Buka menu utama

Perubahan

440 bita ditambahkan, 9 tahun yang lalu
Asal kata "Jenggala" dari "Hujung Galuh", nama yang akan kembali digunakan pada masa Majapahit
'''Janggala''' adalah salah satu dari dua pecahan kerajaan yang dipimpin oleh [[Airlangga]] dari [[Wangsa Isyana]]. Kerajaan ini berdiri tahun 1042, dan berakhir sekitar tahun 1130-an. Lokasi pusat kerajaan ini sekarang diperkirakan berada di wilayah [[Kabupaten Sidoarjo]], [[Jawa Timur]].
 
==Etimologi==
== Pembagian Kerajaan oleh Airlangga ==
Nama Jenggala diperkirakan berasal kata "Hujung Galuh", atau disebut "Jung-ya-lu" berdasarkan catatan China. Hujung Galuh terletak di daerah muara sungai [[Brantas]] yang diperkirakan kini menjadi bagian kota [[Surabaya]]. Kota ini merupakan pelabuhan penting sejak jaman kerajaan Kahuripan, Janggala, Kediri, Singhasari, hingga Majapahit. Pada masa kerajaan Singhasari dan Majapahit pelabuhan ini kembali disebut sebagai Hujung Galuh.
 
== Pembagian Kerajaan oleh Airlangga ==
Pusat pemerintahan Janggala terletak di [[Kahuripan]]. Menurut prasasti Terep, kota [[Kahuripan]] didirikan oleh [[Airlangga]] tahun 1032, karena ibu kota yang lama, yaitu Watan Mas direbut seorang musuh wanita.
 
Akhir November 1042, [[Airlangga]] terpaksa membagi dua wilayah kerajaannya. [[Sri Samarawijaya]] mendapatkan [[Kerajaan Kadiri]] di sebelah barat yang berpusat di kota baru, yaitu [[Daha]]. Sedangkan [[Mapanji Garasakan]] mendapatkan Kerajaan Janggala di sebelah timur yang berpusat di kota lama, yaitu [[Kahuripan]].
 
== Raja-Raja Janggala ==
Pembagian kerajaan sepeninggal [[Airlangga]] terkesan sia-sia, karena antara kedua putranya tetap saja terlibat perang saudara untuk saling menguasai.
 
# [[Samarotsaha]], berdasarkan prasasti Sumengka (1059).
 
== Akhir Kerajaan Janggala ==
Meskipun raja Janggala yang sudah diketahui namanya hanya tiga orang saja, namun kerajaan ini mampu bertahan dalam persaingan sampai kurang lebih 90 tahun lamanya. Menurut prasasti Ngantang (1035), Kerajaan Janggala akhirnya ditaklukkan oleh [[Sri Jayabhaya]] raja [[Kadiri]], dengan semboyannya yang terkenal, yaitu ''Panjalu Jayati'', atau ''Kadiri Menang''.
 
Sejak saat itu Janggala menjadi bawahan [[Kadiri]]. Menurut ''[[Kakawin Smaradahana]]'', raja [[Kadiri]] yang bernama [[Sri Kameswara]], yang memerintah sekitar tahun 1182-1194, memiliki permaisuri seorang putri Janggala bernama '''Kirana'''.
 
== Janggala sebagai Bawahan Majapahit ==
Setelah [[Kadiri]] ditaklukkan [[Singhasari]] tahun 1222, dan selanjutnya oleh [[Majapahit]] tahun 1293, secara otomatis Janggala pun ikut dikuasai.
 
# [[Samarawijaya]] [[1451]]-[[1478]] Pararaton .32:23
 
== Janggala dalam Karya Sastra ==
Adanya Kerajaan Janggala juga muncul dalam ''[[Nagarakretagama]]'' yang ditulis tahun 1365. Kemudian muncul pula dalam naskah-naskah sastra yang berkembang pada zaman kerajaan-kerajaan [[Islam]] di [[Jawa]], misalnya ''[[Babad Tanah Jawi]]'' dan ''Serat Pranitiradya''.
 
Tokoh Surya Amiluhur inilah yang kemudian menurunkan Jaka Sesuruh, pendiri [[Majapahit]] versi dongeng. Itulah sedikit kisah tentang Kerajaan Janggala versi babad dan serat yang kebenarannya sulit dibuktikan dengan fakta sejarah.
 
== Kepustakaan ==
* [[Andjar Any]]. 1989. ''Rahasia Ramalan Jayabaya, Ranggawarsita & Sabdopalon''. Semarang: Aneka Ilmu
* ''Babad Tanah Jawi''. 2007. (terj.). Yogyakarta: Narasi
10.897

suntingan