Candi Jago: Perbedaan antara revisi

7 bita dihapus ,  1 tahun yang lalu
k
v2.04b - Fixed using Wikipedia:ProyekWiki Cek Wikipedia (Tanda baca setelah kode "<nowiki></ref></nowiki>" - Kesalahan pranala pipa)
(Rescuing 0 sources and tagging 1 as dead.) #IABot (v2.0.8)
k (v2.04b - Fixed using Wikipedia:ProyekWiki Cek Wikipedia (Tanda baca setelah kode "<nowiki></ref></nowiki>" - Kesalahan pranala pipa))
 
== Struktur Candi Jago ==
Arsitektur Candi Jago disusun seperti teras [[punden berundak]]. Keseluruhannya memiliki panjang 23,71 m, lebar 14 m, dan tinggi 9,97 m. Bangunan Candi Jago tampak sudah tidak utuh lagi; yang tertinggal pada Candi Jago hanyalah bagian kaki dan sebagian kecil badan candi. Badan candi disangga oleh tiga buah teras. Bagian depan teras menjorok dan badan candi terletak di bagian teras ke tiga. Atap dan sebagian badan candi telah terbuka. Secara pasti bentuk atap belum diketahui, namun ada dugaan bahwa bentuk atap Candi Jago menyerupai Meru atau [[Pagoda|Pagoda.]].
 
Pada dinding luar kaki candi dipahatkan relief-relief cerita ''Khresnayana, Parthayana, Arjunawiwaha, Kunjarakharna, Anglingdharma'', serta cerita fabel. Untuk mengikuti urutan cerita relief Candi Jago kita berjalan mengelilingi candi searah putaran jarum jam (''pradaksiana'').
Candi jago pertama kali dipublikasikan oleh [[Thomas Stamford Raffles|Stamford Raffles]] dalam sebuah buku yang diterbitkan nya yang berjudul History of Java (1917), namun siapa yang menemukan nya pertama kali masih belum diketahui. Sebelumnya candi ini juga pernah diteliti oleh R.H.T Friederich (1854), J.F.G Brumund (1855), Fergusson (1876), dan Veth (1878). J.L.A Brandes kemudian melakukan penelitian dan menerbitkan buku yang berjudul Jago Monografi (1904)<ref>{{Cite book|url=https://www.worldcat.org/oclc/886882212|title=Candi Indonesia|last=Sedyawati, Edi, 1938-|others=Latief, Feri,, Indonesia. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman,|isbn=9786021766934|edition=Cetakan pertama|location=[Jakarta]|oclc=886882212}}</ref>
 
Yang perlu dicermati dalam sejarah Candi Jago adalah adanya kebiasaan raja-raja zaman dahulu untuk memugar(memperbaiki) candi-candi yang didirikan oleh raja-raja sebelumnya. Candi Jago juga telah mengalami pemugaran pada tahun 1343 M atas perintah Raja Adityawarman dari Melayu yang masih memiliki hubungan darah dengan Raja Hayam Wuruk.<ref>http://candi.perpusnas.go.id/temples/deskripsi-jawa_timur-candi_jago. Diakses tanggal 3 Mei 2017</ref>.
 
Adityawarman pun mendirikan candi tambahan dan menempatkan Arca Manjusri.<ref>Brandes, J.L.A., (1904), ''Beschrijving van de ruïne bij de desa Toempang, genaamd Tjandi Djago in de Residentie Pasoeroean'', 's-Gravenhage-Batavia, Nijhoff/Albrecht.</ref>.
 
== Referensi ==
1.111.365

suntingan