Sutan Takdir Alisjahbana: Perbedaan antara revisi

153 bita ditambahkan ,  4 bulan yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
 
'''Sutan Takdir Alisjahbana''' (STA), ({{lahirmati|[[Natal, Mandailing Natal]], [[Sumatra Utara]]|11|2|1908|[[Jakarta]]|17|7|1994}}) adalah seorang budayawan, sastrawan dan ahli tata [[bahasa Indonesia]]. Ia juga salah seorang pendiri [[Universitas Nasional]], [[Jakarta]].
 
== Keluarga ==
Ibunya, Puti Samiah adalah seorang [[Suku Minangkabau|Minangkabau]] yang telah turun temurun menetap di [[Natal]], [[Sumatra Utara]]. Puti Samiah merupakan keturunan Rajo Putih, salah seorang raja [[Kesultanan Indrapura]] yang mendirikan kerajaan Lingga Pura di Natal. Dari ibunya, STA berkerabat dengan [[Sutan Sjahrir]], perdana menteri pertama Indonesia.<ref>Puti Balkis Alisyabana, Natal: Ranah nan Data, Jakarta : Dian Rakyat, 1996</ref> Ayahnya, Raden Alisyahbana gelar Sutan Arbi, ialah seorang guru.<ref>Sutan Takdir Alisjahbana, Majalah Tempo, 10 Maret 1990</ref> Kakek STA dari garis ayah, Sutan Mohamad Zahab, dikenal sebagai seseorang yang memiliki pengetahuan agama dan hukum yang luas. Di atas makamnya tertumpuk buku-buku yang sering disaksikan terbuang begitu saja oleh STA ketika dia masih kecil. Kabarnya, ketika kecil STA bukan seorang kutu buku, dan lebih senang bermain-main di luar. Setelah lulus dari sekolah dasar pada waktu itu, STA pergi ke Bandung, dan sering kali menempuh perjalanan tujuh hari tujuh malam dari Jawa ke Sumatra setiap kali dia mendapat liburan. Pengalaman ini bisa terlihat dari cara dia menuliskan karakter Yusuf di dalam salah satu bukunya yang paling terkenal: ''Layar Terkembang''.
 
STA menikah dengan tiga orang istri serta dikaruniai sembilan orang putra dan putri. Istri pertamanya adalah Raden Ajeng Rohani Daha (menikah tahun 1929 dan wafat pada tahun 1935) yang masih berkerabat dengan STA. Dari R.A Rohani Daha, STA dikaruniai tiga orang anak yaitu [[Samiati Alisjahbana]], [[Iskandar Alisjahbana]], dan [[Sofyan Alisjahbana]]. Tahun 1941, STA menikah dengan Raden Roro Sugiarti (wafat tahun 1952) dan dikaruniai dua orang anak yaitu [[Mirta Kartohadiprodjo|Mirta Alisjahbana]] dan [[Sri Artaria Alisjahbana]]. Dengan istri terakhirnya, Dr. Margaret Axer (menikah 1953 dan wafat 1994), STA dikaruniai empat orang anak, yaitu Tamalia Alisjahbana, Marita Alisjahbana, Marga Alisjahbana, dan Mario Alisjahbana.
 
Putra sulungnya, [[Iskandar Alisjahbana]] pernah menjabat sebagai Rektor [[ITB]], serta mertua dari Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas pada Kabinet Indonesia Bersatu II, [[Armida Alisjahbana]]. Iskandar juga dikenal sebagai "Bapak Sistem Komunikasi Satelit Domestik Palapa." Sofjan dan Mirta Alisjahbana merupakan pendiri majalah ''[[Femina|Femina Group]].''<ref>Wini Angraeni, Keluarga Sutan Takdir Alisjahbana: Harus Menjadi Orang Extraordinary, Majalah Swa, 22 Januari 2009</ref>
 
== Riwayat Hidup ==
Setelah menamatkan sekolah HIS di [[Kota Bengkulu|Bengkulu]] (1921), STA melanjutkan pendidikannya ke Kweekschool, [[Bukittinggi]]. Kemudian dia meneruskan HKS di [[Bandung]] ([[1928]]), meraih Mr. dari Sekolah Tinggi di Jakarta (1942), dan menerima Dr. Honoris Causa dari [[Universitas Indonesia]] (1979) dan [[Universitas Sains Malaysia]], Penang, Malaysia (1987).
 
