Thérèse dari Lisieux: Perbedaan revisi

125 bita ditambahkan ,  11 tahun yang lalu
terjemah sebagian
(std)
(terjemah sebagian)
Kata-kata seperti itu membuka Therese terhadap tuduhan bahwa dia memiliki rohani yang terlalu sentimental dan bahkan kekanak-kanakan. Pendukungnya menolak hal tersebut dan menyatakan bahwa dia mengembangkan cara pendekatan kepada kehidupan rohani yang mudah dimengerti dan dapat diikuti oleh semua orang yang memilih melakukan hal tersebut, tidak memandang tingkat kerumitan atau pendidikan.
 
ThisHal isini evidentjuga intertulis herdalam approachpendekatannya toterhadap [[prayerdoa]]: [http://www.thereseoflisieux.org/thereses-prayer/]
<!--
<blockquote>"Bagiku, doa berasal dari hati; ini merupakan tatapan sederhana ke Surga, ini merupakan permohonan pengakuan dan cinta, memeluk cobaan dan kegembiraan; dalam satu kata, sesuatu yang ningrat, supernatural, yang membesarkan jiwaku dan menyatukannya pada Tuhan... Aku tidak memiliki keberanian untuk mencari doa-doa indah di dalam buku-buku... Saya melakukannya seperti anak kecil yang belum belajar membaca, Saya hanya menceritakan pada Tuhan kita semua hal yang aku inginkan dan Dia mengerti."</blockquote>
 
== Kesehatan yang berkurang dan kematian ==
This is evident in her approach to [[prayer]]:[http://www.thereseoflisieux.org/thereses-prayer/]
<blockquote>"For me, prayer is a surge of the heart; it is a simple look turned toward Heaven, it is a cry of recognition and of love, embracing both trial and joy; in a word, something noble, supernatural, which enlarges my soul and unites it to God.... I have not the courage to look through books for beautiful prayers.... I do as a child who has not learned to read, I just tell our Lord all that I want and He understands." </blockquote>
 
==Declining health and death==
[[Image:Evora28.jpg|thumb|right|220px|Funerary monument in the Church of Saint Francis, in [[Évora]] ([[Portugal]]).]]
Thérèse's final years were marked by a steady decline that she bore resolutely and without complaint. On the morning of [[Good Friday]], 1896, she began bleeding at the mouth due to a [[lungs|pulmonary]] [[hemoptysis]]; her [[tuberculosis]] had taken a turn for the worse. Thérèse corresponded with a Carmelite mission in what was then [[French Indochina]], and was invited to join them, but because of her sickness, she could not travel. In July 1897 she was moved to the monastery infirmary, where she died on [[September 30]], [[1897]], at age 24. On her death-bed, she is reported to have said, "I have reached the point of not being able to suffer any more, because all suffering is sweet to me."
 
Tahun-tahun akhir Therese ditandai dengan kesehatan yang terus berkurang yang dia tahan dengan tabah dan tanpa keluhan. Pada pagi hari [[Jumat Agung]], 1896, dia mendapat pendarahan di mulut karena [[hemoptisis]] [[paru-paru]]; [[tuberkolosis]] yang dia derita bertambah parah. Therese bertukar surat dengan misi Karmelit di [[Perancis Indochina]], dan diundang untuk bergabung dengan mereka, tetapi karena penyakitnya, dia tidak dapat bepergian. Pada Juli 1897 dia dipindah ke biara untuk orang sakit, di mana dia meninggal pada [[30 September]] [[1897]], pada umur 24. Di saat kematiannya, dia mengatakan, "Aku telah mencapai titik di mana dia tidak dapat mengalami penderitaan lagi, karena semua penderitaan adalah manis baginya."
 
<!--
==Autobiography==
[[Image:Sainte therese de lisieux.jpg|thumb|200px|left|Thérèse de Lisieux]]
4.430

suntingan