Didong: Perbedaan revisi

20 bita dihapus ,  11 tahun yang lalu
k
Bot: Penggantian teks otomatis (-Nanggroe Aceh Darussalam +Aceh)
k (Robot: Cosmetic changes)
k (Bot: Penggantian teks otomatis (-Nanggroe Aceh Darussalam +Aceh))
Penampilan didong mengalami perubahan setelah [[Jepang]] masuk ke [[Indonesia]]. Sikap pemerintah [[Jepang]] yang keras telah “memporak-porandakan” bentuk kesenian ini. Pada masa itu, didong digunakan sebagai sarana hiburan bagi tentara Jepang yang menduduki [[tanah Gayo]]. Hal ini memberikan inspirasi bagi masyarakat Gayo untuk mengembangkan didong yang syairnya tidak hanya terpaku kepada hal-hal religius dan adat-istiadat, tetapi juga permasalahan sosial yang bernada protes terhadap kekuasaan penjajah Jepang. Pada masa setelah proklamasi, seni pertunjukan didong dijadikan sebagai sarana bagi pemerintah dalam menjembatani informasi hingga ke desa-desa khususnya dalam menjelaskan tentang [[Pancasila]], [[UUD 1945]] dan semangat bela [[negara]]. Selain itu, didong juga digunakan untuk mengembangkan semangat kegotong-royongan, khususnya untuk mencari dana guna membangun gedung [[sekolah]], [[madrasah]], [[mesjid]], bahkan juga pembangunan jembatan. Namun, pada periode 1950-an ketika terjadi pergolakan [[DI/TII]] kesenian didong terhenti karena dilarang oleh [[DI/TII]]. Akibat dilarangnya didong, maka muncul suatu kesenian baru yang disebut saer, yang bentuknya hampir mirip dengan didong. Perbedaan didong denga saer hanya dalam bentuk unsur gerak dan tari. Tepukan tangan yang merupakan unsur penting dalam didong tidak dibenarkan dalam saer.
 
Dewasa ini didong muncul kembali dengan lirik-lirik yang hampir sama ketika zaman [[Jepang]], yaitu berupa protes (anti kekerasan). Bedanya, dewasa ini protesnya ditujukan kepada [[pemerintah]] yang selama sekian tahun menerapkan [[Nanggroe Aceh Darussalam]] sebagai Daerah [[Operasi Militer]], sehingga menyengsarakan rakyat. Protes anti kekerasan sebenarnya bukan hanya terjadi pada kesenian didong, melainkan juga pada bentuk-bentuk [[kesenian]] lain yang ada di [[Aceh]].
 
== Syair Didong ==
259.487

suntingan