Eufemisme: Perbedaan revisi

14.339 bita ditambahkan ,  11 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
k (bot Menambah: mk:Еуфимизам)
Kata "tempat kencing"(dalam bahasa sehari-hari biasa juga disebut [[WC]]) tidak cocok jika akan digunakan untuk percakapan yang sopan. Kata "kamar kecil" dapat menggantikannya. Kata "kamar kecil" ini [[konotasi]]nya lebih sopan daripada kata "tempat kencing". Jadi dalam eufemisme terjadi pergantian nilai rasa dalam percakapan dari kurang sopan menjadi lebih sopan.
 
MAKNA, NILAI RASA, PENGERTIAN EUFEMISME,
CIRI-CIRI EUFEMISME , DAN FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA EUFEMISME
 
2.1 Makna
Istilah makna dan arti tidak dibedakan dalam penelitian ini. Dalam kamus besar bahasa Indonesia dijelaskan, makna adalah arti atau maksud suatu kata (Poerwadarminta, 1979:624). Makna disebut juga dengan istilah referensi. Kata terdiri atas dua aspek, yaitu aspek bentuk atau ekspresi dan aspek isi atau makna. Aspek bentuk adalah aspek yang dapat ditangkap oleh indra mata dan telinga, sedangkan aspek isi adalah reaksi-reaksi yang timbul dalam pikiran kita karena dirangsang oleh aspek bentuk. Hal atau barang atau benda yang diwakili oleh bentuk disebut referen. Hubungan antara bentuk dan referen mengakibatkan makna kata atau referensi.
Makna suatu kata tidak selamanya bersifat statis, tetapi sewaktu-waktu dapat mengalami perubahan. Perubahan maknanya itu bisa terjadi secara ekstrim, bergeser, meluas, dan menyempit (Keraf, 1985:96). Suatu kata dikatakan mengalami perubahan makna secara ekstrim, kalau maknanya yang sekarang berbeda sama sekali dengan maknanya yang dahulu. Misalnya, kata merta /mertə/ dahulu bermakna ‘mati’, namun sekarang bermakna ‘berkah’. Suatu kata dikatakan mengalami pergeseran makna apabila maknanya yang dahulu sedikit berbeda dengan maknanya sekarang. Misalnya, kata mitra /mitrə/ dahulu bermakna ‘teman / sahabat’, tetapi sekarang bermakna ‘teman selingkuhan’.
Makna kata dikatakan meluas, kalau cakupan makna yang sekarang lebih luas daripada cakupan maknayang dahulu. Misalnya kata jro /jəro/ dahulu hanya bermakna ’sebutan seorang wanita yang berkasta sudra yang telah menikah dengan seorang pria berkasta tri wangsa (brahmana, ksatrya, weisya)’, tetapi sekarang selain digunakan untuk menyebut istilah tersebut, juga dipakai untuk ‘menyebut seseorang yang belum dikenal identitasnya’. Makna kata dikatakan menyempit, kalau cakupan makna sekarang lebih sempit daripada cakupan makna dahulu. Misalnya, kata balian /baliyan/ dulu bermakna ‘orang yang biasa menyembuhkan orang sakit dengan pengobatan tradisional, orang yang biasa menangani orang melahirkan, orang yang dimintai tenung’, tetapi sekarang maknanya telah menyempit, yaitu ‘orang yang biasa menyembuhkan orang sakit dengan pengobatan tradisional’.
Kata-kata mengalami perubahan makna seperti tersebut di atas samasekalai tidak menggan ti suatu kata tabu sehingga kata-kata tersebut tidak berubah menjadi eufemisme. Berbeda halnya dengan perubahan makna pada kata berikut ini. Kata jro ketut /jəro ketut/ yang bermakna ‘anak keempat perempuan dari kaum sudra yang telah menikah dengan pria berkasta tri wangsa’ setelah dipakai mengganti kata tabu bikul /bikul/ ’tikus’, maka berubah menjadi eufemisme jro ketut /jəro ketut/ yang bermakna ’tikus’. Di sini kata jro ketut /jəro ketut/ mengalami perubahan makna secara ekstrim, sedangkan eufemisme jro ketut /jəro ketut/ tidak tidak mengalami perubahan makna.
 
