Ismail dari Siak: Perbedaan antara revisi

Tidak ada perubahan ukuran ,  1 tahun yang lalu
k
v2.04b - Fixed using Wikipedia:ProyekWiki Cek Wikipedia (Tanda baca setelah kode "<nowiki></ref></nowiki>")
Tidak ada ringkasan suntingan
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler
k (v2.04b - Fixed using Wikipedia:ProyekWiki Cek Wikipedia (Tanda baca setelah kode "<nowiki></ref></nowiki>"))
 
== Turun Tahta dan Berkelana ==
Sultan Ismail menyerahkan tahta kepada pamannya Tengku Alam, karena wasiat ayahandanya sebelum wafat yang berbunyi: ''Janganlah tunduk kepada Belanda yang kafir dan penjajah itu. Dan janganlah melakukan perang terhadap saudara, apalagi keluarga sendiri. Serta apabila pamanmu Raja Alamuddin datang ke negeri Siak, serahkanlah tahta kerajaan Siak ini kepada pamanmu Raja Alamuddin''.<ref>OK. Nizami Jamil dkk (2001), ''Sejarah Kerajaan Siak'', CV. Sukabina Pekanbaru terbitan LAM Kab. Siak.</ref>. Kemudian Sultan Ismail memilih untuk berkelana di lautan.<ref>Cave, J., Nicholl, R., Thomas, P. L., Effendy, T., (1989), ''Syair Perang Siak: a court poem presenting the state policy of a Minangkabau Malay royal family in exile'', MBRAS. A. Flicher, Les Etats princiers des Indes néerlandaises, Dreux 2009</ref> Pada tahun 1761, Sultan Ismail pergi ke Siantan dan disini ia memperoleh dukungan dari [[Orang Laut]]. Setelah memiliki kekuatan serta dukungan Orang Laut, ia mengontrol perdagangan timah di [[Pulau Bangka]] dan menyerang [[Kesultanan Mempawah]] di [[Kalimantan Barat]]. Tindak-tanduknya di lautan tersebut membuat perdagangan Belanda menjadi kacau dan merugi. Makanya, Belanda tidak mengabulkan permintaan Sultan Ismail yang hendak merebut tahta Siak tahun 1768.<ref name="Muchtar Lutfi 1999"/>.
 
== Mengklaim Tahta Kembali ==
1.111.537

suntingan