Sutan Takdir Alisjahbana: Perbedaan antara revisi

268 bita ditambahkan ,  6 bulan yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
 
== Riwayat Hidup ==
 
=== Pendidikan ===
Setelah menamatkan sekolah HIS di [[Kota Bengkulu|Bengkulu]] (1921), STA melanjutkan pendidikannya ke Kweekschool, [[Bukittinggi]]. Kemudian dia meneruskan HKS di [[Bandung]] ([[1928]]), meraih Mr. dari Sekolah Tinggi di Jakarta (1942), dan menerima Dr. Honoris Causa dari [[Universitas Indonesia]] (1979) dan [[Universitas Sains Malaysia]], Penang, Malaysia (1987).
 
=== Keterlibatan dengan [[Balai Pustaka]] ===
Kariernya beraneka ragam dari bidang sastra, bahasa, dan kesenian. STA pernah menjadi redaktur ''Panji Pustaka'' dan Balai Pustaka (1930-1933). Kemudian mendirikan dan memimpin majalah ''[[Poedjangga Baroe]]'' (1933-1942 dan 1948-1953), ''Pembina Bahasa Indonesia'' (1947-1952), dan ''Konfrontasi'' (1954-1962). Pernah menjadi guru HKS di Palembang (1928-1929), dosen Bahasa Indonesia, Sejarah, dan Kebudayaan di [[Universitas Indonesia]] (1946-1948), guru besar Bahasa Indonesia, Filsafat Kesusastraan dan Kebudayaan di [[Universitas Nasional]], Jakarta (1950-1958), guru besar Tata Bahasa Indonesia di Universitas Andalas, Padang (1956-1958), guru besar dan Ketua Departemen Studi Melayu Universitas Malaya, Kuala Lumpur (1963-1968).
Setelah lulus dari ''Hogere Kweekschool'' di Bandung, STA melanjutkan ke ''Hoofdacte Cursus'' di Jakarta (Batavia), yang merupakan sumber kualifikasi tertinggi bagi guru di [[Hindia Belanda]] pada saat itu. Di Jakarta, STA melihat iklan lowongan pekerjaan untuk Balai Pustaka, yang merupakan biro penerbitan pemerintah administrasi Belanda. Dia diterima setelah melamar, dan di dalam biro itulah STA bertemu dengan banyak intelektual-intelektual Hindia Belanda pada saat itu, baik intelektual pribumi maupun yang berasal dari Belanda. Salah satunya ialah rekan intelektualnya yang terdekat, [[Armijn Pane]].
 
=== Pekerjaan ===
Sebagai anggota [[Partai Sosialis Indonesia]], STA pernah menjadi anggota parlemen (1945-1949), anggota Komite Nasional Indonesia, dan anggota Konstituante (1950-1960). Selain itu, ia menjadi anggota Société de linguistique de Paris (sejak 1951), anggota Commite of Directors of the International Federation of Philosophical Sociaties (1954-1959), anggota Board of Directors of the Study Mankind, AS (sejak 1968), anggota World Futures Studies Federation, Roma (sejak 1974), dan anggota kehormatan Koninklijk Institute voor Taal, Land en Volkenkunde, Belanda (sejak 1976). Dia juga pernah menjadi Rektor Universitas Nasional, Jakarta, Ketua Akademi Jakarta (1970-1994), dan pemimpin umum majalah ''Ilmu dan Budaya'' (1979-1994), dan Direktur Balai Seni Toyabungkah, Bali (1994).
KariernyaIa beranekamenempuh ragambeberapa macam karier dari bidang sastra, bahasa, dan kesenian. STA pernah menjadi redaktur majalah ''Panji Pustaka'' dan [[Balai Pustaka]] (1930-1933). Kemudian mendirikan dan memimpin majalah ''[[Poedjangga Baroe]]'' (1933-1942 dan 1948-1953), ''Pembina Bahasa Indonesia'' (1947-1952), dan ''Konfrontasi'' (1954-1962). Pernah menjadi guru HKS di Palembang (1928-1929), dosen Bahasa Indonesia, Sejarah, dan Kebudayaan di [[Universitas Indonesia]] (1946-1948), guru besar Bahasa Indonesia, Filsafat Kesusastraan dan Kebudayaan di [[Universitas Nasional]], Jakarta (1950-1958), guru besar Tata Bahasa Indonesia di [[Universitas Andalas]], Padang (1956-1958), guru besar dan Ketua Departemen Studi Melayu [[Universitas Malaya]], Kuala Lumpur (1963-1968).
 
