Masjid Sultan Ternate: Perbedaan revisi

90 bita ditambahkan ,  2 bulan yang lalu
Tag: Suntingan visualeditor-wikitext
Tag: Suntingan visualeditor-wikitext
Salah satu tradisi yang setiap tahun diadakan di '''Masjid Sultan Ternate''' adalah ''Malam Qunut'' yang jatuh setiap malam ke-16 bulan Ramadhan. Dalam tradisi ini, sultan dan para kerabatnya dibantu oleh ''Bobato Akhirat'' (dewan keagamaan kesultanan) mengadakan ritual khusus yaitu ''Kolano Uci Sabea'', yang berarti turunnya sultan ke masjid untuk salat dan berdoa.
 
Kolano Uci Sibea biasanya dimulai dari kedaton menuju masjid untuk melaksanakan [[salat Tarawih]]. Sekitar pukul setengah delapan waktu setempat, sultan akan ditandu oleh pasukan kerajaan menuju masjid dan diiringi alunan alat musik [[Totobuang]] (semacan gamelan) yang ditabuh oleh sekitar dua belas anak kecil yang mengenakan pakaian adat lengkap di depan tandu sultan. Konon, alat musik ini merupakan pemberian [[Maulana Malik Ibrahim]] (Sunan Gresik) ketika salah seorang Sultan Ternate berguru kepadanya. Sebelum salat Tarawih dilakukan, para muadzin yang terdiri dari empat orang, mengumandangkan adzan secara bersama-sama. Menurut sebagian orang, ini untuk mengingatkan masyarakat Ternate tentang empat ''Soa'' (kelurahan pertama) di daerah [[Ternate]]. Empat Soa ini yaitu Soa Heku (Kelurahan [[Dufa-Dufa, Ternate Utara, Ternate|Dufa-Dufa]]), Soa Cim (Kelurahan Makassar), Soa Langgar (Kelurahan Koloncucu), dan Soa Mesjid sultan sendiri. Namun, ada juga yang percaya bahwa pengumandangan adzan oleh empat muadzin tersebut melambangkan empat kerajaan terkuat yang masih saling bersaudara di kawasan Maluku Utara, yaitu [[Ternate]], [[Tidore]], [[Bacan]], dan [[Jailolo]]. Keempat kerajaan ini dalam kepercayaan masyarakat setempat biasa disebut ''Moloku Kie Raha'' (pemangku empat gunung atau kerajaan).
 
Sebelum salat Tarawih dilakukan, para muadzin yang terdiri dari empat orang, mengumandangkan adzan secara bersama-sama. Menurut sebagian orang, ini untuk mengingatkan masyarakat Ternate tentang empat ''Soa'' (kelurahan pertama) di daerah [[Ternate]]. Empat Soa ini yaitu Soa Heku (Kelurahan [[Dufa-Dufa, Ternate Utara, Ternate|Dufa-Dufa]]), Soa Cim (Kelurahan Makassar), Soa Langgar (Kelurahan Koloncucu), dan Soa Mesjid sultan sendiri. Namun, ada juga yang percaya bahwa pengumandangan adzan oleh empat muadzin tersebut melambangkan empat kerajaan terkuat yang masih saling bersaudara di kawasan Maluku Utara, yaitu [[Ternate]], [[Tidore]], [[Bacan]], dan [[Jailolo]]. Keempat kerajaan ini dalam kepercayaan masyarakat setempat biasa disebut ''Moloku Kie Raha'' (pemangku empat gunung atau kerajaan).
 
[[Berkas:Mimbar_Masjid_Sultan_Ternate.jpg|jmpl|250px|ki|Mimbar Masjid Sultan Ternate]]
 
Usai melaksanakan Tarawih, sultan akan pulang ke kedaton dengan ditandu kembali seperti ketika keberangkatannya ke masjid. Di kedaton sultan bersama permaisuri (''Boki'') akan memanjatkan doa di ruangan khusus, tepatnya di atas makam keramat leluhur. Usai berdoa, sultan dan permaisuri akan menerima rakyatnya untuk bertemu, bersalaman, bahkan menciumi kaki sultan dan permaisuri sebagai tanda kesetiaan. Tentu saja, pertemuan langsung antara sultan dan rakyatnya ini menarik minat masyarakat di seluruh Ternate dan pulau-pulau di sekitarnya.