Sejarah Kesultanan Utsmaniyah: Perbedaan revisi

48 bita ditambahkan ,  3 bulan yang lalu
2017 source edit
(Menghapus pengalihan ke Kesultanan Utsmaniyah)
Tag: Menghapus pengalihan
(2017 source edit)
'''Sejarah Kesultanan Utsmaniyah''' — Kerajaan Bani Abbas di Baghdad runtuh. [[Bangsa Mongol]] dan Tartar naik. Pada saat itu, boleh dikatakan bahwa tidak ada lagi kerajaan Islam yang besar. Negeri-negeri Islam berpecah belah. Namun, dengan munculnya Daulah Utsmaniyah, dapatlah Islam kembali menyambung usaha dan kemegahan yang lama.
 
Negeri-negeri Islam, seperti Mesir, Hijaz (Mekah - Madinah), Yaman, Irak, Palestina, Tunisia, Maroko, Aljazair dan Tripoli, semua itu dahulu adalah wilayah dari Kerajaan Turki Utsmani. Begitu juga negeri-negeri Eropa Timur (Balkan). Kekuasaannya meluas di bekas kekuasaan Kerajaan Byzantium (Konstantinopel) setelah negeri itu ditaklukan oleh Sultan Muhammad al-Fatih pada 1453. Pernah pula, Sulaiman al-Qanuni dua kali menyerang Vienna, pusat Kerajaan Austria. Sampai sekarang, masih terdapat kaum Muslimin di negeri-negeri Bulgaria, Yugoslavia, Chekoslowakia dan Polandia, keturunan-keturunan pahlawan Islam Turki Usmani yang pernah menancapkan bendera Bulan Bintang di negeri itu.
Raja-raja Islam di Indonesia pada abad ke-17, seperti Aceh dan Banten, pernah utus-mengutus dengan Kerajaan Turki Utsmani dan pernah meminta pengakuan gelar sultan dari Istambul. Pada beberapa istana raja-raja Indonesia itu pun masih dapat dilihat, peninggalan hadiah Turki Usmani yang dijadikan lambang kebesaran.
 
Ulama-ulama besar di [[Indonesia]], seperti Syekh Nawawi di Banten, Syekh Dawud Fatani, dan Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, belajar mendalami agama Islam di Mekah. Saat itu, Mekah ada di bawah Kerajaan Turki Usmani. Kesan-kesan kebudayaan Islam Turki juga masuk ke tanah air kita. Di kampung-kampung Palembang, Bugis, Minangkabau, terutama Aceh, kadang-kadang masih kita lihat tergantung di dinding, gambar sultan-sultan dan pahlawan Turki Usmani, misalnya Anwar Pasya dan Ibrahim Pasya. Sebelum Kemal at-Taturk menghapuskan jabatan khalifah dan memakzulkan Sultan Abdul Majid Khan dari takhta kerajaan pada 1924, masihlah terdengar nama-nama sultan itu didoakan di dalam khutbah Jum'at. Pada khutbah bagian kedua (na'at) di masjid di kampung-kampung itu, kadang masih tersimpan doa bagi Khalifah Turki itu.
 
Setelah Kerajaan Turki Usmani jatuh karena kalah perang pada 1914 - 1918, tanah Turki dan bagian imperium Utsmani telah dibagi-bagi oleh para musuhnya. Setelah itu, muncullah al-Ghazi Mustafa Kemal Pasya (Kemal at-Taturk) yang mendirikan kembali Turki baru di atas reruntuhan Turki lama.
Pengguna anonim