Pertempuran Mu'tah: Perbedaan revisi

712 bita ditambahkan ,  1 bulan yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler
{{Infobox Military Conflict|
conflict=Pertempuran Mu'tah<br>غزوة مؤتة
|partof= [[PeperanganPerang Romawi TimurArab-ArabBizantium]]|
|image=
|caption=
|date=[[629]]
|place=Dekat [[Al Karak|Karak]], [[Yordania]]
|result=Kemenangankemenangan Muslim (menurut Ibnu Katsir), kemenangan Bizantium<ref>F. Donner, ''The Early Islamic Conquests'', p.105</ref>{{br}} atau [[imbang]]<ref>[[Ibnu Ishaq]] dan [[Ibnu Hisyam]] melaporkan imbang untuk kedua belah pihak, baik Muslim maupun Romawi. Sedangkan [[Ibnu Katsir]] melaporkan kemenangan Muslim.</ref><ref name="Haykal">[[Muhammad Husayn Haykal]], ''The Life of Muhammad (Allah's peace and blessing be upon him)'', Diterjemahkan oleh Isma'il Razi A. al-Faruqi, 1976, American Trust Publications ISBN 0-89259-002-5</ref>
|combatant1=[[Bangsa Arab|Arab]] [[Muslim]]
|combatant2=[[Kekaisaran Romawi Timur]]<br>Kerajaan (Bizantium){{br}}[[GhassaniyahArab Kristen]]
|commander1=[[Zaid bin Haritsah]]{{KIA}}<, {{br>}}[[Ja'far bin AbiAbu Thalib]],{{KIA}}< {{br>}}[[Abdullah bin Rawahah]] {{KIA}}<br><ref>Powers, David S. (2014-05-23). Zayd. University of Pennsylvania Press. pp. 58–9. ISBN 978-0-8122-4617-9.</ref><br>[[Khalid binibn Walid]]
|commander2=[[HerakliusHeraclius]]<,{{br>}}[[Theodorus]],{{br}}[[Syurahbil (saudarabin Heraklius)|Theodorus‘Amr al-Ghassani]],{{br}}[[Malik bin Zafilah]]
|strength1=3,000 ([[Ibnu Qayyim]] dan [[Ibnu Hajar]])<ref>[[Ibn Qayyim Al-Jawziyya]]. ''[[Zad al-Ma'ad]]'' 2/155.</ref><ref name="makhtoom">Saif-ur-Rahman Mubarakpuri, ''ar-Raheeq al-Makhtoom'', "The Sealed Nectar", Islamic University of Medina, Dar-us-Salam publishers ISBN 1-59144-071-8</ref><ref name="makhtoom"/><ref>[[Ibnu Hajar]]. ''[[Fath al-Bari]]'' 7/511.</ref>
|strength2=100.000(lowest)
200,000(Highest) (sumber Muslim)<ref name="Haykal"/>
|casualties1=12 (sumber Muslim, mungkin lebih)<ref name="makhtoom"/>
|casualties2=20,000 (sumber Muslim, mungkin kurang) <ref name="makhtoom"/>}}
|}}
{{Perang Arab-Bizantium}}
{{Pertempuran Muhammad}}
 
'''Pertempuran Mu'tah''' ({{lang-ar|'''معركة مؤتة''' , '''غزوة مؤتة'''}}) terjadi pada [[629]] M atau 5 [[Jumadil Awal]] 8 Hijriah<ref name="makhtoom"/>), dekat kampung yang bernama Mu'tah, di sebelah timur [[Sungai Yordan]] dan [[Al Karak]], antara pasukan [[Muslim]] yang dikirim oleh [[Nabi]] [[Muhammad]] dan tentara [[Kekaisaran Romawi Timur]] ([[Bizantium]]).
 