Kariernya beraneka ragam dari bidang sastra, bahasa, dan kesenian. STA pernah menjadi redaktur ''Panji Pustaka'' dan Balai Pustaka (1930-1933). Kemudian mendirikan dan memimpin majalah ''[[Poedjangga Baroe]]'' (1933-1942 dan 1948-1953), ''Pembina Bahasa Indonesia'' (1947-1952), dan ''Konfrontasi'' (1954-1962). Pernah menjadi guru HKS di Palembang (1928-1929), dosen Bahasa Indonesia, Sejarah, dan Kebudayaan di [[Universitas Indonesia]] (1946-1948), guru besar Bahasa Indonesia, Filsafat Kesusastraan dan Kebudayaan di [[Universitas Nasional]], Jakarta (1950-1958), guru besar Tata Bahasa Indonesia di Universitas Andalas, Padang (1956-1958), guru besar dan Ketua Departemen Studi Melayu Universitas Malaya, Kuala Lumpur (1963-1968).
 
Sebagai anggota [[Partai Sosialis Indonesia]], STA pernah menjadi anggota parlemen (1945-1949), anggota Komite Nasional Indonesia, dan anggota Konstituante (1950-1960). Selain itu, ia menjadi anggota Société de linguistique de Paris (sejak 1951), anggota Commite of Directors of the International Federation of Philosophical Sociaties (1954-1959), anggota Board of Directors of the Study Mankind, AS (sejak 1968), anggota World Futures Studies Federation, Roma (sejak 1974), dan anggota kehormatan Koninklijk Institute voor Taal, Land en Volkenkunde, Belanda (sejak 1976). Dia juga pernah menjadi Rektor Universitas Nasional, Jakarta, Ketua Akademi Jakarta (1970-1994), dan pemimpin umum majalah ''Ilmu dan Budaya'' (1979-1994), dan Direktur Balai Seni Toyabungkah, Bali (1994).
STA merupakan salah satu tokoh pembaharu Indonesia yang berpandangan liberal. Berkat pemikirannya yang cenderung pro-modernisasi sekaligus pro-Barat, STA sempat berpolemik dengan cendekiawan Indonesia lainnya. STA sangat gelisah dengan pemikiran cendekiawan Indonesia yang anti-materialisme, anti-modernisasi, dan anti-Barat. Menurutnya, bangsa Indonesia haruslah mengejar ketertinggalannya dengan mencari materi, memodernisasi pemikiran, dan belajar ilmu-ilmu Barat.<ref>Achdiat K. Mihardja, Polemik Kebudayaan : Pokok Pikiran St. Takdir Alisjahbana, Pustaka Jaya, 1977</ref>
 
=== Keterlibatan dengan [[Balai Pustaka]] ===
Setelah lulus dari ''Hogere Kweekschool'' di Bandung, STA melanjutkan ke ''Hoofdacte Cursus'' di Jakarta (Batavia), yang merupakan sumber kualifikasi tertinggi bagi guru di [[Hindia Belanda]] pada saat itu. Di Jakarta, STA melihat iklan lowongan pekerjaan untuk Balai Pustaka, yang merupakan biro penerbitan pemerintah administrasi Belanda. Dia diterima setelah melamar, dan di dalam biro itulah STA bertemu dengan banyak intelektual-intelektual Hindia Belanda pada saat itu, baik intelektual pribumi maupun yang berasal dari Belanda. Salah satunya ialah rekan intelektualnya yang terdekat, [[Armijn Pane]].
 
=== Perkembangan Bahasa Indonesia ===
Dalam kedudukannya sebagai penulis ahli dan kemudian ketua Komisi Bahasa selama pendudukan Jepang, STA melakukan modernisasi [[Bahasa Indonesia]] sehingga dapat menjadi bahasa nasional yang menjadi pemersatu bangsa.<ref>Aulia A. Muhammad, STA : Perangkum Semua Kebudayaan, Suara Merdeka Cybernews, 8 September 2008</ref> Ia yang pertama kali menulis Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia (1936) dipandang dari segi Indonesia, yang mana masih dipakai sampai sekarang. Sertaserta Kamus Istilah yang berisi istilah-istilah baru yang dibutuhkan oleh negara baru yang ingin mengejar modernisasi dalam berbagai bidang. Setelah Kantor Bahasa tutup pada akhir Perang Dunia kedua, iaIa tetap mempengaruhi perkembangan Bahasa Indonesia melalui majalah ''Pembina Bahasa'' yang diterbitkan dan dipimpinnya. Sebelum kemerdekaan, STA adalah pencetus Kongres Bahasa Indonesia pertama di [[Solo]]. Pada tahun 1970, STA menjadi Ketua Gerakan Pembina Bahasa Indonesia dan inisiator Konferensi Pertama Bahasa- bahasa Asia tentang "The Modernization of The Languages in Asia (29 September-1 Oktober 1967)
 