2.2 Nilai Rasa
Nilai rasa adalah gejala penambahan rasa pada makna dasar (Slametmuljana, 1964: 31). Nilai rasa mempengaruhi makna suatu kata. Oleh karena itu, pemakai bahasa harus peka dalam menggunakan kata-kata.
Suatu kata tidak hanya mengandung makna, tetapi juga mengandung nilai rasa. Seperti halnya makna suatu kata dapat mengalami perubahan, nilai rasa terhadap makna itu pun dapat mengalami perubahan, yaitu berubah dari positif menjadi negatif, dari negatif menjadi positif, dari biasa menjadi positif, dari biasa menjadi negatif, dari positif menjadi biasa, dan dari dari negatif menjadi biasa. Nilai rasa positif akan menimbulkan perasaan senang, nyaman, dan terhormat kepada lawan bicara, sedangkan nilai rasa negatif menimbulkan perasaan tidak senang, tidak nyaman, marah, tersinggung, jijik, dan benci kepada lawan bicara. Misalnya, kata jeroné /jərone/ ’kamu’ mempunyai nilai rasa yang positif, kata awaké /awake / ’kamu’ memiliki nilai rasa yang biasa, dan kata iba /ibə/, nani /nani/, siga /sigə/ ’kamu’ bernilai rasa yang negatif.
Eufemisme selalu mempunyai nilai rasa yang positif, sedangkan kata tabu selalu mempunyai nilai rasa yang negatif. Demikian pula kata yang tergolong halus selalu mempunyai nilai rasa yang positif, sedangkan kata yang tergolong kasar selalu mempunyai nilai rasa yang negatif. Akan tetapi, perlu diingat bahwa kata yang halus bukanlah eufemisme dan kata yang kasar bukanlah kata tabu. Jadi, kata jeroné /jərone/ ’kamu’ tersebut di atas bukanlah eufemisme dan kata iba /ibə/, nani /nani/, siga /sigə/ ’kamu’ bukan kata tabu. Di dalam menentukan eufemisme hendaklah berhati-hati terhadap perubahan makna, perubahan nilai rasa, kata halus, dan kata kasar.
 
2.3 Pengertian Eufemisme
Kata eufemisme berasal dari kata Yunani euphemizein yang berarti ’menggunakan kata-kata dengan arti yang baik atau dengan tujuan yang baik’ (Keraf, 1981: 117). Goris Keraf mengatakan bahwa eufemisme adalah semacam acuan berupa ungkapan-ungkapan yang tidak menyinggung perasaan orang atau ungkapan-ungkapan yang halus untuk menggantikan acuan-acuan yang mungkin dirasakan menghina, menyinggung perasaan atau menyugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan (1981:117). Eufemisme juga berarti berbicara dengan kata-kata yang jelas dan wajar atau pandai berbicara ; berbicara baik (Dale,1971;239). Moeliono (1984;4) mengatakan bahwa eufemisme tiada lain adalah ungkapan yang lebih halus , sebagai pengganti ungkapan yang lebih kasar, yang dianggap merugikan atau tidak menyenangkan.
Di dalam Kamus Istilah Sastra oleh abdul Rozak Zaidin dkk. ditemukan pula definisi eufemisme. Dikatakan bahwa eufemisme adalah majas berupa ungkapan yang mungkin dirasakan menghina, menyinggung perasaan, dan menyugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan yang diperhalus agar tidak menyinggung perasaan orang lain (1991:41).
Menurut Nazir Thoir dalam laporan penelitiannya ”Eufemisme dalam Bahasa Sasak Dialek Ngeto Ngete” mengemukakan pengertian eufemisme secara lebih rinci berikut ini. Di dalam proses terjadinya eufemisme, ada beberapa hal yang harus ada atau harus terjadi:
1) Harus ada bentuk yang diganti (kata tabu) dan bentuk pengganti (diambil dari perbendaharaan kata bahasa bersangkutan);
2) Harus ada faktor-faktor penyebab;
3) Harus ada sumber nilai rasa, yaitu pandangan masyarakat;
4) Harus terjadi perubahan nilai rasa dari negatif ke positif; dan
5) Harus terjadi perubahan makna secara ekstrim (makna semula bentuk pengganti berbeda samasekali dengan makna setelah bentuk pengganti tersebut menjadi eufemisme) (1993: 16).
Pengertian tersebut bisa dijelaskan dengan contoh; kata bikul /bikul/ ’tikus’ yang menurut pandangan masyarakat Bali, kata ini mempunyai nilai rasa negatif dan mereka menganggapnya kata tabu. Jika mereka melihat tikus di rumah atau di sawah, mereka tidak akan menyebutkan dengan kata bikul /bikul/ ’tikus’. Menurut kepercayaan mereka, binatang tikus itu akan marah, merusak padi, menggigit pakaian, dan menurut orang Bali disebut ngerusuhin ’membuat onar’ apabila sampai di pisuh ’maki’ atau disebut dengan bikul /bikul/. Nilai rasa terhadap makna kata bikul /bikul/ adalah negatifbagi binatang tikus tersebut. Oleh karena faktor kepercayaan inilah, maka masyarakat penutur bahasa Bali mengganti kata ini dengan bentuk jro ketut /jəro kətut/ yang bermakna ’tikus’. Ternyata bentuk baru ini memiliki nilai rasa yang positif bagi binatang tikus tersebut, karena setelah disebut dengan bentuk ini, binatang tikus itu tidak merusak padi atau pakaian, dan tidak lagi ngerusuhin ’membuat onar’. Bentuk pengganti jro ketut /jəro kətut/ ’tikus’ termasuk eufemisme. Sebelum menjadi eufemisme, bentuk jro ketut /jəro kətut/ mempunyai nilai rasa biasa-biasa saja. Jadi, dapat dikatakan bahwa eufemisme adalah kata yang mempunyai nilai rasa positif yang merupakan pengganti kata tabu yang mempunyai nilai rasa negatif, tetapi makna atau referensinya sama.
 