== Latar belakang ==
Setelah [[Perjanjian Hudaibiyyah]] disepakati, Rasullulah mengirimkan surat-surat dakwah sekaligus berdiplomasi kepada para penguasa negeri yangyg berbatasan dengan Jazirahjazirah Arabarab, termasuk kepada [[Heraklius]]. Pada Tahun 7 [[Kalender Hijriyah|hijriah]] atau 628 [[Masehi|M]]AD, Rasulullah menugaskan [[al-Harits bin Umair‘Umair]] untuk mengirimkan surat dakwah kepada Gubernur Syam (Suriah) bernama Hanits bin Abi Syamr Al-Ghassani yg baru diangkat oleh Kekaisaran Romawi.
Dalam Perjalanan, di daerah sekitar Mu'tah, [[al-Harits bin Umair‘Umair]] dicegat dan dibunuh oleh penguasa setempat bernama [[Syurahbil bin Amr‘Amr al-Ghassani]] pemimpin dari suku [[Ghassaniyah]] (Pada waktu itu yang berkuasa di wilayah [[Palestina]] dan sekitarnya).<ref>http://www.dakwatuna.com/2008/peperangan-di-masa-rasulullah-bagian-4/{{Pranala mati|date=Juli 2021 |bot=InternetArchiveBot |fix-attempted=yes }}</ref><ref>{{Cite web |url=http://www.salaam.co.uk/books/show_comm_review.php?commreview_id=18 |title=Salinan arsip |access-date=2010-11-07 |archive-date=2010-11-27 |archive-url=https://web.archive.org/web/20101127212731/http://salaam.co.uk/books/show_comm_review.php?commreview_id=18 |dead-url=yes }}</ref><ref>Kelengkapan Tarikh Edisi Lux Jilid 2 Oleh Moenawar Chalil, K.H. hal 483</ref><ref>Fathul Baari (9/368)</ref> Dan padaPada tahun yangyg sama utusanUtusan Rasulullah pada Banu Sulayman dan Dhat al Talh daerah di sekitar negeri Syam (Irak) juga dibunuh oleh penguasa sekitar.<ref>{{Cite web |url=http://lsinsight.org/articles/2001/peace-war/ch3.htm |title=Salinan arsip |access-date=2010-11-07 |archive-date=2011-08-20 |archive-url=https://web.archive.org/web/20110820082116/http://lsinsight.org/articles/2001/peace-war/ch3.htm |dead-url=yes }}</ref> Sebelumnya, tidak pernah seorang utusan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibunuh dalam misinya.
 
Sedangkan menurut sumber-sumber Barat modern, pertempuran ini adalah upaya penaklukan yang gagal terhadap bangsa Arab di sebelah timur Sungai Jordan.<ref name="Muta">{{cite encyclopedia | author = Buhl, F | editor = P.J. Bearman, Th. Bianquis, [[Clifford Edmund Bosworth|C.E. Bosworth]], E. van Donzel and W.P. Heinrichs | encyclopedia =[[Encyclopaedia of Islam]] Online Edition | title = Mu'ta | publisher = Brill Academic Publishers | id = ISSN 1573-3912}}</ref>. Tentunya hal ini dikritisi sebab tidak mampu menjelaskan secara logis latar belakang pertempuran, antara pasukan muslim yg bahkan belum mempersatukan [[Jazirahjazirah Arab]] dan belum menguasai [[Makkah]] yang berani menentang kekuasaan bangsa adidaya Romawi di daerah utara yang sangat jauh dari [[Madinah]].
 
== Pertempuran ==
Sebelum pasukan islam berangkat untuk menegakkan panji La ilaha Illallah,Muhammad Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam telah menunjuk tiga orang sahabat sekaligus mengemban amanah komandankomanda secara bergantian bila komandan sebelumnya gugur dalam tugas di medan peperangan hingga mengakibatkan tidak dapat meneruskan kepemimpinan. Sebuah keputusan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Mereka itu adalah [[Ja'far bin Abi Thalib]], [[Zaid bin Haritsah]] (berasal dari kaum muhajirin) dan seorang sahabat dari Anshar, [[Abdullah bin Rawahah]], penyair Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.<ref>Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Bila Zaid meninggal, makan (pemimpin kalian adalah) Ja’far. Jika Ja’far meninggal, maka (pemimpin kalian adalah) ‘Abdullah bin Rawanah (Hadits riwayat Imam Bukhari no.4260-4261)</ref>
 
Singkatnya, pasukan islam yang berjumlah 3000 personel diberangkatkan. Ketika mereka sampai di daerah Ma’an, terdengar berita bahwa Heraklius mempersiapkan 100 ribu pasukannya. Selain itu, kaum Nasrani dari beberapa suku Arab pun telah siap dengan jumlah yang sama. Mendengar kabar yang demikian, sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum mengusulkan supaya meminta bantuan pasukan kepada Rasulullah atau dia memutuskan suatu perintah.
 
‘Abdullah bin RawahahRawanah radhiyallahu ‘anhu lantas mengobarkan semangat juang para sahabat radhiyallahu ‘anhum pada waktu itu dengan perkataannya, “Demi Allah, sesungguhnya perkata yang kalian tidak sukai ini adalah perkata yang kamu keluar mencarinya, yaitu syahadah (gugur dimedan perang dijalan Allah Azza wa Jalla). Kita itu tidak berjuang karena karena jumlah pasukan atau kekuatan. Kita berjuang untuk agama ini yang Allah Azza wa Jalla telah memuliakan kita dengannya. Bergeraklah. Hanya ada salah satu dari dua kebaikan: kemenangan atau gugur (syahid) di medan perang.”
 
Orang-orang menanggapi dengan berkata, “ Demi Allah, Ibnu RawahahRawanah berkata benar”.
 
Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu, panglima pertama yang ditunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, kemudian membawa pasukan ke wilayah Mu’tah. Dua pasukan berhadapan dengan sengit. Komandan pertama ini menebasi anak panah-anak panah pasukan musuh sampai akhirnyaakhirnay tewas terbunuh di jalan Allah Azza wa Jalla.
 
