan ,  11 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
| aproducer =
| writer =
| starring = [[Soekarno M. Noor]]{{br}}[[Faradilla Sandy]]{{br}}[[Tanty Yosepha]]{{br}}[[Bambang Irawan]]{{br}}[[Dewi Rosaria Indah]]{{br}}[[Roldiah Matulessy]]{{br}}[[Tatiek Tamsil]]{{br}}[[Fachrul Rozy]]
| music =
| cinematography =
}}
'''Ratapan Anak Tiri''' adalah [[film]] [[Indonesia]] yang yang dirilis pada tahun [[1973]] dengan disutradarai oleh [[Sandy Suwardi Hassan]]. Film ini dibintangi antara lain oleh [[faradilla Sandy]] dan [[Soekarno M. Noor]] .[[Tanty Yosepha]]
 
== Pemain ==
[[Soekarno M. Noor]] as Pak Yuwono
[[Faradilla Sandy]] as Sussy
[[Tanti Yosepha]] as Ningsih
[[Tatiek Tamsil]] as Istri Ke-1 Pak Yuwono
[[Dewi Rosaria Indah]] as Netty
[[Bambang Irawan]] as harun
[[Roldiah Matulessy] as Bibi / Pembantunya
 
== Sinopsis ==
Yuwono ([[Soekarno M. Noor]]) ditinggal pergi oleh istrinya ([[Tatiek Tamsil]]) untuk selama-lamanya setelah melahirkan anak ketiganya. Setelah sebelumnya dilarang untuk hamil lagi yang ketiga kalinya oleh dokter karena memang membahayakan nyawa ibu dan anaknya. Akibat melanggar larangan dokter, ketika melahirkan anak ketiga, keduanya pun meninggal. Meninggalnya istri tercinta menyebabkan Yuwono terpukul sekali, apalagi ia mempunyai dua orang anak yang masih membutuhkan kasih sayang ibunya. Netty (Dewi Rosaria Indah) dan Susi ([[Faradilla Sandy]]) begitu kehilangan sekali dengan ibunya yang sudah meninggal.
Netty ([[Dewi Rosaria Indah]]) dan Susi ([[Faradilla Sandy]]) begitu kehilangan sekali dengan ibunya yang sudah meninggal.
Adalah Ningsih ([[]Tanti YosepYosepha]]ha) seorang wanita kantoran yang juga bawahan Yuwono yang telah mencuri hati anak-anak Yuwono dengan kebaikan dan kelembutannya bagaikan seorang Ibu. Meski dilarang oleh atasannya karena Ningsih bukanlah sosok yang baik bagi anak-anaknya, akan tetapi Yuwono akhirnya menikahi Ningsih. Akhirnya Ningsih pun resmi menjadi istri Yuwono. Di awal kehidupan keluarga tersebut sangat harmonis dan begitu manis. Yuwono menjalankan perannya sebagai suami demikian pula dengan Ningsih yang menjadi ibu dari anak-anaknya menjalankan perannya dengan sangat manis.
Hingga suatu ketika tragedy itupun terjadi. Yuwono dituduh menggelapkan uang perusahaan sebesar 14 juta hingga akhirnya Yuwono di penjara. Sebenarnya Yuwono tidak pernah melakukan perbuatan ini, akan tetapi penggelapan ini dilakukan oleh Harun ([[Bambang Irawa]]) yang sebenarnya mencintai Ningsih. Begitu mengetahui suaminya di penjara, Ningsih berusaha sabar dan tetap manis sikapnya dengan kedua anak Yuwono. Akan tetapi Harun bermain di air keruh. Dengan rayuan-rayuannya akhirnya Harun mampu kembali mengambil hati Ningsih, keduanya pun terlibat dengan perselingkuhan, sekaligus Harun menghasu Ningsih bahwa ia hanya menjadi babu bagi anak-anak Yuwono.
Hingga suatu ketika tragedy itupun terjadi. Yuwono dituduh menggelapkan uang perusahaan sebesar 14 juta hingga akhirnya Yuwono di penjara. Sebenarnya Yuwono tidak pernah melakukan perbuatan ini, akan tetapi penggelapan ini dilakukan
Hingga suatu ketika tragedy itupun terjadi. Yuwono dituduh menggelapkan uang perusahaan sebesar 14 juta hingga akhirnya Yuwono di penjara. Sebenarnya Yuwono tidak pernah melakukan perbuatan ini, akan tetapi penggelapan ini dilakukan oleh Harun ([[Bambang Irawa]]) yang sebenarnya mencintai Ningsih. Begitu mengetahui suaminya di penjara, Ningsih berusaha sabar dan tetap manis sikapnya dengan kedua anak Yuwono. Akan tetapi Harun bermain di air keruh. Dengan rayuan-rayuannya akhirnya Harun mampu kembali mengambil hati Ningsih, keduanya pun terlibat dengan perselingkuhan, sekaligus Harun menghasu Ningsih bahwa ia hanya menjadi babu bagi anak-anak Yuwono.
 
Atas hasutan-hasutan Harun, Ningsih pun berubah pikiran dan sifat aslinyapun kelihatan. Pembantunya ([[Roldiah Matulessy]]) di pecat, dan peran-peran keluarga seperti mengepel, mencuci piring dan sebagainya menjadi tugas kakak beradik Netty dan Susi. Keduanya sering di marahin, di pukul, bahkan sering sekali makan dengan nasi sisa. Tak jarang pula Netty dan Susi sering tidak makan, karena untuk itu mereka harus kerja sendiri. Setiap kesalahan kecil selalu menjadi bencana bagi keduanya. Bahkan tak jarang keduanya tidak bisa masuk rumah karena pintunya dikunci dari luar, ketika Ningsih dan Harun sedang pergi. Terpaksa keduanya menunggu diluar pintu pagar, atau bahkan tidur di luar rumah. Sementara Ningsih dan Harun asyik dengan perselingkuhannya, dan tidak peduli dengan keadaan anak tirinya.
Pengguna anonim