2.4 Ciri-Ciri Eufemisme
Di dalam bahasa yang memiliki tingkatan-tingkatan atau unda usuk, misalnya kasar dan halus, kita akan mengalami kesukaran dalam menentukan eufemisme. Kata yang kasar tidak sama dengan kata tabu walaupun sama-sama mempunyai nilai rasa yang negatif. Demikian pula kata yang halus berbeda dengan eufemisme, walaupun sama-sama mempunyai nilai rasa positif. Kalau kurang berhati-hati, kita bisa keliru memberikan contoh eufemisme. Namun, ada beberapa ciri eufemisme yang perlu diperhatikan untuk menentukan apakah suatu bentuk itu merupakan eufemisme atau bukan. Ciri-ciri eufemisme tersebut dijelaskan dibawah ini.
2.4.1 Wujud Eufemisme Harus Berbeda dengan Wujud Kata Tabu yang Diganti
Di dalam bahasa Bali, ditemukan kata rangda /raŋdə/. Kata ini tidak boleh di ucapkan untuk menyebut sesuhunan yang dipuja dipura-pura. Kalau diucapkan , maka akan dikatakan melecehkan atau tulah, karena itu perwujudan dewa. Agar tidak terjadi hal yang demikian, maka kata rangda /raŋdə/ diganti dengan kata durga /durgə/ yang maknanya rangda juga. Pengganti ini merupakan eufemisme. Jika diperhatikan wujud kata tabu rangda /raŋdə/ dengan wujud durga /durgə/, maka jelas berbeda samasekali. Jadi, keharusan perbedaan wujud merupakan salah satu ciri eufemisme.
2.4.2 Nilai Rasa terhadap Makna Harus Positif
Setiap eufemisme harus memiliki nilai rasa yang positif. Kata yang mempunyai nilai rasa negatif atau yang mempunyai nilai rasa biasa-biasa saja bukanlah eufemisme. Misalnya, neba /nəbə/ sebagai pengganti kata meju /məju/ yang bermakna ’berak’. Kata meju /məju/ ’berak’ menimbulkan rasa jijik pada orang lain yang mendengarnya. Ini berarti bahwa kata ini mempunyai nilai rasa yang negatif. Adapun bentuk penggantinya, yaitu eufemisme neba /nəbə/ ’berak’ tidak menimbulkan rasa jijik. Hal ini berarti bahwa nilai rasa yang dikandungnya adalah positif. Jadi, keharusan mempunyai nilai rasa positif merupakan ciri eufemisme pula.
2.4.3 Makna yang Dikandung oleh Eufemisme dan Kata yang Digantinya Harus Sama
Makna atau referensi yang dikandung oleh eufemisme harus sama dengan makna atau referensi yang dikandung oleh kata tabu. Misalnya, eufemisme ratu mas ayu /ratu mas ayu/ mempunyai makna yang sama dengan barong bangkung /baroŋ baŋkuŋ/ ’barong yang berbentuk seperti babi’. Jadi, ini pun merupakan salah satu ciri eufemisme.
2.4.4 Eufemisme Tidak Dapat Dipertentangkan dengan Bentuk Kasar
Bentuk halus dipertentangkan dengan bentuk kasar. Bentuk halus tidak sama dengan eufemisme. Oleh karena itu, eufemisme tidak dapat dipertentangkan dengan bentuk kasar. Misalnya, eufemisme sang mong /saŋ moŋ/ ‘harimau’ adalah pengganti kata macan /macan/ ‘harimau’ bukan bentuk halus dari kata macan /macan/. Berbeda halnya dengan kata ngewarih /ŋəwarih/ ’kencing’ dan manyuh /maňuh/ ‘kencing’. Kedua kata ini dapat dipertentangkan, yaitu yang pertama halus, sedangkan yang yang kedua kasar. Dengan demikian, jelas bahwa kata ngewarih /ŋəwarih/ ’kencing’ bukan eufemisme. Ciri ini dipakai untuk membedakan bentuk halus dengan eufemisme.
 