=== Politik ===
STA merupakan salah satu tokoh pembaharu Indonesia yang berpandangan liberal. Berkat pemikirannya yang cenderung pro-modernisasi sekaligus pro-Barat, STA sempat berpolemik dengan cendekiawan Indonesia lainnya. STA sangat gelisah dengan pemikiran cendekiawan Indonesia yang anti-materialisme, anti-modernisasi, dan anti-Barat. Menurutnya, bangsa Indonesia haruslah mengejar ketertinggalannya dengan mencari materi, memodernisasi pemikiran, dan belajar ilmu-ilmu Barat.<ref>Achdiat K. Mihardja, Polemik Kebudayaan : Pokok Pikiran St. Takdir Alisjahbana, Pustaka Jaya, 1977</ref>
Sebagai anggota [[Partai Sosialis Indonesia]], STA pernah menjadi anggota parlemen (1945-1949), anggota Komite Nasional Indonesia, dan [[Konstituante Republik Indonesia|anggota Konstituante (1950-1960)]]. Selain itu, ia menjadi anggota ''Société de linguistique de Paris'' (sejak 1951), anggota ''Commite of Directors of the International Federation of Philosophical SociatiesSocieties'' (1954-1959), anggota ''Board of Directors of the Study Mankind, AS'' (sejak 1968), anggota ''World Futures Studies Federation'', Roma (sejak 1974), dan anggota kehormatan ''Koninklijk Institute voor Taal, Land en Volkenkunde'', Belanda (sejak 1976). Dia juga pernah menjadi Rektor [[Universitas Nasional]], Jakarta, Ketua Akademi Jakarta (1970-1994), dan pemimpin umum majalah ''Ilmu dan Budaya'' (1979-1994), dan Direktur Balai Seni Toyabungkah, Bali (1994).
 
== Pemikiran ==
=== Keterlibatan dengan [[Balai Pustaka]] ===
 
Setelah lulus dari ''Hogere Kweekschool'' di Bandung, STA melanjutkan ke ''Hoofdacte Cursus'' di Jakarta (Batavia), yang merupakan sumber kualifikasi tertinggi bagi guru di [[Hindia Belanda]] pada saat itu. Di Jakarta, STA melihat iklan lowongan pekerjaan untuk Balai Pustaka, yang merupakan biro penerbitan pemerintah administrasi Belanda. Dia diterima setelah melamar, dan di dalam biro itulah STA bertemu dengan banyak intelektual-intelektual Hindia Belanda pada saat itu, baik intelektual pribumi maupun yang berasal dari Belanda. Salah satunya ialah rekan intelektualnya yang terdekat, [[Armijn Pane]].
=== Liberalisme Barat ===
STA merupakan salah satu tokoh pembaharu Indonesia yang berpandangan liberal. Berkat pemikirannya yang cenderung pro-modernisasi sekaligus pro-Barat, STA sempat berpolemik dengan cendekiawan Indonesia lainnya. STA sangat gelisah dengan pemikiran cendekiawan Indonesia yang anti-materialisme, anti-modernisasi, dan anti-Barat. Menurutnya, bangsa Indonesia haruslah mengejar ketertinggalannya dengan mencari materi, memodernisasi pemikiran, dan belajar ilmu-ilmu Barat.<ref>Achdiat K. Mihardja, Polemik Kebudayaan : Pokok Pikiran St. Takdir Alisjahbana, Pustaka Jaya, 1977</ref>
 
=== Perkembangan Bahasa Indonesia ===
Ibunya, Puti Samiah adalah seorang [[Suku Minangkabau|Minangkabau]] yang telah turun temurun menetap di [[Natal]], [[Sumatra Utara]]. Puti Samiah merupakan keturunan Rajo Putih, salah seorang raja [[Kesultanan Indrapura]] yang mendirikan kerajaan Lingga Pura di Natal. Dari garis ibunya, STA berkerabat dengan [[Sutan Sjahrir]], perdana menteri pertama Indonesia.<ref>Puti Balkis Alisyabana, Natal: Ranah nan Data, Jakarta : Dian Rakyat, 1996</ref> Ayahnya, Raden Alisyahbana gelar Sutan Arbi, ialah seorang guru.<ref>Sutan Takdir Alisjahbana, Majalah Tempo, 10 Maret 1990</ref>
 
Kakek STA dari garis ayah, Sutan Mohamad Zahab, dikenal sebagai seseorang yang memiliki pengetahuan agama dan hukum yang luas. Di atas makamnya tertumpuk buku-buku yang sering disaksikan terbuang begitu saja oleh STA ketika dia masih kecil. KabarnyaMeskipun demikian, ketikabanyak kecilyang menyebut STA ketika kecil bukan seorang kutu buku, danmelainkan seseorang yang lebih senang bermain-main di luar. Setelah lulus dari sekolah dasar pada waktu itu, STA pergi ke [[Kota Bandung|Bandung]], dan sering kali menempuh perjalanan tujuh hari tujuh malam dari Jawa ke Sumatra setiap kali dia mendapat liburan. Pengalaman ini bisa terlihat dari cara dia menuliskan karakter Yusuf di dalam salah satu bukunya yang paling terkenal: ''[[Layar Terkembang]]''.
 
=== Pernikahan dan Keluarga ===
[[Kategori:Filsuf Indonesia]]
[[Kategori:Linguis Indonesia]]
[[Kategori:SenimanProfesor MinangkabauIndonesia]]
[[Kategori:Tokoh Minangkabau]]
[[Kategori:Seniman Minangkabau]]
[[Kategori:Tokoh Sumatra Utara]]
[[Kategori:Tokoh dari Mandailing Natal]]