Tunanetra: Perbedaan antara revisi

7.101 bita ditambahkan ,  12 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
 
{{stub}}
 
Sebagai dampak dari tidak berfungsinya indra penglihatan, maka di dalam kehidupannya, Tunanetra menghadapi hambatan – hambatan kehidupan di berbagai bidang, antaranya :
 
a. pendidikan
Kurangnya sarana pendidikan bagi tunanetra yang memadai seperti sekolah luar biasa ( SLBA ). Faktanya di Indonesia hanya mempunyai sekolah luar biasa hingga setingkat SLTP. Itupun hanya di beberapa daerah saja. Lebih jauh, keberadaan SLB tersebut juga sudah mulai dikurangi. Pihak-pihak terkait mulai menggalakkan sistem inklusi (sistem yang mengintegrasikan siswa tunanetra ke dalam sekolah-sekolah non-SLB). Dari penelitian yang ada penerapan sistem inklusi juga mendatangkan kesulitan tersendiri bagi siswa-siswa tunanetra. Beberapa hambatan yang di temui antara lain:
(1). Kurangnya pembekalan dan pemahaman bagi tenaga pengajar sehingga mereka sering salah dan tidak mengerti dalam menangani siswa-siswa tuna netra. Formula metode pengajaran yang diterapkan juga sering tidak tepat sasaran. Belum lagi ketidakmampuan guru memahami tulisan braille membuat proses penilaian hasil kerja menjadi lebih sulit dan tidak optimal.
(2). Kurangnya sarana dan prasarana pihak sekolah selaku wadah integrasi. Tidak tersedianya peralatan pendukung seperti komputer bicara, teks book dengan huruf braille, audio book, bahkan mesin ketik. Peralatan yang ada biasanya tidak dapat digunakan oleh tunanetra. Keterbatasan ini menghambat proses penyerapan materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.
(3). Di dalam pergaulan, sering sekali terdapat sekat (gap) antara siswa tunanetra dengan mereka yang non tunanetra. Penyebabnya beraneka ragam. Mulai dari rasa tidak percaya diri yang berasal dari tuna netra itu sendiri hingga penolakan yang datang dari siswa-siswa non tuna netra dengan berbagai alasan pula. Tanpa disadari keadaan tersebut sedikit banyak menimbulkan tekanan pada siswa tunanetra.
(4). Kurangnya kesadaran dan pemahaman pihak-pihak pengelola sekolah. Kaum tunanetra sering mengalami penolakan ketika ingin mendaftar khususnya di sekolah-sekolah favorit. Dengan alasan, pihak sekolah tidak siap dan tidak tahu bagaimana mengajar siswa-siswa tunanetra.
b. Sosialisasi
Dalam aspek sosialisasi terdapat dua faktor yang menjadi penghambat bagi tunanetra yaitu faktor penghambat yang datang dari dalam diri tunanetra itu sendiri (internal) dan dari luar diri tunanetra (eksternal). Faktor internal meliputi rasa rendah diri, tidak percaya diri, merasa berbeda dari orang berpenglihatan normal dan sering kali merasa takut dirinya menjadi beban bagi orang lain. Perasaan-perasaan tersebut membuat tunanetra enggan untuk bersosialisasi dengan mereka yang non tunanetra. Sebagai gantinya, kaum tuna netra cenderung membentuk kelompok sendiri. Adapun faktor penghambat eksternal meliputi rasa enggan orang-orang non tunanetra untuk berteman dengan orang tunanetra. Biasanya perasaan tersebut muncul karena mereka takut dan tidak tahu cara menangani tunanetra. Selain itu, lingkungan yang tidak aksesibel juga menjadi penghambat utama bagi tunanetra untuk melakukan mobilitas sosialisasi.
c. Pekerjaan