2.5 Faktor Penyebab terjadinya Eufemisme
Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya eufemisme. Faktor-faktor tersebut, yaitu kepercayaan, kesopanan, kenyamanan, dan kehormatan.
2.5.1 Faktor Kepercayaan
Di kalangan masyarakat penutur bahasa Bali ada kepercayaan yang turun-temurun, yaitu tidak boleh mengatakan panak /panak/ ’anak’ sewaktu anak masih bayi/balita, karena bayi itu dianggap masih bersih (suci) dan belum terkena dosa apapun. Sering terjadi orang tua yang kurang memperhatikan hal itu, anaknya setelah besar menjadi bandel dan tidak mau nurut orangtuanya. Kata panak /panak/ ini dianggap tabu oleh masyarakat untuk menyebutkan anak yang masih bayi dan bernilai rasa negatif. Oleh karena itu, kata panak /panak/ diganti dengan kata ratu betara /ratu bətarə/ ’dewa’ atau betaran titiang /bətaran titiyaŋ/ ’dewaku’. Kata pengganti ini merupakan eufemisme. Jadi, jelas bahwa eufemisme ratu betara /ratu bətarə/ ’dewa’ atau betaran titiang /bətaran titiyaŋ/ ’dewaku’ terjadi disebabkan faktor kepercayaan.
 
 
2.5.2 Faktor Kesopanan
Ada pula eufemisme yang terjadi disebabkan oleh faktor kesopanan, misalnya neba /nəbə/ ’berak’. Sebelum menjadi eufemisme, kata neba /nəbə/ ’berak’ bermakna ’ke teba(tegalan di wilayah pekarangan rumah)’. Eufemisme di atas merupakan pengganti kata meju /məju/ ’berak’, kata ini memiliki nilai rasa negatif bagi orang yang mendengarnya, karena dapat menimbulkan rasa jijik. Oleh karena itu, tidak sopan mengucapkan kata ini, terutama pada saat orang sedang makan. Jadi, faktor kesopanan dapat pula menyebabkan terjadinya eufemisme.
2.5.3 Faktor Kenyamanan
Di dalam bahasa Bali, ditemukan eufemisme ngalahin /ŋalahin/ ’mati’. Eufemisme ini mempunyai nilai rasa positif yang menimbulkan rasa nyaman bagi yang mendengarkannya. Sebelum menjadi uefemisme, kata ngalahin /ŋalahin/ bermakna ’meninggalkan’. Kata ini menjadi eufemisme setelah mengganti kata mati /mati/ ’mati’. Kata ini memiliki nilai rasa negatif karena kurang nyaman didengarkan untuk menyebut orang yang telah meninggal, baik oleh pembicara maupun lawan bicara. Agar mendengarkannya merasa nyaman, maka kata ini diganti dengan kata ngalahin /ŋalahin/ ’mati’. Jadi, eufemisme ngalahin /ŋalahin/ terjadi karena faktor kenyamanan.
2.5.4 Faktor Kehormatan
Menurut dongeng masyarakat Bali, barong adalah simbul dharma yang merupakan titisan Dewa Brahma dalam menyelamatkan bumi saat diserang/dikacaukan oleh para durga dan detya yang menyebar penyakit dimana-mana, sehingga Bali mengalami grubug ’bencana’. Oleh masyarakat Bali barong sangat dihormati dan dipakai simbul dewa disungsung ’dipuja’ di pura-pura tertentu, sebagai sarana mengusir hawa-hawa jahat yang masuk.
Penduduk mulai hidup tentram lagi, bebas dari segala macam penyakit dan bencana berkat pertolongan dari barong. Semenjak itulah masyarakat Bali menaruh rasa hormat kepada barong dan dipuja sebagai perwujudan/manifestasi dewa, panggilannya pun diubah menjadi jro gede /jəro gəde/. Mula-mula kata jro gede /jəro gəde/ bermakna ‘orang yang bertubuh besar’. Jadi, digantinya kata barong /baroŋ/ dengan eufemisme jro gede /jəro gəde/ ‘barong’ disebabkan oleh faktor kehormatan.
(tulisan hasil penelitian: Pande Kadek Juliana)
===Lihat pula===
[[Persuasi melalui Retorika]]
Pengguna anonim