Tionghoa Benteng: Perbedaan antara revisi

1.515 bita ditambahkan ,  12 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
'''China Benteng''' adalah suatu nama panggilan yang mengacu kepada [[Tionghoa-Indonesia|masyarakat keturunan Cina]]China yang ada di [[Tangerang]], [[Banten]]. Nama ini berasal dari kata "Benteng" yang merupakan nama lama dari [[Kota Tangerang]]., Masyarakatkarena Cinapada Bentengsaat telahitu beberapaterdapat generasisebuah tinggalbenteng Belanda di kota Tangerang yangdi kinipinggir telahsungai berkembang menjadi tiga kota/kabupaten yaitucisadane, [[Kotadifungsikan Tangerang]],sebagai [[Kabupatenpost Tangerang]]pengamanan danmencegah [[Kotaserangan Tangerangdari Selatan]].Kesultanan OrangBanten, Cinabenteng Bentengini dikenaladalah dengansalah warnasatu kulitnyabenteng yangterpenting sedikitBelanda lebihdan gelapmerupakan dibandingkanBenteng wargaterdepan keturunanpertahanan China lainnyaBelanda di [[Indonesia]],pulau mereka lebih mirip dengan orang-orang Vietnam UtaraJawa. KesenianMasyarakat merekaChina yangBenteng terkenaltelah adalahbeberapa [[Cokek]]generasi yaitutinggal sebuahdi tarian berpasangan lelaki dan perempuan dengan iringan musik [[gambang kromong]]. AgamaTangerang yang dianutkini beragamtelah antaraberkembang lainmenjadi [[Konghucu]],tiga [[Buddhisme]],kota/kabupaten [[Islam]]yaitu, [[Katolik]]Kota dan [[Kristen]]Tangerang, dewasaKabupaten iniTangerang Katolikdan menjadiKota agamaTangerang mayoritasSelatan. China Benteng, disusul oleh Konghucu dan Budhisme.
 
Orang China benteng terbagi menjadi dua golongan berdasarkan keberangkatan mereka dari Tiongkok, golongan ke-1 adalah yang datang pada abad ke-15, mereka datang untuk menjadi pekerja dan pedagang, mereka mencapai Tangerang dengan menggunakan perahu sederhana dewasa ini, kebanyakan orang China Benteng golongan ke-1 ini hidup pas-pas an dan sudah terasimilasi dengan budaya pribumi Sunda dan Betawi.
Golongan ke-2 adalah orang tionghoa yang datang pada abad ke-18 dan mendapat restu dan perbekalan dari Kaisar, dengan janji bahwa mereka akan tetap loyal terhadap China dan Kaisar Dinasti Qing. Mereka datang bersama-sama dengan kapal dagang Belanda, mereka datang dengan motivasi mendapat penghasilan yang lebih layak dengan menjadi tentara kolonial Belanda.
 
Orang China Benteng dikenal dengan warna kulitnya yang sedikit lebih gelap dibandingkan warga keturunan China lainnya di Indonesia, mereka lebih mirip dengan orang-orang Vietnam Utara ketimbang orang Tiongkok. Kesenian mereka yang terkenal adalah kesenian campuran betawi-tionghoa, Cokek yaitu sebuah tarian berpasangan lelaki dan perempuan dengan iringan musik gambang kromong.
Agama yang dianut beragam antara lain Konghucu, Buddhisme, Islam, Katolik dan Kristen, dewasa ini Katholik, Konghucu dan Budhisme menjadi agama mayoritas orang-orang China Benteng.
Hal menarik dari China Benteng adalah biarpun mereka sudah tidak berbahasa China lagi, mereka tetap melestarikan budaya leluhur dan tradisi Tiongkok, ini bisa dilihat dari tradisi pernikahan mereka yang menggunakan upacara pernikahan gaya Dinasti Manchu (Qing), mereka juga mengenakan pakaian gaya Dinasti Manchu seperti Manchu robe dan Manchu hat pada saat menikah. Ada hipotesis bahwa orang China Benteng adalah satu-satu nya komunitas Tionghoa di Indonesia yang memiliki darah orang Manchuria, karena hanya orang China Benteng yang masih tetap menggunakan upacara nikah gaya Dinasti Manchu setelah Dinasti Manchu runtuh pada tahun 1912 [rujukan?].
 
Hal menarik dari Cina Benteng terhadap pembauran, bahwa mereka sudah sama sekali tidak menggunakan bahasa Cina dan tidak terpecah dalam suku-suku asal dari negara Cina{{fact}}.
 
 
Pengguna anonim