Sampai akhirnya hayatnya, ia belum mewujudkan cita-cita terbesarnya, yakni menjadikan [[Bahasa Melayu]] sebagai bahasa pengantar kawasan di Asia Tenggara. Ia kecewa, Bahasa Indonesia semakin surut perkembangannya. Padahal, bahasa itu pernah menggetarkan dunia linguistik saat dijadikan bahasa persatuan untuk penduduk di 13.000 pulau di Nusantara. Ia kecewa, bangsa Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, sebagian Filipina, dan Indonesia yang menjadi penutur Bahasa Melayu gagal mengantarkan bahasa itu kembali menjadi bahasa pengantar kawasan.
* Muhammmad Fauzi, ''S. Takdir Alisjahbana & Perjuangan Kebudayaan Indonesia 1908-1994'' (1999)
* S. Abdul Karim Mashad ''Sang Pujangga, 70 Tahun Polemik Kebudayaan, Menyongsong Satu Abad S. Takdir Alisjahbana'' (2006)
 
== Kehidupan Pribadi ==
 
=== Keluarga ===
Ibunya, Puti Samiah adalah seorang [[Suku Minangkabau|Minangkabau]] yang telah turun temurun menetap di [[Natal]], [[Sumatra Utara]]. Puti Samiah merupakan keturunan Rajo Putih, salah seorang raja [[Kesultanan Indrapura]] yang mendirikan kerajaan Lingga Pura di Natal. Dari garis ibunya, STA berkerabat dengan [[Sutan Sjahrir]], perdana menteri pertama Indonesia.<ref>Puti Balkis Alisyabana, Natal: Ranah nan Data, Jakarta : Dian Rakyat, 1996</ref> Ayahnya, Raden Alisyahbana gelar Sutan Arbi, ialah seorang guru.<ref>Sutan Takdir Alisjahbana, Majalah Tempo, 10 Maret 1990</ref>
 
Ibunya, Puti Samiah adalah seorang [[Suku Minangkabau|Minangkabau]] yang telah turun temurun menetap di [[Natal]], [[Sumatra Utara]]. Puti Samiah merupakan keturunan Rajo Putih, salah seorang raja [[Kesultanan Indrapura]] yang mendirikan kerajaan Lingga Pura di Natal. Dari ibunya, STA berkerabat dengan [[Sutan Sjahrir]], perdana menteri pertama Indonesia.<ref>Puti Balkis Alisyabana, Natal: Ranah nan Data, Jakarta : Dian Rakyat, 1996</ref> Ayahnya, Raden Alisyahbana gelar Sutan Arbi, ialah seorang guru.<ref>Sutan Takdir Alisjahbana, Majalah Tempo, 10 Maret 1990</ref> Kakek STA dari garis ayah, Sutan Mohamad Zahab, dikenal sebagai seseorang yang memiliki pengetahuan agama dan hukum yang luas. Di atas makamnya tertumpuk buku-buku yang sering disaksikan terbuang begitu saja oleh STA ketika dia masih kecil. Kabarnya, ketika kecil STA bukan seorang kutu buku, dan lebih senang bermain-main di luar. Setelah lulus dari sekolah dasar pada waktu itu, STA pergi ke [[Kota Bandung|Bandung]], dan sering kali menempuh perjalanan tujuh hari tujuh malam dari Jawa ke Sumatra setiap kali dia mendapat liburan. Pengalaman ini bisa terlihat dari cara dia menuliskan karakter Yusuf di dalam salah satu bukunya yang paling terkenal: ''[[Layar Terkembang]]''.
 
=== Pernikahan dan Keluarga ===
STA menikah dengan tiga orang istri serta dikaruniai sembilan orang putra dan putri. Istri pertamanya adalah Raden Ajeng Rohani Daha (menikah tahun 1929 dan wafat pada tahun 1935) yang masih berkerabat dengan STA. Dari R.A Rohani Daha, STA dikaruniai tiga orang anak yaitu [[Samiati Alisjahbana]], [[Iskandar Alisjahbana]], dan [[Sofyan Alisjahbana]]. Tahun 1941, STA menikah dengan Raden Roro Sugiarti (wafat tahun 1952) dan dikaruniai dua orang anak yaitu [[Mirta Kartohadiprodjo|Mirta Alisjahbana]] dan [[Sri Artaria Alisjahbana]]. Dengan istri terakhirnya, Dr. Margaret Axer (menikah 1953 dan wafat 1994), STA dikaruniai empat orang anak, yaitu Tamalia Alisjahbana, Marita Alisjahbana, Marga Alisjahbana, dan Mario Alisjahbana.
 
Putra sulungnya, [[Iskandar Alisjahbana]] pernah menjabat sebagai Rektor [[ITB]], serta mertua dari [[Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional|Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas]] pada [[Kabinet Indonesia Bersatu II]], [[Armida Alisjahbana]]. Iskandar juga dikenal sebagai "Bapak Sistem Komunikasi Satelit Domestik Palapa." Sofjan dan Mirta Alisjahbana merupakan pendiri majalah ''[[Femina|Femina Group]].''<ref>Wini Angraeni, Keluarga Sutan Takdir Alisjahbana: Harus Menjadi Orang Extraordinary, Majalah Swa, 22 Januari 2009</ref>
 
== Penghargaan ==