Sriwijaya: Perbedaan revisi

6 bita ditambahkan ,  2 bulan yang lalu
k
k (reflnk)
Dewi Tara, putri Dharmasetu, menikahi [[Samaratungga]], seorang anggota keluarga Sailendra yang kemudian naik takhta Sriwijaya sekitar tahun 792.<ref>{{cite book |last=Munoz|first=Paul Michel|title=Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula|publisher=Editions Didier Millet|year=2006|location=Singapore|url= |doi= |pages=175|isbn= 981-4155-67-5}}</ref> Pada abad ke-8 Masehi, istana Sriwijaya bertempat di Jawa, karena para raja dari wangsa Sailendra diangkat sebagai Maharaja Sriwijaya.
 
Setelah Dharmasetu, Samaratungga menjadi Maharaja Sriwijaya berikutnya. Dia memerintah sebagai penguasa pada kurun 792-835. Berbeda dari Dharmasetu yang ekpansionis, Samaratungga tidak terjun dalam kancah ekspansi militer, melainkan lebih suka untuk memperkuat pemerintahan dan pengaruh Sriwijaya atas Jawa. Dia secara pribadi mengawasi pembangunan candi agung [[Borobudur]]; sebuah [[mandala]] besar dari batu yang selesai pada 825, pada masa pemerintahannya.<ref>{{cite book |last=Munoz|title=Early Kingdoms |pages=143}}</ref> Menurut [[George Coedes]], "pada paruh kedua abad kesembilan, Jawa dan Sumatra bersatu di bawah kekuasaan wangsa Sailendra yang memerintah di Jawa... dengan pusat perdagangan di Palembang."<ref name=Coedes"indianised"/>{{rp|92}} Samaratungga seperti Rakai Warak, tampaknya sangat dipengaruhi oleh kepercayaan Buddha Mahayana yang cinta damai. Beliau berusaha untuk menjadi seorang penguasa yang welas asih. Penggantinya adalah Putri [[Pramodhawardhani]] yang bertunangan dengan [[Rakai Pikatan]] yang menganut aliran Siwa. Dia adalah putra Rakai Patapan, seorang ''rakai'' (penguasa daerah) yang cukup berpengaruh di Jawa Tengah. Langkah politik ini tampaknya sebagai upaya untuk mengamankan perdamaian dan kekuasaan Sailendra di Jawa, dengan cara mendamaikan hubungan antara golongan Buddha aliran Mahayana dengan penganut Hindu aliran Siwa.
 
==== Kembali ke Palembang ====
6.365

suntingan