Tionghoa Benteng: Perbedaan antara revisi

1.842 bita ditambahkan ,  12 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
'''China Benteng''' adalah suatu nama panggilan yang mengacu kepada masyarakat keturunan China yang ada di Tangerang. Nama ini berasal dari kata "Benteng" yang merupakan nama lama dari Kota Tangerang, karena pada saat itu terdapat sebuah benteng Belanda di kota Tangerang di pinggir sungai cisadane, difungsikan sebagai post pengamanan mencegah serangan dari Kesultanan Banten, benteng ini adalah salah satu benteng terpenting Belanda dan merupakan Benteng terdepan pertahanan Belanda di pulau Jawa. Masyarakat China Benteng telah beberapa generasi tinggal di Tangerang yang kini telah berkembang menjadi tiga kota/kabupaten yaitu, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan.
 
Orang China benteng terbagi menjadi dua golongan berdasarkan keberangkatan mereka dari Tiongkok, golongan ke-1 adalah yang datang pada abad ke-15, mereka datang untuk menjadi pekerja dan pedagang, mereka mencapai Tangerang dengan menggunakan perahu sederhana, dewasa ini, kebanyakan orang China Benteng golongan ke-1 ini hidup pas-pas an dan sudah terasimilasi dengan budaya pribumi Sunda dan Betawi.
Golongan ke-2 adalah orang tionghoa yang datang pada abad ke-18 dan mendapat restu dan perbekalan dari Kaisar, dengan janji bahwa mereka akan tetap loyal terhadap China dan Kaisar Dinasti Qing. Mereka datang bersama-sama dengan kapal dagang Belanda, mereka datang dengan motivasi mendapat penghasilan yang lebih layak dengan menjadi tentara kolonial Belanda.
China Benteng golongan ke-2 ini juga adalah proyek pemerintah kolonial belanda yaitu "One harmony between 3 races, under one loyalty to the Dutch colonial Empire"
Proyek pemerintah kolinial ini adalah menggabungkan 3 etnis yaitu tionghoa, belanda, sunda/betawi menjadi satu etnis dengan komposisi 50% tionghoa, 37,5% Sunda-Betawi dan 12,5% Belanda dengan harapan "ras baru" ini hanya akan loyal terhadap pemerintah Belanda.
Mereka juga berkontribusi besar terhadap kelangsungan kekuasaan kolinal Belanda di Tangerang, banyak dari mereka yang diangkat menjadi kapitein Tionghoa pada era feodalisme tuan tanah di Tangerang, dan mereka sangat loyal terhadap Belanda.
Pada saat Jepang menduduki Indonesia, mereka melawan Jepang dengan gagah berani walaupun akhirnya kalah.
Tangerang merupakan daerah terakhir yang dikuasai Belanda di pulau Jawa, daerah ini baru diserahkan kepaada Republik pada tahun 50-an.
Pada tahun 1946 terjadi kerusuhan etnis di Tangerang, etnis pribumi pendatang (kebanyakan Jawa dan Madura) beserta beberapa kelompok religius Sunda dan Betawi melakukan peyerangan terhadap orang China Benteng karena dianggap terlalu loyal terhadap NICA, akhirnya kerusuhan ini berhasil diredam oleh NICA yang membela orang China Benteng.
Orang-orang China Benteng terutama golongan ke-2 merasa sangat kehilangan ketika Belanda meninggalkan Tangerang pada tahun 50-an dan menyerahkan kota itu kepada Republik, karena mereka kehilangan pelindung mereka, maka terjadilah penyerangan dan perampasan terhadap orang-orang China benteng, orang China benteng hidup lebih sejahtera selama pada jaman kolonial belanda daripada setelah Tangerang masuk ke-dalam Republik Indonesia.
Di Belanda pun orang China Benteng mudah ditemui diantara komunitas tionghoa disana, karena kebanyakan orang tionghoa yg ada di Belanda adalah orang China Benteng.
 
Orang China Benteng dikenal dengan warna kulitnya yang sedikit lebih gelap dibandingkan warga keturunan China lainnya di Indonesia, mereka lebih mirip dengan orang-orang Vietnam Utara ketimbang orang Tiongkok. Kesenian mereka yang terkenal adalah kesenian campuran betawi-tionghoa, Cokek yaitu sebuah tarian berpasangan lelaki dan perempuan dengan iringan musik gambang kromong.
Agama yang dianut beragam antara lain Konghucu, Buddhisme, IslamKatolik, KatolikIslam, dan KristenProtestan, dewasa ini Katholik, Konghucu dan Budhisme menjadi agama mayoritas orang-orang China Benteng.
 
Hal menarik dari China Benteng adalah biarpun mereka sudah tidak berbahasa China lagi, mereka tetap melestarikan budaya leluhur dan tradisi Tiongkok, ini bisa dilihat dari tradisi pernikahan mereka yang menggunakan upacara pernikahan gaya Dinasti Manchu (Qing), mereka juga mengenakan pakaian gaya Dinasti Manchu seperti Manchu robe dan Manchu hat pada saat menikah. Ada hipotesis bahwa orang China Benteng adalah satu-satu nya komunitas Tionghoa di Indonesia yang memiliki darah orang Manchuria, karena hanya orang China Benteng yang masih tetap menggunakan upacara nikah gaya Dinasti Manchu setelah Dinasti Manchu runtuh pada tahun 1912 [rujukan?].
 
Pengguna anonim