Stasiun Tanjung Priuk: Perbedaan revisi

121 bita ditambahkan ,  2 bulan yang lalu
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler
 
Untuk mempersiapkan pembangunan stasiun, SS membuat model maket Stasiun Tanjung Priuk baru. Maket ini muncul pada buku peringatan hari ulang tahun ke-50 SS karya S.A. Reitsma.<ref name=":02">{{Cite book|title=Boekoe peringetan dari Staatsspoor-en-Tramwegen di Hindia Belanda|last=Reitsma|first=S.A.|publisher=Topografische Inrichting|year=1925|isbn=|location=Weltevreden|pages=}}</ref> SS kemudian mengontrak sebuah perusahaan baja bernama Machinefabriek Braat Soerabaia-Djokja-Tegal yang berlokasi di [[Ngagel, Wonokromo, Surabaya|Ngagel, Surabaya]] untuk membuatkan kerangka atap ''overcapping''-nya.<ref>{{Cite journal|last=Sleeswijk|first=Wegener|year=1929|title=Uitbreiding van de Spoorwegen in en om Batavia en Tandjong Priok|url=https://www.delpher.nl/nl/tijdschriften/view?coll=dts&identifier=dts:2957109:mpeg21:0001&objectsearch=Machinefabriek+Braat&query=Machinefabriek+Braat+tandjong+priok|journal=de Ingenieur|volume=1|issue=2|pages=1-12|doi=}}</ref> Pada masa itu, Gubernur Jenderal yang berkuasa adalah [[A.F.W. Idenburg]] (1909-1916). Diperlukan sekitar 1.700 tenaga kerja dengan 130 di antaranya adalah pekerja berbangsa Eropa.<ref name="ArsitekturKAI" />
 
[[file:Structure of Tanjung Priok Station (c.a. 1925).jpg|jmpl|Struktur rangka atap Stasiun Tanjung Priuk, c.a. 1925]]
 
Stasiun baru ini, dibuka untuk umum pada 6 April 1925 yang bertepatan dengan peluncuran pertama KRL rute Priok–[[Meester Cornelis]] ([[Jatinegara]]). Peluncuran pertama itu sekaligus dilakukan untuk memperingati hari ulang tahun SS yang ke-50.<ref name=":02" /> Bangunan stasiun bergaya [[Art Deco]] serta memiliki luas {{convert|3678|m2|ha|abbr=on}}, berdiri di atas lahan emplasemen yang luasnya {{convert|46930|m2|ha|abbr=on}}.{{Sfn|Widayanti|Widyarsih|2012|p=9}}[[Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Het spoorwegstation van Tandjong Priok Djakarta TMnr 60054792.jpg|jmpl|Stasiun Tanjung Priuk pada tahun 1950-an|kiri]]Dengan selesainya stasiun ini, timbul "pemborosan" yang dilakukan oleh SS. Dengan delapan jalur dan lima [[peron]], stasiun ini sangat besar dan terhitung 1929 stasiun ini nyaris sebesar [[Stasiun Jakarta Kota|Station Batavia-benedenstad]] yang kini berubah menjadi Stasiun Jakarta Kota. Sayangnya kapal-kapal yang sandar di Pelabuhan Tanjung Priok tidak menggiring penumpang ke stasiun ini. Stasiun ini kelak hanya menjadi terminus bagi KRL sejak tahun 1925.<ref name="mka">{{Citation