Rosa Luxemburg: Perbedaan revisi

5.941 bita dihapus ,  11 tahun yang lalu
k
Suntingan 122.200.54.66 (bicara) dikembalikan ke versi terakhir oleh TXiKiBoT
k (Suntingan 122.200.54.66 (bicara) dikembalikan ke versi terakhir oleh TXiKiBoT)
 
Namanya oleh pemerintah [[Jerman Timur]] diabadikan sebagai nama jalan di [[Berlin]]: ''Rosa Luxemburgstrasse'' dan ''Rosa Luxemburgplatz''.
 
Ialah seorang wanita yang membawa ajaran Karl Marx menjadi termashur di dunia. Imperialisme merupakan tingkat tertinggi kapitalisme.
Secara sederhana isi teori imperialisme manyatakan bahwa: melalui imperialisme, kapitalisme seakan-akan mengekspor kontradiksi-kontradiksi internalnya ke bagian dunia lain sehingga keruntuhannya dapat tertunda. Dalam pandangan Marxisme, teori imperialisme merupakan aktualisasi analisis Marx terhadap kapitalisme dalam kondisi-kondisi masyarakat kapitalis pada permulaan abad 20.
 
Sebenarnya, pokok-pokok teori imperialisme sudah diajukan oleh ahli ekonomi Inggris, John Hobson, tetapi pemikirannya baru mulai diperhatikan sesudah menjadi bagian dalam teori perjuangan Marxisme. Teori Imperialisme muncul dalam 2 versi: Yang pertama adalah teori imperialisme perdagangan yang dikembangkan oleh Rosa Luxemburg. Bentuk kedua adalah teori Lenin tentang imperialisme modal.
 
Menurut Luxemburg: kapitalisme terpaksa mencari pasar-pasar di luar negeri karena massa rakyat dalam negeri semakin tidak mampu untuk membeli hasil-hasil produksi kapitalistik yang terus meluas. Jadi kolonialisme dan imperialisme adalah pemecahan masalah produksi berlebihan.
Dengan demikian, kapitalisme dapat menunda keambrukannya, tetapi tidak dapat mengatasinya. Karena apabila seluruh dunia sudah dijajah oleh negara-negara kapitalistik, niscaya persaingan di antara kapitalis dalam merebut pasar-pasar yang masih tersisa akan semakin tajam, sehingga perang-perang imperialistik antara negara kapitalistik tidak terelakkan. Perang-perang itu akhirnya akan menciptakan suatu situasi dimana baik rakyat negara-negara terjajah maupun kelas buruh di negara-negara kapitalis dapat melakukan revolusi.
 
Imperialisme Modal
 
Dalam merumuskan teori ini, Lenin mendasarkan diri pada Hobson, Bucharin, Luxemburg, dan terutama pada Hilferding, seorang Austromarxis.
Sumbangan kunci Rudolf Hilferding terhadap pengertian kapitalisme adalah istilah “Finanzkapital”, modal moneter. Hilferding menemukan bahwa produksi kapitalistik lama-kelamaan mesti dikuasai oleh bank-bank. Para wakil bank duduk dalam pimpinan perusahaan untuk memastikan bahwa pinjaman bank akan kembali. Bank-bank juga mengerem persaingan yang berlebihan karena merekalah yang akan rugi kalau ada perusahaan yang bangkrut. Maka bank-bank mendukung pembentukan monopoli-monopoli serta ekspor modal ke wilayah yang masih bebas dari monopoli pihak asing. Negara harus melindungi modal moneter dan mendukung ekspansinya, jadi harus melakukan kebijakan imperialistik. Menurut Kolakowski, teori imperialisme Hilferding merupakan sumbangan terbesar Austromarxisme pada teori marxisme. Nah, bagaimana teori tersebut itu dipakai Lenin untuk mendukung teorinya tentang revolusi.
 
Teori imperialisme Lenin ini kemudian menjadi interpretasi standar Marxisme terhadap kolonialisme dan imperialisme. Lenin menyatakan: bahwa pembentukan monopoli-monopoli dan modal moneter merupakan perkembangan kapitalisme yang niscaya. Keterjalinan modal industri dan modal bank menjadi semakin erat.
Ekspor komoditi semakin diganti oleh ekspor modal yang memperkuat ketergantungan moneter dan ekonomis negara-negara pra-kapitalis pada negara-negara industri maju yang kaya modal
 
Untuk mengurangi persaingan, kartel-kartel dan trust-trust internasional bersekutu membentuk kartel-kartel internasional yang membagi pasar-pasar komoditi dan wilayah bahan-bahan mentah di antara mereka. Tetapi persekutuan-persekutuan internasional itu lebih mirip gencatan senjata sementara daripada perdamaian permanen. Apabila negara-negara adikuasa sudah membagi seluruh wilayah yang masih “bebas” di antara mereka, perang imperialistik di antara mereka, seperti Perang Dunia Pertama, tidak dapat dihindari. Sementara itu, kebijakan imperialistik negara-negara kapitalistik memang berhasil memenangkan dulu pertentangan antar kelas buruh dan kelas pemodal.
 
Laba tambahan hasil monopoli-monopoli memungkinkan kelas kapitalistik “menyogok” proletariat negara-negara kapitalis dengan memberikan upah yang tinggi.
Kelas buruh itu merupakan “buruh bangsawan” yang berpikir oportunistik dan nasionalistik sehingga mereka bersedia mendukung “kepentingan nasional” bersama kaum kapitalis. Analisis ini sekaligus mencap, sosialisme evolusioner-demokratis á la Bernstein sebagai hasil sogokan kaum kapitalis.
Dengan demikian, perjuangan kelas bergeser dari tingkat nasional ke tingkat internasional. Daerah-daerah terjajah dan terhisap menjadi sekutu kaum buruh revolusioner di negara-negara kapitalis.
 
Karena revolusi sosialis tidak lagi harus pecah di negara-negara industri maju, melainkan dapat juga pecah lebih dulu di salah satu negara pinggiran, lalu menyulut revolusi buruh di negara-negara industri. Lenin menggunakan gagasan ini untuk membenarkan mengapa ia mengusahakan revolusi di Rusia, sebuah negara yang waktu itu masih semi feodal. Teori imperialisme timbul kembali di tahun 1960-an dalam pelbagai Teori Neo-imperialisme dimana IMF, Worldbank, dan perusahaan-perusahaan internasional kemudian mengambil alih fungsi bekas negara penjajah.
 
Meskipun teori imperialisme dalam bentuk “klasik” tersebut sekarang tidak mempunyai banyak penganutnya lagi, ia tetap memainkan peranan yang penting.
Teori Imperialisme adalah teori pertama yang menghubungkan kemiskinan di Dunia Ketiga dengan corak hubungan Utara-Selatan, dan bukan membebankannya pada kekurangan-kekurangan internal masyarakat-masyarakat Dunia Ketiga itu sendiri. Teori imperialisme menjadi latar belakang teori-teori dependensi yang muncul dalam tahun 1960-an, yang mengangkat kembali masalah-masalah under-development ke dalam diskusi teoritis dan politis serta memberikan dorongan penting dan tetap untuk meneliti asal-usul dan proses-proses keterbelakangan, kaitan-kaitan ekonomis-politis dan batas-batas orientasi di luar faktor ekonomis. Teori-teori itu juga mempertajam kesadaran akan dimensi etis perekonomian dunia.
 
 
{{bio-stub}}
112.688

suntingan