Tantangan terberat bagi tunanetra adalah memperoleh pekerjaan. Di Indonesia sendiri pihak-pihak yang mempekerjakan tunanetra masih sangat sedikit. Kaum tunanetra dipandang tidak berkompeten, tidak mampu mengemban tanggung jawab bahkan dianggap hanya akan menyusahkan dengan kekurangan yang dimilikinya. Selain itu, untuk pekerjaan yanag mampu dikerjakan oleh tunanetra sesungguhnya juga terbatas. Profesi seperti dokter, polisi, tentara, arsitek, designer, supir dan berbagai pekerjaan lainnya yang menuntut ketajaman penglihatan sudah tentu tidak dapat dikerjakan oleh tunanetra. Beberapa profesi yang masih mungkin dikerjakan seperti juru masak, guru, pencipta lagu, penyanyi, wira usahawan juga tak banyak diraih oleh tunanetra karena harus bersaing dengan kaum non-tunanetra dan akibat kurangnya kesadaran masyarakat kerap kali persaingan tersebut dimenangkan oleh kaum non tunanetra dengan berbagai alasan.
d. mencari pasangan
Hasrat untuk memiliki pasangan , menikah dan berkeluarga akan dimiliki oleh setiap individu yang berada pada masa tahap dewasa awal termasuk kaum tunanetra. Namun ada beberapa faktor yang menjadi faktor penghambat mereka dalam mmeperoleh pasangan. Proses interaksi sosial yang tidak berjalan baik menjadikan kebanyakan tunanetra hanya memiliki sedikit teman. Bagi beberapa tunanetra yang tidak bersekolah, mereka bahkan tidak mengenal orang lain selain keluarganya. Keadaan itu semakin dipersulit tatkala sebagian masyarakat mennganggap bahwa kebutaan adalah suatu kekurangan yang akan mempersulit kehidupan si penyandang maupun pasangannya. dari sudut pandang masyarakat memiliki keluarga tunanetra, pasangan tunanetra, menantu laki-laki/perempuan tunanetra adalah hal yang memalukan. Semua kondisi di atas mengambil andil bagi penghambat tunanetra dalam mencari pasangan hidupnya.
e. Emosi
Secara umum tunanetra memiliki perasaan yang sensitif akibat kekurangan yang dimilikinya. Perasaan tidak mampu dan rasa rendah diri yang berlebihan sering menjadikan mereka mudah tersinggung oleh kata-kata dan segala sesuatu yang dianggap menyepelekan dan menyinggung kekurangan mereka. Mereka juga sering berprasangka dan mudah curiga terhadap orang lain. Hal ini dapat dimaklumi karena di dalam interaksinya, tunanetra tidak dapat menggunakan penglihatan untuk mendeteksi apa yang terjadi di sekelilingnya. Penggunaan pendengaran dan penciuman menjadikan tunanetra harus mereka-reka apa yang terjadi di sekelilingnya dan tak jarang hal tersebuit memunculkan prasangka yang tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Contohnya seorang tunanetra yang sedang duduk menunggu bus di halte mendengarkan dua orang di sebelahnya sedang berbicara lirih dan tertawa terkikih. Karena tidak dapat melihat ekspresi wajah atau gelagat mereka maka si tunanetra dapat berprasangka bahwa ia sedang dibicarakan, walau pada kenyataannya mereka bukan membicarakan dirinya. Si sisi lain, tunanetra sering menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi. Mereka mencari-cari penyebab suatu peristiwa buruk dari diri mereka sendiri dan biasanya ketidakmampuan mereka yang tidak dapat melihat menjadi kambing hitam atas kejadian tersebut. Mereka biasanya bermain dengan pikiran mereka sendiri, mengumpulkan informasi dari dalam pikiran mereka, mereka-reka dengan daya imajinasi mereka, dan mengambil kesimpulan atas imajinasi tersebut. Dampak buruknya, apabila kesimpulan imajinasi tersebut berujung oada sesuatu yang menyedihkan maka hal tersebut akan mempengaruhi kejiawaan sang tunanetra , walau pada kenyataannya hal itu hanya khayalan semata. Karena ditentukan oleh daya imajinasi maka suasana hati seorang tunanetra sangat labil, mudah berubah tergantung khayalan yang ada saat itu. Jika ia berkhayal tentang sesuatu yang baik, maka suasana hatinya pun baik. Demikian sebaliknya ia sedang berpikir tentang sesuatu yang tidak menyenangkan maka seketika itu juga suasana hatinya akan berubah. Dengan kata lain, perubahan suasana hati seorang tunanetra ditentukan dari dalam dirinya dan bukan dari lingkungan.
 
 
 
[[Kategori:Kecacatan]]
Pengguna anonim