Bendera pun beralih ke tangan Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Sepupu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam ini berperang sampai tangan kanannya putus. Bendera dia pegangi dengan tangan kiri, dan akhirnya putus juga oleh tangan musuh. Dalam kondisi demikian, semangat dia tak mengenal surut, saat tetap berusaha mempertahankan bendera dengan cara memeluknya sampai dia gugur oleh senjata lawan. Berdasarkan keterangan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, salah seorang saksi mata yang ikut serta dalam perang itu, terdapat tidak kurangtidakkurang 90 luka di bagian tubuh depan dia baik akibat tusukan pedang dan maupun anak panah.<ref>Hadits riwayat Imam Bukhari no.4261</ref>
 
Giliran ‘Abdullah bin RawahahRawanah radhiyallahu ‘anhu pun datang. Setelah menerjang musuh, ajal pun menjemputmemjemput dia di medan peperangan.
 
Tsabit bin Arqam radhiyallahu ‘anhu mengambil bendera yang telah tak bertuan itu dan berteriak memanggil para Sahabat Nabi agar menentukan pengganti yang memimpin kaum muslimin. Maka, pilihan mereka jatuh pada Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu. Dengan kecerdikan dan kecemerlangan siasat dan strategi – setelah taufik dari Allah Azza wa Jalla – kaum muslimin berhasil memukul Romawi hingga mengalami kerugian yang banyak.
== Pasca pertempuran ==
Menyaksikan peperangan yang tidak seimbang antara kaum muslimin dengan kaum kuffar, yang merupakan pasukan aliansi antara kaum Nashara Romawi dan Nashara Arab, secara logis, kekalahan bakal di alami oleh para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam.
 
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengungkapkan ketakjubannya terhadap kekuasaan Allah Azza wa Jalla melalui hasil peperangan yang berakhir dengan kemenangan kaum muslimin dengan berkata: “Ini kejadian yang menakjubkan sekali. Dua pasukan bertarung, saling bermusuhan dalam agama. Pihak pertama pasukan yang berjuang dijalan Allah Azza wa Jalla, dengan kekuatan 3000 orang. Dan pihak lainnya, pasukan kafir yang berjumlah 200 ribu pasukan. 100 ribu orang dari Romawi dan 100 ribu orang dari Nashara Arab. Mereka saling bertarung dan menyerang. Meski demikian sengitnya, hanya 12 orang yang terbunuh dari pasukan kaum muslimin. Padahal, jumlah korban tewas dari kaum musyirikin sangat banyak”.<ref>Lihat [[al-Bidayah wan Nihayah]] (4/214)</ref>
 
Allah Azza wa Jalla berfirman: {{cquote|''Orang-orang yang menyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah? Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Al-Baqarah 2:249)}}
 
Para ulama sejarah tidak bersepakat pada satu kata mengenai jumlah syuhada Mu’tah. Namun, yang jelas jumlah mereka tidak banyak. Hanya berkisar pada angka belasan, menurut hitungan yang terbanyak. Padahal, peperangan Mu’tah sangat sengit. Ini dapat dibuktikan bahwa Khalid bin Walid rahimahullah menghabiskan 9 pucuk pedang dalam perang tersebut. Hanya satu pedang yang tersisa, hasil buatan Yaman.
Khalid rahimahullah berkata, “Telah patah Sembilan pedang ditanganku, tidak tersisa kecuali pedang buatan Yaman.<ref>Hadits riwayat Imama Bukhari 4265-4266.</ref>
 
Menurut Imam Ibnu Ishaq seorang Imam dalam ilmu sejarah Islam, syuhada perang Mu’tah hanya berjumlah 8 Sahabat saja. Secara terperinci yaitu Ja’far bin Abi Thalib, dan anakmantan angkatbudak Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam Zaid bin Haritsah al-Kalbi, Mas’ud bin al-Aswad bin Haritsah bin Nadhlah al-‘Adawi, [[Wahb bin Sa'ad|Wahb bin Sa'adSa’d bin Abi Sarh]] radhiyallahu ‘anhum.
 
Sementara dari kalangan kaum anshar, ‘Abdullah bin Rawahah, ‘Abbad bin Qais al-Khozarjayyan, al-Harits bin an-Nu’man bin Isaf bin Nadhlah an-Najjari, Suraqah bin ‘Amr bin Athiyyah bin Khansa al-Mazini radhiyallahu ‘anhum.
 
Di sisi lain, Imam Ibnu Hisyam rahimahullah dengan berlandaskan keterangan az-Zuhri rahimahullah, menambahkan empat nama dalam deretan Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang gugur di medan perang Mu’tah. Yakni, Abu Kulaib dan Jabir. Dua orang ini saudara sekandung. Ditambah ‘Amr bin ‘Amir putra Sa’d bin Tsa’labah binbi Malik bin Afsha. Mereka juga berasal dari kaum anshar. Dengan ini, jumlah syuhada bertambah menjadi 12 jiwa.<ref>Menurut penulis as-Sirah ash-Shahihah (hal.468) jumlah Sahabat yang gugur 13 orang.</ref>
 
== Referensi ==
10.721

suntingan